Bahaya Ikan Sapu-Sapu dari Perairan Tercemar
Ikan sapu-sapu sering kali dianggap sebagai bahan makanan yang aman, terutama karena rasanya yang lezat dan mudah ditemukan. Namun, konsumsi ikan ini dari perairan tercemar bisa berisiko bagi kesehatan. Meski tidak selalu menimbulkan gejala sakit secara instan, bahaya utamanya justru muncul secara perlahan dan tidak disadari.
Menurut Pakar Penyakit Dalam Universitas Indonesia (UI), Ari Fahrial Syam, dampak kesehatan akibat konsumsi ikan dari perairan tercemar umumnya terjadi dalam dua fase. Pada jangka pendek, pasien bisa mengalami muntah-muntah setelah mengonsumsi ikan yang sudah tercemar. Namun, yang lebih berbahaya adalah efek jangka panjang, seperti kerusakan ginjal dan hati.
Ari menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang salah mengira bahwa jika tidak ada gejala akut setelah mengonsumsi makanan, maka makanan tersebut aman. Padahal, paparan zat berbahaya dari ikan tercemar, terutama logam berat, dapat terakumulasi sedikit demi sedikit di dalam tubuh tanpa menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal.
Ikan dari Perairan Tercemar
Bahaya utama ikan sapu-sapu bukan terletak pada jenis ikannya, melainkan pada lingkungan tempat ikan tersebut hidup. Ikan sapu-sapu biasanya tinggal di sungai-sungai perkotaan dengan tingkat pencemaran tinggi. Sungai-sungai ini menerima limbah rumah tangga, industri, serta berbagai polutan lain yang mengendap di dasar perairan.
Sebagai ikan dasar, ikan sapu-sapu mengonsumsi alga dan material organik yang menempel di permukaan sungai. Dalam proses tersebut, berbagai zat berbahaya ikut masuk dan terakumulasi di dalam tubuh ikan. Proses pemasakan tidak serta-merta menghilangkan risiko tersebut. Jika ikan dikonsumsi secara mentah, racun yang ada pada ikan tidak akan hilang meskipun diolah menjadi berbagai bentuk makanan seperti digoreng, dikukus, atau dicampur dalam adonan.
Dampak yang Tidak Disadari
Dampak jangka panjang konsumsi ikan tercemar sering kali tidak langsung dikaitkan dengan pola makan. Kerusakan ginjal dan hati bisa berkembang perlahan tanpa gejala khas pada tahap awal. Ari menilai kondisi inilah yang membuat konsumsi ikan sapu-sapu dari sungai tercemar menjadi berbahaya. Konsumen merasa baik-baik saja, padahal paparan zat berbahaya terus terjadi.
Ari menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam memilih sumber pangan, terutama ikan. Paparan logam berat bersifat kumulatif, artinya sekali ikan tercemar dengan logam, maka akan membawa dampak pada orang yang mengonsumsinya.
Aman Dikonsumsi Jika Hasil Budidaya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menyatakan bahwa ikan sapu-sapu dari sungai tercemar tidak dapat dipastikan keamanannya sebagai pangan. Ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan dari sungai atau waduk yang tercemar.
Hasudungan menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu dari sungai tercemar berisiko tinggi mengandung berbagai cemaran berbahaya. Berdasarkan penelitian, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar (misalnya Ciliwung) dapat mengandung berbagai logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan lainnya. Logam berat ini tidak langsung menimbulkan gejala akut, tetapi dapat memicu gangguan kesehatan serius jika terakumulasi dalam tubuh.
Selain logam berat, ikan dari perairan tercemar juga berpotensi membawa ancaman biologis seperti bakteri patogen atau parasit yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau infeksi jika tidak dimasak dengan benar. Risiko tidak berhenti pada cemaran logam dan bakteri, karena ikan juga bisa menyerap residu pestisida, mikroplastik, dan bahan kimia limbah dari lingkungan tercemar.
Imbauan untuk Masyarakat
Baik Ari maupun KPKP sepakat bahwa edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah risiko kesehatan jangka panjang. Hasudungan menyatakan pihaknya terus memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan dari perairan tercemar. Edukasi dilakukan melalui media sosial atau poster-poster peringatan untuk menjelaskan dampak dari mengonsumsi ikan yang tercemar logam berat.
