PasarModern.com, SEMARANG – 2026 Akan menjadi tahun penting sebagai penanda arah pembangunan Jawa Tengah yang lebih hijau. Peran Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional coba diperkuat melalui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) pada tahun depan yang merangkum 8 program strategis.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menargetkan peningkatan produksi dan produktivitas pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, pangan, kehutanan, kelautan, dan perikanan. Penguatan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya air juga dilakukan demi mendukung keberlanjutan produksi pangan. Di sisi lain, pengendalian dan perlindungan lahan pertanian juga ikut dicanangkan.
Luthfi juga mendorong penguatan sistem agroforestry berbasis potensi lokal. Sembari berupaya memenuhi hak dasar atas pangan yang cukup, beragam, bergizi, simbang, dan aman secara berkelanjutan. Penyediaan pangan lokal secara mandiri dan berkelanjutan, peningkatan ketahanan pangan dan gizi hingga tingkat individu, dan terakhir pencegahan pemborosan pangan.
Delapan program prioritas yang bakal dijalankan pada tahun 2026 itu diharapkan mampu memenuhi target jangka panjang yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMD 2025-2029 maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045.
“Ini merupakan bentuk kepedulian kita, dalam rangka mengeksplorasi pembangunan di Jawa Tengah khususnya untuk masyarakat. Karena untuk membangun Jawa Tengah tidak ada namanya ego sektoral, untuk Jawa Tengah tidak ada siapa the number one, kita semua bersama-sama. Bupati wali kota mempunyai wewenang untuk mengambil kebijakan dalam menjaga dan menyejahterakan masyarakat. Tidak ada membeda-bedakan itu tugasnya pemerintah pusat, provinsi, camat, atau lurah, akan tetapi kita harus hadir dan selalu ada untuk masyarakat demi kemajuan pembangunan Jawa Tengah,” papar Ahmad Luthfi pada Musrenbang yang digelar Mei lalu.
Bangun Dua Sektor Usaha dalam Sekali Jalan
Sujarwanto Dwiatmoko, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa sektor pertanian dan industri pengolahan akan menjadi dua sektor usaha prioritas yang coba digarap pada tahun mendatang. Terkesan kontradiktif, memang, namun Sujarwanto melihat dua sektor ini sama-sama penting bagi struktur perekonomian Jawa Tengah.
“Sepintas, banyak pandangan yang melihat kontradiksi dimana industri itu butuh lahan yang berbarengan dengan sawah yang menjadi sumber produksi pangan kita. Tetapi, kita harus kupas lebih jauh bagaimana sebuah industri dan pangan bisa berjalan bersamaan,” ucap Sujarwanto ketika membuka Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference dengan tajuk “Central Java at a Crossroads: Between Manufacturing & Agriculture” pada Senin (8/12/2025) di Kota Semarang.
Jawa Tengah, yang menopang 16% kebutuhan pangan nasional, mesti mempertahankan peran vitalnya demi menyukseskan target swasembada pangan yang juga sudah lebih dulu ditargetkan pemerintah pusat. Di sisi lain, daerah itu juga mesti mengejar ketertinggalan dari provinsi lain di Pulau Jawa dengan memacu pertumbuhan sektor manufaktur yang lebih berkelanjutan.
Dua hal itu jadi begitu mendesak. Sujarwanto menyebut, untuk bisa ‘mendamaikan’ dua kebutuhan yang seorang bertentangan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mesti mempercepat pertumbuhan kawasan industri dengan memperhatikan aspek perencanaan tata ruang secara ketat.
“Setiap kabupaten sudah melakukan percepatan penyelesaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Dengan RTDR yang jelas, maka perizinan usaha yang tidak sesuai dengan perizinan ruangnya akan terkunci oleh sistem. Artinya, setiap permohonan investasi yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, pasti akan ditolak otomatis,” jelasnya.
Ekspansi sektor manufaktur akan difokuskan pada kawasan-kawasan yang tidak memiliki potensi pertanian yang signifikan. Di sisi lain, 1,2 juta hektare (Ha) lahan sawah lestari telah dikunci peruntukannya untuk memastikan tidak adanya penurunan produktivitas pertanian dari strategi ekspansif tersebut. “Itulah cara kita memilih dan berkembang. Crossroad itu betul, tetapi sangat rapi, arahnya jelas, ruang bertumbuhnya jelas,” lanjut Sujarwanto.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah, Oki Hermawan, menyebut arah pembangunan Jawa Tengah yang coba mendudukkan sektor industri pengolahan dan pertanian itu sudah tepat. “Kami memberikan masukan kepada pemerintah daerah, supaya bagaimana manufaktur dan pertanian ini bisa beriringan. Jadi manufaktur tumbuh, pertanian juga tumbuh,” ujarnya.
Saat ini, BI mencatat tren pertumbuhan pada sektor pertanian di Jawa Tengah masih demikian fluktuatif. Ada banyak faktor yang memengaruhi, utamanya adalah faktor cuaca. Oki menjelaskan, ketika terjadi anomali atau cuaca ekstrem baik panas maupun basah, sektor pertanian Jawa Tengah cenderung bakal mengalami kontraksi. Di sisi lain, pada sektor industri, tren pertumbuhannya relatif lebih ajeg.
“Dari sisi pangsa, sektor industri di Jawa Tengah masih 14% kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara pertanian, kalau ditarik tren, memang agak ke bawah. Harapan kami, Jawa Tengah akan terus berkomitmen untuk meningkatkan pertanian,” jelas Oki.
Industri makanan dan minuman berpotensi menjadi daya ungkit agi perekonomian Jawa Tengah. Namun, Oki menjelaskan bahwa subsektor usaha itu masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian Jawa Tengah. Dimana untuk menghubungkan kedua sektor usaha ini, diperlukan konsistensi baik dari segi kualitas maupun kuantitas bahan baku.
“Dari kajian yang kami lakukan di 2025, interaksi industri makanan dan minuman ini terus mengalami arah yang positif dan itu bisa meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, juga ketahanan pangan,” lanjutnya.
Terkunci di 5 Persen
Di sisi lain, ekonom Universitas Diponegoro (Undip) Wahyu Widodo, menyangsikan kapasitas Jawa Tengah untuk bisa mencetak pertumbuhan ekonomi di atas 6% (year-on-year/yoy). Berdasarkan data historis, secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah seperti terkunci di angka 5%. “Sampai 6% saja itu saya kira sudah luar biasa. Bukan berarti tidak mungkin. Pertumbuhan 6% bisa diwujudkan Jawa Tengah dengan mengambil sejumlah langkah strategis. Tidak dalam satu tahun, tapi kalau sampai 2029 saya kira masih mungkin,” ucapnya saat dihubungi Bisnis secara terpisah.
Sektor manufaktur Jawa Tengah dibayangi oleh sejumlah tantangan besar. Wahyu menyebut, masalah efisiensi masih menjadi persoalan serius. Dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di angka 6,5, Jawa Tengah mesti mendorong perbaikan teknologi, metode produksi, serta implementasi produksi yang lebih efisien.
Di sisi lain, perbaikan tata kelola kelembagaan juga menjadi pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan Jawa Tengah. “[Pemerintah daerah] tidak cukup mempromosikan Jawa Tengah karena satu-dua potensi. Itu sudah dilakukan bertahun-tahun, identifikasi permasalahan institusional juga dari tahun ke tahun tidak ada perubahan. Maka saya kira, Jawa Tengah butuh langkah yang strategis,” ucap Wahyu.
Rangkaian acara diskusi dalam Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference bertajuk “Central Java at a Crossroads: Between Manufacturing & Agriculture” pada Senin (8/12/2025) di Kota Semarang/Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
