Lorong Bawah Tanah Blok M Square: Surga Musik Klasik

Posted on

Suasana di Basement Blok M Square

Di basement Blok M Square, Jakarta Selatan, waktu terasa berjalan lebih lambat. Lampu neon putih memantulkan cahaya pada lantai keramik yang bersih. Di sepanjang lorong, kios-kios kecil berjejer rapat, dengan sedikitnya 20 kios yang penuh dengan tumpukan kaset, CD, dan vinyl yang menjulang tinggi.

Di tempat ini, salah satu pusat peradaban musik fisik di Jakarta masih bertahan. Meskipun era digital seperti Spotify, YouTube, dan SoundCloud semakin mendominasi, pasar musik bawah tanah ini tidak pernah benar-benar mati. Justru hidup dari ingatan lama, rasa penasaran anak muda, dan budaya koleksi yang tak tergantikan oleh algoritma.

Tumpukan Kaset dan Vinyl yang Tak Pernah Berhenti

Di salah satu sudut lorong, kios “Kedai Musik” milik Andri (39) menarik perhatian. Rak-rak besi hitam penuh sesak oleh kepingan CD yang ditumpuk hingga setinggi dada orang dewasa. Vinyl dibungkus plastik rapi dan dijejerkan dalam krat kayu, sementara kardus besar masih berserakan di depan pintu.

Meski kios itu tidak lebih besar dari ruang ganti butik kecil, suasana di dalamnya seperti museum mini yang padat, penuh, gelap, dan hidup. Setiap pengunjung harus berjalan sambil sedikit memiringkan badan agar tidak menyenggol tumpukan album.

Andri sudah 11 tahun menjaga kiosnya di tengah lorong berdinding musik ini. Ia mengatakan bahwa musik fisik bukan sekadar komoditas, melainkan budaya. Kolektor selalu membutuhkan barang yang bisa disentuh.

Dari Penggemar 90-an Hingga Gen Z

Di antara tumpukan yang menua bersama debu, tren tetap berubah. Namun satu hal yang tetap stabil adalah musik 90-an yang masih menjadi primadona. Band-band seperti Oasis, Blur, Radiohead, dan The Cure tetap dicari.

Namun, geliat baru datang dari generasi muda. Andri melihat bagaimana Gen Z yang lahir ketika kaset hampir punah datang ke lapaknya. Bahkan band-band seperti Hindia dan Barefood memiliki pasar baru dari anak-anak sekolah.

Tidak semua pembeli benar-benar kolektor. Ada yang beli karena gaya atau ikut tren. Beberapa bahkan hanya membeli kaset atau CD tanpa memiliki player.

Berburu Barang Langka dan Dunia “Jeruk Makan Jeruk”

Tidak ada distributor resmi untuk kaset dan CD lawas. Andri hidup dari perburuan acak. Kadang ia mencari dari toko sebelah, kadang dari pedagang online, atau dari orang yang keliling mencari barang antik.

Ia juga pernah mendapatkan barang langka rilisan Indonesia yang jumlahnya terbatas. Harga bervariasi, mulai dari Rp25.000 untuk kaset kompilasi hingga jutaan untuk rilisan langka.

Demam Vinyl dan Generasi Baru

Di tempat ini juga lahir generasi baru pencinta rilisan fisik. Salah satunya adalah Raka (24), pemburu vinyl yang mulai menekuni hobinya beberapa tahun terakhir. Bagi Raka, musik fisik adalah gaya hidup baru yang membuat aktivitas mendengarkan musik terasa lebih sakral dan intim.

Raka mulai mengoleksi sejak akhir 2020, awal masa pandemi. Waktu di rumah membuatnya bosan dengan playlist streaming yang itu-itu aja. Lalu ia tertarik melihat teman-temannya di Instagram yang mulai upload vinyl dan setup turntable.

Warisan Masa Lalu

Seorang pria paruh baya tampak serius membolak-balik kaset pita yang tersimpan dalam laci-laci kayu. Gerakannya pelan, seperti sedang menelusuri memori lama. Dialah Hendro (57), kolektor yang sudah lebih dari tiga dekade setia mengumpulkan musik fisik.

Bagi banyak orang, kaset mungkin hanya benda kuno, tapi bagi Hendro, kaset adalah bagian dari hidup. Ia mulai mengoleksi sejak tahun 1987, saat ia baru saja bekerja dan punya penghasilan sendiri. Kini, puluhan tahun setelah era itu berlalu, ia masih kembali ke tempat-tempat seperti Blok M Square untuk mencari rilisan yang hilang atau sekadar menambah koleksi.

Hendro bukan tipe kolektor yang hanya mencari di satu tempat. Ia pernah berburu ke berbagai kota, mengikuti intuisi dan informasi dari sesama penggemar. Namun, koleksi paling berharganya bukan dari perjalanan jauh, melainkan dari masa ketika ia baru memulai hidup sebagai pekerja.