Banjir dan Longsor di Wilayah Sumatera Selatan Mengancam Kewaspadaan
Banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh beberapa hari terakhir telah memicu kewaspadaan di Sumatera Selatan (Sumsel). Lubuklinggau dan OKU menjadi fokus utama karena adanya kerawanan banjir kiriman. BPBD Sumsel sedang bersiap untuk menaikkan status Siaga Darurat menghadapi puncak hujan pada Februari 2026.
BMKG dan WALHI memberikan peringatan tentang potensi curah hujan tinggi dan menilai peningkatan bencana sebagai bencana ekologis. Hal ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah setempat.
Pengalaman Traumatis Warga OKU
Abdullah, seorang warga RT 12, RW 04, Kelurahan Sekar Jaya, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten OKU, mengungkapkan pengalamannya yang traumatis akibat banjir yang menghantam rumahnya. Meskipun tidak separah di Padang, Medan, dan Aceh, kejadian tersebut tetap meninggalkan kesan mendalam.
Untuk menghindari terulangnya kejadian serupa, Abdullah kini berusaha mengamankan barang-barang berharga seperti dokumen penting, kendaraan, ijazah, dan lainnya. Ia juga menyadari bahwa loteng rumah yang cukup tinggi bisa menjadi solusi sementara.
Menurut Abdullah, banjir musiman tidak terduga. Jika hujan dengan intensitas tinggi dan durasi antara 2-4 jam, potensi banjir cukup besar. Ia mengaku kesulitan dalam mengamankan alat-alat furniture yang rawan air, seperti kursi, meja, lemari, dan dipan.
Titik Rawan Banjir di Baturaja Timur
Camat Baturaja Timur, Doni Heridadi SSTP MSi, menjelaskan beberapa titik rawan banjir di wilayahnya, termasuk Jalan Pancur Desa Tanjung Baru, depan kantor KUA Kelurahan Sukaraya, Dekat Jembatan Ogan 4 Tanjung Baru, Desa Terusan, Kelurahan Kemelak Bindung Langir, Kelurahan Speancar Lwang Kulon, Seputaran Akper Baturaja, Kompek Helindo Baturaja Permai, dan Komplek RSS Sriwijaya.
Camat mengimbau masyarakat untuk menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya agar tidak menyumbat saluran-saluran air dan berdampak banjir saat musim hujan.
Pemetaan Daerah Rawan Banjir oleh BPBD OKU
Bupati OKU, H Teddy Meilwasnysah SSTP MM MPd, menegaskan bahwa sudah membentuk tim Satgas bersama BPBD untuk mengantisipasi musibah banjir. Bersama Kalaksa BPBD OKU, Januar Effendy M Ikom, dilakukan pemetaan daerah-daerah rawan banjir di Kabupaten OKU.
Alat pendeteksi banjir bernama Level Gauge BPBD OKU dapat diakses umum. Alat ini dipasang untuk memberikan peringatan dini potensi banjir. Masyarakat khususnya yang bermukim di bantaran sungai diminta untuk sering-sering mengakses Level Gauge BPBD OKU.
Alat ini berfungsi untuk memantau Tinggi Muka Air (TMA) dan dipasang di dua titik aliran Sungai Ogan, yaitu di Kecamatan Ulu Ogan dan Pengandonan. Dengan berfungsinya alat ini, masyarakat diharapkan lebih siap siaga dalam menghadapi indikasi banjir.
Status Siaga Darurat dari BPBD Sumsel
BPBD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan segera menaikkan status siaga darurat bencana banjir dan longsor. Kebijakan ini diambil menyusul intensitas hujan yang mulai meningkat di sebagian besar wilayah Sumsel sejak November.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menjelaskan bahwa penetapan status siaga darurat akan dilakukan setelah minimal dua kabupaten/kota menetapkan status yang sama. Saat ini, OKU telah menetapkan status siaga darurat, sementara Prabumulih masih dalam proses finalisasi.
Prediksi BMKG dan Peringatan Dini
BMKG memprediksi bahwa musim hujan akan mencapai puncaknya pada Februari 2026 dan mulai menurun pada Maret. Saat ini hujan telah merata di seluruh kabupaten/kota, meski intensitasnya berbeda-beda. Selain 11 kabupaten/kota yang dikategorikan rawan banjir dan longsor, BPBD juga memperkirakan enam wilayah lain berpotensi terdampak jika hujan turun dengan durasi lama dan intensitas tinggi.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini berbasis curah hujan level waspada tiga hari berturut-turut. Masyarakat diminta waspada terhadap dampak hujan deras ini berupa bencana hidrometeorologi atau banjir.
Potensi Curah Hujan Tinggi di Beberapa Wilayah
BMKG menyebutkan beberapa daerah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi, antara lain:
- Kabupaten Banyuasin
- Air Kumbang
- Air Salek
- Makarti Jaya
- Muara Padang
- Sumber Marga Telang
- Kabupaten Lahat
- Merapi Selatan
- Kabupaten Muara Enim
- Belida Darat
- Kelekar
- Lembak
- Lubai
- Muara Belida
- Muara Enim
- Rambang
- Sungai Rotan
- Kabupaten PALI
- Penukal Utara
- Talang Ubi
- Kabupaten Ogan Ilir
- Tanjung Raja
- Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)
- Mesuji
- Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU)
- Lengkiti
- Muara Jaya
- Pengandonan
- Peninjauan
- Semidang Aji
- Ulu Ogan
- Kabupaten OKU Timur
- Belitang
- Belitang II
- Belitang III
- Madang Raya
- Buay Madang
- Jayapura
- Madang Suku I
- Madang Suku II
Peringatan dari WALHI Sumsel
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel berduka atas bencana yang dirasakan oleh masyarakat Aceh, Sumut, dan Sumbar. Direktur WALHI Sumsel Yuliusman MH mengatakan bahwa bencana banjir yang terjadi di tiga provinsi di pulau Sumatera merupakan bencana ekologis akibat rusaknya sumberdaya alam dari praktek pembangunan yang eksploitatif.
Kejadian serupa juga sering terjadi di Sumsel seperti banjir di Musi Rawas, Muratara, Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin, Pagaralam, Banyuasin, OKU, dan kota Palembang.
“Perlu segera dilakukan tindakan antisipatif dari pemerintah terhadap wilayah yang rawan banjir dan longsor,” ujar Yuliusman. Selain itu, ia menekankan pentingnya aksi siaga di wilayah rawan tersebut untuk meminimalisasi terjadinya korban.
Potret meluasnya banjir yang terjadi di pulau Sumatera menuntut kita untuk mendesak pemerintah agar segera menghentikan penambangan Batubara, pembukaan lahan gambut, dan segera merehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Sumsel.


