Kericuhan di Acara Diskusi UGM: Mahasiswa Tuntut Transparansi dan Tanggung Jawab

Sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggeruduk acara diskusi yang berlangsung di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK). Acara ini dihadiri oleh beberapa pejabat pemerintah, termasuk Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Dalam video yang beredar, terlihat mahasiswa meneriaki “revolusi” dan melakukan tindakan menggebrak mobil.
Awalnya, acara berjalan lancar dengan para narasumber menyampaikan materi di atas panggung. Namun, ketika Budiman Sudjatmiko membahas eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, sejumlah mahasiswa langsung naik ke panggung. Mereka membentangkan spanduk dengan tulisan seperti “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”. Teriakan “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran” juga terdengar berkali-kali.
Pelemparan gelas air mineral terjadi saat situasi memanas. Ketiga pejabat tersebut akhirnya dievakuasi keluar dari lokasi. Namun, mahasiswa telah mengadang di sekitar mobil mereka. Di luar, Nusron dan Sudaryono menemui mahasiswa, sementara Budiman tidak tampak.
“Mana Budiman!?” teriak mahasiswa. Nusron dan Sudaryono sempat berdebat dengan mahasiswa. Salah satu topik yang dibahas adalah ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dialihfungsikan, sehingga masyarakat tergusur. Seorang mahasiswa bertanya, “Ratusan ribu hektare habis. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak kan?”
Nusron merespons dengan mengajak mahasiswa ke Papua. Namun, hal ini tidak membuat mahasiswa puas. “Sekarang gini, Mas, kalau Anda mengatakan saya menggusur Papua, kapan kamu mau ajak ke sana (Papua),” ujar Nusron. Akhirnya, Nusron dan Sudaryono beranjak dan sempat terjadi kejar-kejaran. Rombongan mereka dievakuasi meninggalkan lokasi dengan mobil patwal.
Pernyataan Ketua Serikat Mahasiswa UGM
Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Mesa, menyampaikan bahwa para narasumber diskusi ini tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat. “Selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut Mesa, Budiman Sudjatmiko merupakan simbol pengkhianat. Ia mengatakan, Budiman dulunya adalah inspirasi, namun kini justru mengkhianati adik-adiknya. “Persetan bicara bahwa pengentasan kemiskinan itu baik ketika orang-orang miskin justru dibunuh secara struktur, orang-orang miskin dibunuh secara ekonomi, dan orang-orang miskin justru dianggap dan diakui ketika per harinya hanya memiliki Rp 20 ribu.”
Soal gesekan yang terjadi, Mesa mengatakan karena para pejabat disebut banyak berbohong. “Mereka justru mengatakan kepada kami di depan UGM sana, jika ingin berbicara Papua, mari jadi volunteer. Bukan itu jawabannya. Mereka punya kekuasaan, mereka punya tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan itu, bukan kita sebagai rakyat.”
Ia juga menjelaskan bahwa aksi kejar-kejaran terjadi karena para pejabat menghindari mahasiswa. “Kami tidak akan mengejar-ngejar mereka seandainya mereka menjawab satu pertanyaan sederhana saya, apakah mereka merasa bersalah? Tidak. Mereka justru memberikan pertanyaan balik dan juga secara eksplisit merasa tidak bersalah.”
Mesa menegaskan bahwa keributan yang terjadi adalah hal yang wajar dalam berdemokrasi. “Mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah.”
Tanggapan Sudaryono
Sudaryono memberikan klarifikasi terkait insiden yang terjadi. Ia mengaku datang bersama narasumber lain membawa niat untuk berdialog terbuka dan demokratis dengan mahasiswa. “Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini,” katanya dalam keterangan tertulisnya.
Sudaryono menjelaskan bahwa dirinya dan narasumber lain membuka ruang dialog terhadap pertanyaan maupun kritik mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. “Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah,” ujarnya.
Ia mengatakan, di tengah forum, ada sekelompok peserta yang tak ingin diskusi dilanjutkan. Situasi menurutnya jadi tidak kondusif. “Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog.”
Sudaryono mengakui bahwa ia merasa ada yang memukulnya dan ada pelemparan air. “Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar.” Ia menegaskan bahwa tuduhan kabur tidak tepat. “Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog.”
Respons Nusron
Nusron Wahid mengaku datang ke acara tersebut untuk berdialog dengan siapa saja dan dengan topik apa pun. “Kami dari pemerintah sudah menyiapkan diri untuk memang siap untuk di-bully, siap untuk dicaci maki di hadapan siapa pun karena itu konsekuensi dari jabatan,” kata Nusron.
Namun, Nusron menyebut, rupanya pada malam itu ada sekelompok orang yang tidak siap berdialog. “Rupa-rupanya pada malam ini takdir berkata lain. Ada sekelompok orang yang ademokratis. Yang tidak siap berdialog, yang tidak siap berdemokrasi, dan tidak siap untuk menerima dialog pemikiran yang memaksakan kehendak dan mengedepankan kekerasan,” ungkap Nusron dalam sebuah video.
Ia menyayangkan peristiwa semalam. Forum seharusnya berjalan baik seperti kampus-kampus lain. “Tidak ada motivasi mengebiri, tapi kita justru siap dikritik. Kalau ada yang salah kita siap mengoreksi. Kalau ada masukan kita tindaklanjuti. Tapi ternyata digagalkan oleh sekelompok orang tertentu,” tutur dia.
Nusron mengajak semua pihak untuk menegakkan demokrasi dengan cara yang berkeadaban. “Karena itu ruang diskusi dan ruang untuk berdebat di berbagai forum apa pun tidak boleh ditutup dan tidak boleh monolog dengan menciptakan opini tunggal dari kelompok-kelompok tertentu,” ujarnya.