Konser Slank di Aceh Dibatalkan, Panitia Terkejut Dispora Minta Uang Sewa Rp700 Juta

Posted on

Pembatalan Konser Slank di Aceh yang Menimbulkan Kekacauan

Konser legendaris Slank yang seharusnya digelar di Banda Aceh pada hari Sabtu (25/10/2025) mendadak dibatalkan. Kejadian ini mengejutkan publik dan menyebabkan ribuan penonton serta ratusan pekerja event kecewa. Penyebab utamanya adalah permintaan biaya sewa venue sebesar Rp700 juta dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, tanpa dasar hukum yang jelas.

Awalnya Sudah Dapat Izin, Tiba-tiba Dicabut

Koordinator acara, Fitri Syafruddin, menjelaskan bahwa pihak panitia sudah mendapatkan izin resmi dari Dispora Aceh sejak awal perencanaan. Bahkan, mereka telah mempersiapkan segala perlengkapan seperti rigging, sistem tata cahaya, dan dekorasi selama beberapa hari sebelum konser. Namun, izin tersebut tiba-tiba dicabut tanpa alasan yang jelas.

Fitri mengungkapkan bahwa izin tersebut dicabut oleh Plt. Kadispora yang baru. Meski panitia berharap bisa melanjutkan acara setelah perubahan kepemimpinan, hal tersebut justru membuat situasi semakin memburuk.

Tarif Sewa yang Tidak Wajar

Setelah rapat koordinasi dengan Polda Aceh pada Selasa (21/10/2025), muncul informasi baru tentang tarif sewa venue. Dispora Aceh menetapkan harga sewa sebesar Rp10.000 per meter persegi per hari, berdasarkan Qanun No. 4/2024 dan Pergub No. 34/2025. Dengan luas lapangan sekitar 14.523 meter persegi, total biaya sewa mencapai Rp145 juta per hari. Jika dikalikan selama 5 hari, maka totalnya lebih dari Rp700 juta.

Fitri menilai angka tersebut tidak wajar, terlebih karena kegiatan ini bersifat non-komersial dan membawa dampak positif bagi Aceh. Ia menegaskan bahwa tidak ada dasar proporsional dalam perhitungan tersebut.

Venue Dikunci Tanpa Surat Resmi

Panitia menyampaikan keberatan resmi dan meminta penjelasan tertulis, tetapi malah mendapat penutupan paksa area Lapangan Memanah oleh petugas Dispora Aceh. Semua peralatan teknis, kru panggung, lighting, dan dekorasi terkunci di dalam. Hal ini membuat panitia kesulitan untuk melakukan gladi resik maupun bongkar alat.

Pada Jumat (24/10/2025), saat hari gladi resik seharusnya dilakukan, venue tetap disegel tanpa surat resmi. Akibatnya, acara harus ditunda.

Permintaan Bayar ke Rekening Dispora

Hal yang paling disesalkan panitia adalah permintaan pembayaran ke rekening atas nama Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, bukan rekening resmi Pemerintah Aceh (BPKA). Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang akuntabilitas keuangan. Panitia tidak dapat melakukan pembayaran karena tidak ada dasar hukum atau dokumen legal seperti invoice resmi atau surat penagihan.

Fitri mengungkapkan bahwa jawaban dari Kadispora tidak memberikan kejelasan. Mereka diminta untuk melakukan pembayaran sesuai perhitungan Dispora, tetapi tanpa dokumen resmi. Akibatnya, panitia menolak melakukan pembayaran tanpa dasar hukum.

Upaya Darurat Pindah ke Taman Budaya Gagal

Dalam kondisi darurat, panitia mencoba memindahkan acara ke Taman Budaya Aceh. Namun, setelah dilakukan pengecekan teknis, lokasi tersebut dinilai tidak memenuhi standar keamanan dan kapasitas untuk konser nasional berskala besar. Akhirnya, panitia memutuskan menunda acara demi keselamatan dan kelayakan teknis.

Keputusan pembatalan diambil tepat pukul 23.55 WIB, hanya beberapa jam sebelum konser dijadwalkan dimulai.

Kerugian Ratusan Juta Rupiah

Akibat kejadian ini, Slank dan D’Masiv yang seharusnya tampil di Aceh akhirnya batal. Dua band besar itu telah menyusun setlist dan latihan intensif untuk acara bertajuk Panggung Sumpah Pemuda 2025. Selain itu, musisi lokal seperti Rafly Kande dan beberapa grup Aceh lainnya juga ikut dirugikan. Mereka sudah berada di Banda Aceh selama sepekan penuh untuk latihan dan persiapan.

Fitri memperkirakan kerugian materi mencapai ratusan juta rupiah, termasuk biaya sewa panggung, transportasi, akomodasi artis, lighting, promosi, dan produksi yang sudah dibayar penuh.

Dukungan Publik dan Artis untuk Panitia

Meski acara batal, sejumlah musisi dan penggemar tetap memberikan dukungan moral kepada panitia. Akun resmi Slank di media sosial sempat mengunggah pesan singkat:

“Terima kasih untuk semua Slankers Aceh. Maaf belum bisa tampil, semoga ada waktu dan tempat yang lebih baik untuk ketemu lagi. Peace and respect.”

Beberapa warganet juga menilai pembatalan ini menjadi tamparan bagi birokrasi Aceh yang dinilai terlalu berbelit dan tidak transparan.

Komitmen Panitia untuk Melanjutkan Acara

Fitri menegaskan bahwa meskipun konser gagal digelar sesuai jadwal, pihaknya tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan acara tersebut di waktu pengganti. PT Erol Perkasa Mandiri selaku penyelenggara tetap berkomitmen melaksanakan acara ini di waktu yang tepat. Semua artis dan mitra strategis siap mendukung. Fitri berharap sinergi lintas lembaga ke depan bisa lebih baik, agar kegiatan kepemudaan di Aceh bisa berlangsung dengan bermartabat dan transparan.