Saya bukan tipe orang tua yang membelikan mainan untuk anak-anak setiap kali diminta. Biasanya, saya menjatah mereka sekali dua bulan. Itu pun bukan ke toko mainan mahal, melainkan ke toko yang relatif terjangkau, tempat yang, secara logika, seharusnya masih “aman” untuk dompet. Ritualnya hampir selalu sama. Anak-anak berkeliling dulu, memegang ini-itu, lalu berdiskusi kecil. Saya dan suami mengamati dari belakang, sesekali memberi pertimbangan lebih baik pilih yang ini atau yang itu. Setelah itu, kami menerapkan batas, entah lewat nominal rupiah, entah lewat jumlah maksimal jenis mainan yang boleh dibeli. Dan tentu saja, ada kalanya kami pernah… mengalah.
Sampai akhirnya kami berdiri di depan kasir. Satu anak memilih mainan seharga dua ratus ribuan. Anak kedua kurang lebih sama. Anak ketiga juga. Dan angka di mesin kasir pelan-pelan mendekati satu juta rupiah. Setiap pulang, saya selalu punya pertanyaan sama. Kenapa sih harga mainan anak sekarang makin mahal-mahal?
Anak saya perasaan nggak minta mainan aneh-aneh deh. Saya juga bukan ibu yang pelit. Toko tempat belinya juga bukan yang eksklusif. Apakah memang harga mainan anak sekarang yang melonjak jauh dibanding dua puluh tahun lalu? Atau jangan-jangan, yang berubah bukan cuma harga, tapi juga cara kita memahami konsep bermain itu sendiri? Karena dulu, banyak dari kita bermain tanpa harus membeli terlalu banyak alat. Sekarang, bermain sering terasa seperti aktivitas yang harus di-checkout.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan mainan anak hari ini? Dan sebagai orang tua, bagaimana kita bisa tetap memberi ruang bermain yang kaya, tanpa merasa terus-menerus dikejar rak toko?
Mengapa Mainan Anak Terasa Makin Mahal?
Coba kita bahas dulu inflasi umum. Data indeks harga konsumen (CPI) Indonesia naik dari 32,45 (Januari 2000) menjadi 133,49 (April 2025). Itu artinya, harga-harga rata-rata di Indonesia naik sekitar 4,11 kali dalam periode itu. Kalau dibikin angka rata-rata per tahun, kenaikannya kira-kira kurang lebih 5,8% per tahun (compound). Ini bukan angka mainan ya, tapi angka harga-harga secara umum.
Sederhananya, kalau ada mainan yang dulu harganya Rp50 ribu lalu sekarang Rp200 ribu, secara inflasi umum itu “masih masuk akal” karena 50 ribu dikalikan 4,1 kali, itu Rp205 ribu. Tapi… masalahnya, mainan yang kita beli sekarang banyak yang bukan sekadar “barang plastik sederhana”. Banyak yang branded (ada lisensi), impor, masuk jalur ritel modern, pakai standar keamanan + sertifikasi, kemasannya makin keren, dan sering banget “menjual pengalaman” ke anak, seperti unboxing, koleksi seri, limited edition, dan lainnya.
Nah, di sinilah mainan bisa naik lebih cepat dari 4,1 kali.
Mainan Lokal vs Mainan Impor
Next, kita bedain dulu, mainan lokal vs mainan impor. Mainan lokal buatan UMKM atau pabrikan lokal kita, biasanya kenaikannya lebih dekat ke inflasi umum, sekitar 4x dari 2000–2025, karena bahan baku dan upah ikut inflasi domestik, distribusi lebih pendek, tidak terlalu kena kurs dolar AS walau bahan baku tertentu tetap impor. Mainan-mainan lokal ini tetap bisa naik karena biaya sewa toko/space ritel, packaging, dan standar keamanan (kalau masuk retail modern).
Berikutnya, mainan impor yang punya brand global, linsensi, dan sebagainya. Ini yang sering bikin kaget dompet kita sebagai orang tua. Sebab yang namanya mainan impor kena kurs. Ada data kurs USD/IDR (end of period) yang menunjukkan bahwa pada Januari 2000, itu kurs dolar AS ada di posisi Rp7.425 per dolar AS, kemudian Desember 2023 Rp15.416 per dolar AS. Itu artinya rupiah melemah sekitar 2,08 kali terhadap dolar AS dalam rentang panjang tersebut.
Efeknya, kalau harga mainan di luar negeri “tetap” dalam USD, pas sampai Indonesia, rupiahnya tetap naik gara-gara kurs tadi. Dan ini belum termasuk inflasi di negara produsen, ongkir kontainer, margin distributor/ritel, sertifikasi, pajak dan biaya administrasi. Makanya, untuk mainan impor, kenaikannya bisa lebih dari inflasi umum.
Harga mainan anak juga bisa naik mendadak di titik-titik tertentu. Walau tren jangka panjangnya naik pelan, realitanya kenaikan harga sering terasa “meledak” di tahun-tahun tertentu. Tahun 2005, CPI Indonesia melonjak cukup tajam yang juag berdampak ke mainan anak dan semua harga barang. Periode 2021–2022, dunia kena masalah logistik dan freight rate karena pandemi, yang berdampak ke barang impor, termasuk mainan.
Dalam bahasa rumah tangga, kita bukan cuma menghadapi kenaikan harga mainan anak, tapi rantai biaya yang naik bareng, mulai dari bahan baku, pabrik, kontainer, pelabuhan, gudang, sampai ritel. Belum lagi tambahan faktor yang sering luput, yaitu standar keamanan (SNI). Itu kan biaya juga.
Ini bagian yang jarang dibahas di obrolan ibu-ibu, padahal pengaruhnya real loh. Indonesia memberlakukan SNI mainan anak secara wajib lewat regulasi Kementerian Perindustrian (perubahan-perubahannya tercatat, misalnya Permenperin No. 29 Tahun 2018 yang merupakan perubahan atas aturan SNI mainan wajib). Lalu Kemendag juga berulang kali menegaskan pelaku usaha mainan wajib patuhi SNI untuk mutu dan keamanan. SNI ini bagus untuk keselamatan anak, tapi konsekuensinya pihak produsen harus melakukan uji lab, sertifikasi, administrasi, compliance di impor dan distribusi, dan… itu semua biaya. Biaya ini biasanya “menempel” ke harga jual.
Ketika kita merasa “kok mainan anak sekarang mahal padahal kecil?” Itu bisa jadi yang kita bayar bukan cuma plastiknya, tapi juga sistem agar mainan itu legal, aman, dan bisa masuk retail.
Rata-rata Kenaikan Harga Mainan Anak Itu Berapa?
Karena yang ada cuma indeks harga konsumen, tidak ada indeks harga mainan, cara paling masuk akal untuk mengetahuinya adalah kita estimasi saja. Mainan rata-rata naik mengikuti inflasi umum, 4,1x dari 2000 ke 2025, setara 5,8% per tahun (rata-rata majemuk). Ini cocok untuk kategori mainan lokal sederhana, mainan generik, mainan yang “fungsi utamanya sama” dari dulu.
Untuk mainan impor, selain inflasi domestik, ada faktor kurs. Dalam praktik ritel, mainan impor yang branded sering naik mengikuti siklus kurs, logistik, dan strategi brand. Kenaikannya bisa terasa lebih cepat dari CPI. Kalau mainan lokal kira-kira naiknya 4-5 kali dalam dua dekade, mainan impor bisa 5-8 kali tergantung tergantung kategori, lisensi, dan periode lonjakan kurs/logistik.
Pikir Ulang Konsep “Mainan Anak”
Mainan anak sekarang bukan cuma “alat bermain” tapi sering diposisikan sebagai identitas (anak suka karakter X, harus punya barang X), koleksi (seri A, seri B, limited), konten (unboxing, review, “racun” video), solusi instan (biar anak anteng / biar anak belajar cepat). Akhirnya, mainan yang laku adalah mainan yang terlihat smart (STEM! sensory! Montessori-ish!), mainan yang kelihatan worth it, bahkan punya klaim mendukung tumbuhkembang anak. Padahal mah ya, tumbuh kembang anak logikanya nggak bisa dibeli per set mainan. Mana nyambung!!!
Bermain itu intinya tiga hal. Pertama, imajinasi, di mana anak mencipta skenario. Kedua, aturan, di mana anak belajar gantian bermain dan sebab-akibat. Ketiga, sensori dan motorik, yang membuat tubuh dan tangan anak bekerja serta bergerak bersamaan. Mainan mahal sering cuma “membungkus” tiga hal tersebut dalam bentuk produk. Padahal, ketiga hal itu bisa hidup dengan alat murah, bahkan tanpa beli.
Contoh “konsep bermain anak” yang murah tapi memenuhi tiga inti bermain:
* Kardus bekas, bisa jadi toko-tokoan, garasi mobil-mobilan, rumah boneka, panggung teater.
* Selotip kertas warna-warni dan spidol, bisa bikin “jalan raya” di lantai, lengkap dengan lampu merah dan parkiran.
* Wadah plastik, sendok, beras/kacang bisa jadi sensory bin.
* Kertas lipat, bisa bikin pesawat, topi, dompet, dan materi origami lainnya.
* Belum lagi permainan peran, seperti jadi dokter, damkar, guru, semua pakai barang yang ada di rumah.
Kalau mainan itu alat musik, “bermain” itu konsernya. Logikanya, kita nggak perlu beli alat musik baru tiap konser, kan?
Tips Praktis Tetap Waras Saat Beli Mainan Anak
Ini yang aku terapin sendiri ya, bukan teori. Pertama, mindset “beli mainan” diganti sama “beli kategori mainan.” Misalnya nih, bulan Januari, anak-anak beli mainan yang konsepnya konstruksi, entah itu balok, lego alternatif, magnet tile. Bulan Maret, mereka beli mainan kategori role play, misalnya alat masak mini, set dokter. Bulan April, mereka beli mainan seni, misalnya cat air, krayon bagus, kertas berbagai tekstur. Juni, mereka beli mainan yang bisa dipakai outdoor, misalnya bola, skipping, frisbee. Dengan begitu, tiap mainan punya umur pakai lebih panjang karena membuka tipe bermain baru. Seringnya sih aku mendadak aja ke toko mainan sendiri dan beliin semua ini buat mereka. Pas dibawa ke rumah, udah deh, mereka tinggal pakai aja.
Ya… sesekali mereka komplain kok, “Kok ibun nggak ngajak-ngajak kita milih mainan sih?” Ya aku tinggal jawab aja, ngeles dikit, “yang penting kan udah ibun beliin mainan.” Sebab anak-anakku masih di bawah 10 tahun, mereka manut-manut aja sih. Apalagi emang mamanya tipe mamasaurus. Hahahaha.
Kedua, terapkan aturan tiga lapis sebelum check-out. Sebelum beli mainan, ajak anak jawab singkat aja begitu dia sudah pilih mainan. Misalnya, mainan ini bisa dimainin berapa cara? Usahakan mainan yang bisa dipakai dengan gaya bermainan lebih dari satu, supaya anak nggak cepat bosa. Trus, mainannya bisa dimainin bareng nggak? Kakak sama adek bisa main bareng. Mainannya awet nggak? Misalnya bisa dipakai minimal seminggu ke depan, bukan cuma mainan yang dibeli sekali dan langsung dipakai sehari sudah selesai. Kalau semua memenuhi, GAS!!!
Ketiga, buat sistem rotasi mainan. Setelah anak bermain, simpan mainan-mainannya yang masih bisa disimpan dalam box mainan. Rotasi mainnya setiap dua pekan. Anak akan merasa nemu harta karun ketiga buka box tersebut karena mereka bisa mainin lagi mainan lamanya.
Keempat, kalau punya 2-3 anak seperti aku, coba juga sesekali strategi beli satu mainan yang bisa dimainin satu keluarga. Dari pada beli Rp250 ribu dikalikan untuk tiga anak, kenapa nggak beli mainan harga Rp500-700 ribu untuk mainan yang bisa dipakai bareng-bareng dan awet? Namanya aset bersama.
Iya, secara objektif, mainan anak emang makin mahal. Tapi di saat yang sama, yang bikin anak puas bermain itu sebetulnya bukan tools mainannya, tapi ketika mereka diberi ruang untuk berimajinasi dan yang nggak kalah penting adalah mereka punya TEMAN BERMAIN. Ketika anak punya teman bermain, entah itu orang tuanya, kakaknya, adiknya, neneknya, mainan apa pun bisa jadi menyenangkan di mata anak. Ya kan?


