Kota Bogor Kehilangan Keakraban untuk Tukang Becak

Posted on



BOGOR, PasarModern.com

— Siang itu, matahari tepat berada di atas SMP Regina Pacis, Kota Bogor. Di bawah terik matahari yang menyengat, seorang pria lanjut usia tampak duduk sendirian di atas sebuah becak tua berwarna kuning. Becak itu berhenti di depan gerbang sekolah, lengang, tanpa satu pun penumpang. Sesekali, ia menyeka keringat yang mengalir dari kening, sambil menatap jalan raya yang ramai oleh sepeda motor dan mobil pribadi.

Pria itu adalah Thamrin (67), seorang tukang becak yang sudah puluhan tahun mengais rezeki dengan mengayuh roda tiga di Kota Bogor. Hari itu bukan hari yang spesial. Tidak ada pasar tumpah, tidak ada acara sekolah. Tetapi bagi Thamrin, setiap hari kini terasa sama, penantian menunggu satu penumpang yang belum tentu datang.

“Satupun (penumpang) kadang-kadang enggak ada. Susah kadang-kadang,” ujarnya saat ditemui, Jumat (7/11/2025). Thamrin mengakui, kini penumpang semakin jarang. Anak-anak sekolah yang dulu sering memakai becak untuk keperluan les, antar-jemput, atau sekadar pulang cepat.

“Biasanya anak-anak sini (SMP) Regina Pacis kan pada les (sekarang) tahu pada online, tahu apa,” kata dia. Thamrin bercerita, dulu kawasan ini ramai oleh orangtua yang menunggu anak sekolah atau warga sekitar yang ingin diantar jarak pendek. Tetapi perlahan semua berubah. Orang-orang beralih ke gawai, ke aplikasi, ke kepraktisan yang tidak bisa lagi disaingi dengan tenaga sepedanya yang kian melemah.

Namun, masih ada sedikit harapan kecil yang masih Thamrin pegang. Sebuah keberuntungan kecil dari orang-orang yang tinggal di sekitar, yang kadang masih memakai jasanya. “Itu yang banyak kan ada orang China yang pulang pergi aja, tungguin gitu di kasih Rp 20.000, atau Rp 30.000, kadang-kadang Rp 50.000, terserah itu,” ucap dia. Meski tidak menentu, nominal itu menjadi rezeki yang ia syukuri. Sebab, sehari duduk di bawah terik matahari saja, tidak ada jaminan ia akan pulang membawa uang.

Rute Berubah, Pelanggan yang Hilang

Menurut Thamrin, salah satu pukulan besar bagi tukang becak seperti dirinya datang dari perubahan trayek angkot yang berdampak pada jalur penumpang. “Sekarang cari penumpang satu juga susah orang lewat lewat. Kan 07 kan dibuang kesini kan waktu itu kan kesana lurus Kebun Raya kan, sekarang 07 dibuang kesini ke (arah) pasar,” ujar dia. Perubahan itu membuat jalanan yang dulu ramai oleh warga yang turun dari angkot kini tak lagi menjadi tempat strategis bagi tukang becak.

Arus manusia berpindah, dan becak pun makin tersisih. Meski demikian, Thamrin masih menyimpan satu pelanggan lama, pelanggan yang tiap Jumat datang jauh dari Jakarta. “Tapi langganan masih ada tiap Jumat dia dari Jakarta ke Pasar biasanya emang udah lama dari dulu,” kata dia sambil tersenyum kecil. Langganan itu biasanya memberikan uang jauh lebih besar daripada penumpang biasa. “Kalau langganan datang kasih Rp 100.000, kadang Rp 50.000,” ucap dia. Namun, kejadian itu hanya sekali dalam seminggu. Sisanya, ia mengandalkan keberuntungan yang kian tipis di tengah kota yang semakin bergerak cepat meninggalkan moda transportasi tradisional seperti becak.

Kerja Sampingan

Dalam sepi pekerjaan, Thamrin tidak tinggal diam. Ia mencoba melakukan apa pun yang bisa menambah penghasilan. “Kadang ada juga sampingan saya mah cuci-cuci mobil, ini aja buat sampingan aja,” katanya. Dengan tubuh yang sudah tidak muda, pekerjaan fisik semacam itu masih bisa ia kerjakan. Saat ditanya apakah kini sering ditertibkan, Thamrin mengangguk. Kadang ada pemeriksaan terhadap becak dan para pengemudi. “Masih kalau gini kan namanya becak ada yang bodong, ada yang isi gitu. Kalau kita isi ada STKB, ada SIP gitu, cuma kalau bikin di cek, bannya gundul apa enggak, di cek-cek kendaraannya gitu tapi gratis,” ujar dia.

Meski begitu, penertiban tidak menjadi masalah besar baginya. Yang jauh lebih berat adalah kenyataan bahwa menunggu berjam-jam tidak selalu menghasilkan apa pun. Ia mengaku biasanya mulai mangkal sejak pagi hingga siang, dan pulang lebih cepat jika hujan mengancam. “Mangkal dari jam 8, jam 1 juga udah pulang, udah istirahat, kata anak juga kan aku udah aja pulang jangan sampai sore kalau hujan buru-buru balik,” ungkap dia. Di rumah, ia tinggal seorang diri. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah lagi.

Thamrin tertawa kecil ketika ditanya asal-usulnya. Ia adalah perantau dari Jawa yang tiba di Bogor sejak awal tahun 1970-an. “Orang Jawa aslinya merantau tahun 1971-an di sini,” kata dia. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dengan mengayuh becak. Jalan-jalan Bogor menjadi saksi bagaimana Thamrin membesarkan anaknya dari hasil keringat yang mengalir setiap hari.

Thamrin mengaku hanya bisa berharap pada momen-momen tertentu ketika penumpang meningkat. “Paling sekarang kalau ramai pas mau Lebaran gitu atau misal kaya kemarin bulan maulid itu ramai,” ujar dia. Di luar itu, hari-hari berjalan biasa saja, sepi, panas, dan panjang. Becaknya yang terparkir di bawah terik matahari tampak seperti peninggalan dari masa yang semakin jauh. Sementara arus kendaraan di depannya terus melaju tanpa memperhatikan ia yang duduk menunggu harapan kecil.

Becak Kian Sulit Bertahan

Sementara itu, Karsun (62), tukang becak yang sudah merasakan naik-turunnya profesi ini selama lebih dari empat dekade. Duduk di atas becak yang kini tampak semakin jarang dipanggil, ia mengenang masa ketika roda tiganya menjadi primadona transportasi jarak dekat di Bogor. Ia masih ingat betul situasi di era 1980-an hingga awal 2000-an, ketika becak-becak berebut penumpang di pasar, sekolah, hingga gang pemukiman. Saat itu, pekerjaan ini mampu menutup seluruh kebutuhan rumah tanpa banyak khawatir.

“Dulu walaupun tarikan murah, bisa 10 liter (beras) sehari, malah lebih. Karena belum ada saingan kayak ojol atau motor,” ujar Karsun. Namun kini realitasnya berbeda jauh. Penumpang semakin berkurang, dan becak perlahan kehilangan relevansi di mata masyarakat modern. Anak muda memilih motor atau ojek online, sementara orang tua pun makin jarang memakai becak kecuali jika benar-benar membutuhkan. “Kalau Sabtu Minggu alun-alun ramai tapi nggak pada naik becak. Anak muda udah gengsi naik becak,” kata Karsun.

Kesepian mencari penumpang membuat pendapatannya acap kali tak menentu. Bahkan, untuk menyambung hidup, ia sering menggantungkan kebutuhan makan harian pada utang kecil di warung dekat rumahnya. “Kadang sampai jam 4 nggak ada penumpang sama sekali. Kalau gitu, paling utang ke warung,” ucapnya. Ia mengingat jelas bagaimana dulu ibu-ibu pasar, para pedagang, hingga pelajar sering berebut menaiki becaknya setiap pagi. Kini, yang tersisa hanyalah beberapa pelanggan sesekali. Setiap hari, rutinitasnya tak pernah pasti. Ia bangun, menyiapkan becaknya, lalu duduk menunggu siapa pun yang mungkin membutuhkan jasanya. “Kadang jam 12 siang, kadang sore, jam 4 atau 5. Kadang dari subuh juga. Tergantung penumpang. Sekarang mah nggak jauh-jauh, bebas ke mana saja,” kata dia.

Fungsi Baru Becak

Meski tidak lagi ramai digunakan untuk mobilitas harian, sejumlah warga tetap menilai becak memiliki fungsi penting untuk kebutuhan tertentu, terutama di pasar dan permukiman padat. Asri (56), misalnya, mengandalkan becak hampir setiap hari untuk mengangkut belanjaan dari pasar ke rumahnya. “Kalau ke pasar pasti saya naik becak. Soalnya jaraknya dekat, cuma kalau jalan kaki berat banget bawa sayur-sayur,” ujar Asri. Bagi Asri, becak lebih praktis dibanding transportasi lain karena bisa langsung masuk gang kecil dan penarik becaknya bersedia membantu mengangkat barang. “Kelebihannya itu ya praktis. Gak perlu nunggu. Terus bisa masuk sampai ke gang depan rumah saya,” kata dia. Namun, ia menyadari bahwa profesi tukang becak kini semakin tergerus oleh perkembangan zaman. “Rasanya aneh kalau tiba-tiba hilang. Kalau bisa jangan dihilangkan. Kalau mau diatur, ya atur saja rutenya. Tapi jangan sampai abang-abangnya kehilangan mata pencaharian,” tambah dia.