Lampu Merah di Cilincing Tak Berarti Tanpa Aturan

Posted on

Jalur Tengkorak Cilincing: Kebiasaan Menerobos Lampu Merah yang Menjadi Masalah

Jalur Tengkorak Cilincing di Jakarta Utara kini menjadi salah satu titik lalu lintas yang paling semrawut. Di sana, lampu merah seolah tidak memiliki arti apa pun bagi para pengendara. Perempatan Jalan Cilincing menjadi tempat di mana aturan lalu lintas hampir hilang maknanya. Para pengemudi saling berebut jalan dengan klakson yang terus-menerus berbunyi, seakan tak ada lagi rambu lalu lintas yang harus dihormati.

Truk dan Kendaraan Berat yang Tidak Menghiraukan Aturan

Truk trailer dan kontainer dari arah Pelabuhan Tanjung Priok sering menerobos lampu lalu lintas saat melintasi perempatan ini. Hal yang sama juga dilakukan oleh pengemudi mobil dan pengendara motor dari arah Cilincing menuju Tanjung Priok. Meskipun APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas) masih berfungsi dengan baik, banyak pengendara yang mengabaikannya. Akibatnya, lampu merah di lokasi tersebut seolah hanya menjadi pajangan.

Kondisi ini membuat kendaraan-kendaraan saling bersinggungan, terutama antara motor dan truk. Banyak pengendara terlibat adu mulut karena sama-sama melakukan pelanggaran. Bahkan, kecelakaan antara motor dan truk trailer sering terjadi di lokasi ini, sehingga menjadikan perempatan Cilincing sebagai jalur tengkorak.

Pengemudi yang Terbiasa Melanggar Aturan

Salah satu sopir truk, Nuratmo (45), mengatakan bahwa kondisi semrawut di perempatan Cilincing sudah berlangsung lama. Ia menyebutkan bahwa lampu lalu lintas di lokasi tersebut seolah tidak lagi berfungsi. Menurut dia, hal ini membuat pengemudi mobil dan pengendara motor saling menyerobot satu sama lain, sehingga lalu lintas menjadi sangat semrawut.

Nuratmo juga menyebutkan bahwa kondisi serupa terjadi di perempatan Kebon Baru, Cilincing. Di sana, para pengendara lebih memilih mengikuti arahan pak ogah liar yang mencoba mengatur arus kendaraan. “Malah Pak Ogah yang mengatur jalan. Ini lah yang seringkali terjadi kemacetan dan kadang kecelakaan,” ujar Nuratmo.

Pengendara lainnya, Arafiq (46), juga mengungkapkan hal serupa. Ia menilai saling menyerobot di perempatan Cilincing sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari. “Dari dulu memang lalu lintasnya begini, saling serobot lampu merahnya juga enggak berpengaruh,” tutur Arafiq.

Arafiq mengakui bahwa ia sendiri kerap menerobos lampu merah di perempatan tersebut. Awalnya, ia takut mengalami kecelakaan jika nekat melanggar aturan lalu lintas. Namun, karena banyak pengendara lain yang melakukan hal yang sama, ia merasa terpaksa mengikuti arus pelanggaran tersebut.

Tekanan dari Kendaraan di Belakang

Syam (42) juga mengaku kerap menerobos lampu lalu lintas karena tekanan dari kendaraan di belakangnya yang tak sabar. “Saya jujur aja sering terobos, karena kalau enggak saya yang diklaksonin, semuanya pada enggak sabaran, jadi ya enggak ada pilihan lain,” ungkap Syam.

Ia mengatakan bahwa saking seringnya terjadi kemacetan di perempatan tersebut, ia bahkan kerap melawan arah dari Cilincing menuju Tanjung Priok. Ia mengambil sisi kanan jalan yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan dari arah Tanjung Priok menuju Cilincing.

Meski terbiasa melanggar lampu merah, Syam mengaku sebenarnya merasa sangat takut setiap kali melintasi perempatan Cilincing. “Kalau dibilang takut mah, takut banget, karena harus papasan sama truk trailer kan kadang kami adu klakson juga, tapi karena sudah biasa mau bagaimana lagi,” ujar Syam.

Keamanan bagi Pejalan Kaki

Warga Cilincing lainnya, Mualif (70), juga mengaku takut ketika harus melintas dengan berjalan kaki di sekitar perempatan tersebut. “Ya, takut juga namanya banyak kontainer kan itu sering bahaya. Pengendara di sini juga sering menerobos lampu merah,” ucap Mualif.

Ia mengatakan harus ekstra hati-hati meski sudah berjalan di atas trotoar, karena kendaraan sering melaju kencang dan berpotensi menyerempet pejalan kaki kapan saja.

Upaya Pihak Berwenang untuk Mengatasi Masalah

Menurut Kepala Suku Dinas Perhubungan Kota Administrasi Jakarta Utara, Rudy Saptari Sulesuryana, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatur lalu lintas di perempatan Cilincing. Rudy menyebutkan bahwa petugas telah ditempatkan di jam-jam tertentu, terutama saat pembatasan jam operasional kendaraan berat diberlakukan pada pagi dan sore hari, guna menjaga arus lalu lintas tetap kondusif.

Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan UP SPLL dalam hal pengaturan lalu lintas menggunakan APILL. Sudinhub Jakarta Utara juga bersinergi dengan kepolisian dan Satpol PP untuk mengatur lalu lintas di lokasi tersebut.

Namun, Rudy mengakui petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan. “Kesulitan yang sering ditemui di lapangan adalah perilaku mengemudi masyarakat yang kurang berkeselamatan,” jelas dia.

Ia mengimbau para pengendara agar lebih berhati-hati saat melintas di kawasan tersebut mengingat tingginya lalu lintas kendaraan besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *