Latihan Keaktoran di Ngaos Art Studio: Jadi Aktor dengan Empati

Posted on

Latihan Keaktoran Ngaos Art: Mencari Kehidupan dalam Emosi

Pada malam Jumat, 31 Oktober 2025, Ngaos Art Foundation menyelenggarakan sebuah latihan keaktoran yang penuh intensitas dan refleksi. Latihan tersebut diampu oleh AB Asmarandana, dengan menghadirkan sembilan peserta aktor dan empat penonton dari luar, serta satu penonton spesial: anggota The Syuro, komunitas aktor senior di Ngaos Art.

Tujuan dari latihan malam itu tampak jelas: bagaimana seorang aktor menjadi, bukan sekadar menampilkan, melalui empati—merasakan sedih, marah, tertawa—dengan merespons teks yang dibawakan oleh seorang aktor di atas panggung. Sementara itu, aktor lain duduk menonton dan merespons melalui rasa mereka sendiri terhadap peristiwa yang dimainkan.

Metode dan Struktur Latihan

AB Asmarandana menyediakan tiga teks berbeda yang bersambung sebagai sebuah rangkaian narasi. Kisah dimulai dengan seorang perempuan korban pelecehan seksual. Teks berikutnya datang dari sudut pandang laki-laki yang menolak bahwa itu pelecehan berdasarkan logiknya. Dan akhirnya seorang hakim memutuskan—membebaskan laki-laki dan malah menghukum perempuan sebagai korban.

Metodologi ini sangat dekat dengan ajaran Konstantin Stanislavski, khususnya aspek “As if” atau Magic If, di mana aktor membayangkan “bagaimana jika ini nyata bagi saya?” untuk menghasilkan respons emosional yang autentik dan meyakinkan.

Melalui teks-teks saling berkaitan itu, latihan diarahkan agar para aktor tidak hanya menghafal dialog atau mengucapkan kata, tapi “hidup dalam” situasi melalui empati terhadap karakter, lalu mengekspresikannya secara emosional dan fisik di atas panggung, serta merespons sebagai penonton dari panggung itu sendiri.

Analisis Keaktoran: Pengamatan AB Asmarandana

Berdasarkan pengamatan langsung selama latihan, AB Asmarandana memberi catatan rinci terhadap masing-masing peserta:

  • Ikok (saksi / korban)

    Ikok tampak larut dalam peran korban. Ada kesan bahwa pengalaman personal membantu kedekatannya dengan tema kekerasan seksual. Kejujuran emosinya terasa kuat, namun AB menekankan pentingnya menjaga jarak estetis — agar peran tidak berubah menjadi terapi pribadi, melainkan tetap sebagai bentuk ekspresi artistik yang dikontrol.

  • Kido (pelaku)

    Kido berusaha “keluar dari dirinya”, menampilkan karakter dengan gestur yang tegas dan keras. Namun, beberapa gerakan masih terkesan disengaja atau dibuat-buat. AB mencatat bahwa potensi intelektual dan kesadaran karakter sudah bagus, tetapi perlu melatih spontanitas tubuh agar gerak tampak lebih alami dan mengalir.

  • Vintan Lingkar (hakim)

    Vintan membawa unsur komedi ke dalam karakter, memakai logat Jawa dengan pemenggalan kata yang khas. Meski ini menambah warna, tekanan komedi sedikit mengaburkan lapisan tragis dari teks. Menurut AB, Vintan perlu menakar dosis humor agar tidak menutupi kedalaman tragis adegan.

  • Rika Jo (saksi/korban)

    Rika membawakan dengan sangat sentimental dan nuansa feminis yang kuat. Emosi tampak meluap-luap, namun ada catatan bahwa ia kehilangan kontrol napas. Energi emosinya tinggi, tinggal dilatih agar kontrol napas, ritme bicara dan jeda adegan tetap menjaga bentuk panggung agar tidak terkesan melantur.

  • Kahfi (tersangka / laki-laki perspektif logis)

    Kahfi menafsirkan teks dari sudut filosofis dan dengan tajam. Diksi dan gerak kecil dia detail, menunjukkan kesadaran tinggi terhadap makna kata. Masih perlu menjaga keseimbangan antara akal dan tubuh — agar tidak tampak terlalu “hipotesis konseptual”, melainkan menyatu dengan pengalaman emosional peran.

  • Salma (hakim)

    Salma sangat teliti membaca karakter, menjaga diksi dengan kesadaran penuh. Suaranya empuk dan berwibawa. Menurut AB, kesadarannya sudah matang, tetapi masih dapat didorong lebih jauh: menemukan “moment of decision” — titik emosional di mana karakter membuat pilihan yang mengguncang.

  • Dodoy (perempuan / tubuh komedi)

    Dodoy tampak masih berada di wilayah komedi ringan. Ia baru membaca peran tanpa benar-benar “menjadi” korban trauma. Tubuh komedinya lebih seperti pelawak daripada seorang perempuan yang terluka atau terguncang. AB menyarankan latihan transformasi tubuh agar kehadirannya bukan hanya lucu tetapi bisa menyentuh rasa trauma dan penderitaan karakter.

  • Iki (pelaku)

    Iki disebut oleh AB sangat meyakinkan. Ia tampak luwes dalam permainan perannya, mampu menunjukkan sisi tergelap karakter dengan penyesalan dan rasa bersalah sekaligus menjaga jarak estetis. Performanya menunjukkan kesadaran etis & estetik yang seimbang, menjadikannya berhasil sebagai karakter antagonis atau “penjahat kelamin” dalam narasi ini.

  • Alfin (hakim)

    Alfin memainkan tokoh hakim yang katarsis secara perlahan: mendengar, menahan, kemudian meledak dengan keyakinan. Proses emosinya tampak di panggung, namun AB mencatat bahwa ekspresi di momen puncak masih terlalu tipis — perlu penajaman agar keputusan hakim terasa tidak hanya berasal dari logika, tetapi dari batin yang terguncang.

Kesimpulan dan Renungan: Apakah Akting Sedang Kehilangan Jiwa?

Dari latihan ini, AB Asmarandana menarik benang merah lewat sesi-sesi empati emosional:

Sesi pertama: para aktor diperintah menangis. Tapi karena diulang-ulang, kesedihan kehilangan daya gugah. Air mata tak jatuh; wajah meniru kesedihan tanpa ada beban atau luka nyata—seolah tubuh terlatih sehingga kebal terhadap duka.

Sesi kedua: diperintahkan marah. Tetapi para peserta justru tampak tenang. Mereka tertawa kecil, santai — amarah seperti sudah jadi barang asing atau usang. Mungkin karena hidup mereka sudah terlalu sering membuat mereka marah, sehingga kini amarah tak lagi punya makna dalam performa.

Sesi ketiga: diperintah tertawa. Aneh sekali, mereka bisa tertawa. Padahal dunia sedang runtuh dalam narasi teks, jiwa-jiwa mereka belum selesai menangis atau marah. Tapi tawa tetap muncul—mungkin karena tawa adalah satu-satunya sisa yang bisa ditampilkan ketika air mata dan amarah telah habis.

Dari sana muncul pertanyaan filosofis: Apakah dunia keaktoran sedang kehilangan jiwa? Atau justru dunia ini sendiri terlalu “aktor”, hingga setiap emosi jadi peran, bukan pengalaman?

Pertanyaan ini menyentak: latihan teater bukan hanya tentang teknik, improvisasi, atau gestur tepat — tapi soal apakah aktor bisa benar-benar merasakan peristiwa sebagai pengalaman yang hidup, bukan hanya naskah yang dipelajari dengan akal atau kebiasaan panggung?

Pentingnya Metode “As If” (Stanislavski) dalam Latihan

Teori Stanislavski menekankan bahwa aktor harus bekerja dari dalam — bukan hanya menirukan ekspresi luar, melainkan menciptakan kondisi batin dan psikologis yang meyakinkan. Sistemnya dikenal dengan istilah The System, yang di dalamnya terdapat konsep Magic If atau As If.

Dalam konteks latihan di Ngaos Art: Saat aktor diminta merespons tangis, amarah, tertawa — mereka mengimajinasikan situasi “seandainya aku di posisi itu” (as if). Itu memicu reaksi batin yang lebih personal dan emosional, bukan hanya hafalan atau simulasi.

Namun jika latihan dilakukan terlalu sering tanpa refleksi baru, respons emosional bisa menjadi kering atau mekanis — seperti yang dialami peserta menangis berulang kali tanpa jatuhnya air mata sungguhan.

Maka keseimbangan antara teknik (gestur, diksi, pernafasan, spontanitas) dan pengalaman emosional personal menjadi sangat penting. Dengan “jarak estetis” yang disinggung oleh AB Asmarandana, aktor tidak boleh tenggelam total dalam emosinya hingga kehilangan bentuk panggung—tetapi tetap harus merasakan batin karakter seolah itu nyata untuknya.