Konflik Bahasa Langit dan Bahasa Rakyat

Posted on

Membongkar Kebiasaan Mengonsumsi Informasi Instan



Tulisan ini lahir dari kegelisahan penulis yang semakin dalam setelah melihat potongan klip podcast dari seorang tokoh akademis ternama, Bagus Muljadi. Ia menyatakan bahwa mental kolonial masih melekat dalam diri masyarakat hingga saat ini, terutama melalui narasi bahwa pribumi cenderung menggunakan istilah dan bahasa yang sederhana. Dari cara penyampaian dan kecondongan berpihak pada intelektualitas—yang memang harus dipertahankan—banyak orang menolak pendapatnya dan dianggap sebagai kegagalan dalam menyampaikan pesan.

Menurutnya, watak pribumi ditakdirkan untuk berpikir sederhana dan berbahasa sederhana, sedangkan para pejabat kolonial—yang lebih berorientasi pada budaya Barat—berpikiran kompleks, empiris, dan berkiblat pada ilmu pengetahuan. Fakta ini sering kali justru menormalisir kedangkalan epistemik dalam proses kognisi.

Kita sering kali berlindung di balik kutipan populer Albert Einstein yang mengatakan bahwa seseorang baru benar-benar memahami sesuatu jika ia mampu menjelaskannya dengan cara yang sederhana. Atau bisa juga pepatah yang sudah menempel di otak kita tentang ilmu padi, “Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk,” yang artinya semakin tinggi ilmu, kepintaran, atau prestasi seseorang, ia akan semakin rendah hati, tidak sombong, dan lebih bijaksana, seperti bulir padi yang menunduk saat berisi penuh.

Awalnya, proposisi tersebut mengandung kebenaran pragmatis dan kita semua menerima idiom tersebut sebagaimana mestinya. Namun, sebagaimana parasit yang sudah merusak tubuh inangnya, hasilnya pada pemaknaan yang timbul menjadi bergeser dan dipelintir di era post-truth.

Pandangan sentimen ini sebenarnya tidak jarang ditemukan di lingkungan sekitar kita. Beberapa dari kita memiliki pelabelan negatif terhadap seorang yang memiliki dedikasi dan ambisi yang tinggi terhadap iklim intelektualitas. Perlu untuk dipahami, bahwa sentimen akan intelektualitas di sini bukan pengenaan terhadap orangnya, jabatannya, atau status sosialnya, melainkan dari perangai, tindak tutur verbal, corak khas ala formal yang terkesan bagi mereka sebagai arogansi, peninggian martabat, dan bertindak secara elitis.



Tanpa pernah kita sadari, aliran dialektika kita sehari-hari sekarang ini sudah diracuni oleh kultur komoditas (pembeli adalah raja dan raja harus melayani konsumen dengan se-praktis dan se-jumawa mungkin). Bahkan, ketika penulis sendiri merasa kesulitan untuk berdialog dan menyesuaikan berbagai kosakata yang sebenarnya terbungkus di otak, ada aura intimidatif yang terpancar dari lawan tutur untuk diri memikirkan kembali penggunaan bahasa: apakah dengan rentetan kata yang seperti ini atau pengungkapan kalimat yang seperti itu akan memudahkan lawan untuk memahami—jadi agar tidak terbangun kesan hampa ketika mendengar.

Daniel Kahneman, dalam penelitiannya, juga menegaskan bahwa otak manusia memiliki preferensi alami untuk menghindari beban kerja mental yang berat, sehingga kita lebih mudah menerima informasi yang terasa familiar dan sederhana sebagai sebuah kebenaran. Jadi, alih-alih kebenaran dikemas sebagai substansi yang otentik, orisinil, baku, dan tentunya epistemik tanpa dicoraki oleh bias, ironisnya di era post-truth sekarang ini, substansi tersebut harus direkonstruksi, dibingkai ulang, dan dibungkus lagi dengan pemaparan yang sederhana, fleksibel, serta praktis tanpa mempertimbangkan konsekuensi terhadap distorsi makna.

Sayangnya, fenomena ini juga belum cukup untuk menorehkan perhatian yang cukup serius belakangan ini, mengingat implikasinya bisa fatal, yaitu deligitimasi nilai-nilai rasional dan epistemik sebagai fondasi dasar ilmu pengetahuan.



Menurut Dweck, seorang psikolog pendidikan, situasi yang bagi mereka terkesan menantang dapat menjadi ancaman bagi mereka yang kukuh dengan pola pikir yang sudah mapan. Akibatnya, ini bisa menghambat pertumbuhan kecerdasan seseorang dalam jangka panjang. Situasi ini kemudian diperparah oleh ekosistem digital kita yang mendewakan durasi pendek dan visualisasi menarik di mana kedalaman substansi sering kali dikorbankan demi engagement dan retensi penonton.

Platform seperti TikTok atau YouTube Shorts secara struktural mendesain pola komunikasi yang membatasi kemampuan kita untuk berdialektika dengan gagasan-gagasan abstrak yang membutuhkan penalaran yang panjang.



Memang sepanjang temuan penulis, masih banyak juga para konten kreator yang mengemas secara aktual dan narasinya cukup lengkap, tetapi tidak sebanyak mereka yang biasanya menawarkan pemahaman dengan face-to-face, dengan aspek pemikat berupa gestur tubuh serta analogi-analogi penyederhanaan yang sering disebut dengan “bahasa bayi”. Bertolak dari sana, spektrum wacana jadi semakin keruh, wacana-wacana ilmiah menjadi objek kritisisme yang tidak berbobot karena egosentrik mereka menghendaki adanya esensi kemudahan dalam dialog.

Itu sebabnya para populis mengambil alih kontrol dari fenomena dilematis ini sebagai alat komodifikasi mereka, demi mengejar angka penonton yang tinggi. Akibatnya, terbentuklah ilusi kompetensi di mana seseorang merasa telah memahami geopolitik dunia atau mekanika kuantum hanya dengan menonton video berdurasi enam puluh detik, tanpa pernah menyentuh literatur primernya.

Tentu saja kita tidak bisa menutup mata terhadap argumen bahwa penyederhanaan bahasa diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, terutama bagi masyarakat dengan akses pendidikan yang terbatas.



Namun, terdapat garis demarkasi yang tegas antara membuat sesuatu menjadi aksesibel dan melakukan oversimplifikasi yang mendistorsi esensi kebenaran materi tersebut hingga kehilangan maknanya. Dan tentu saja, tahun-tahun belakangan ini sudah terjadi setidaknya pergeseran paradigma kritis dengan sosok publik figur terkenal, yang menjadi pilar utama naik daunnya tren literasi kritis belakangan ini. Sosok tersebut ialah Ferry Irwandi, di mana ia bersama dengan rekan sejawatnya—dalam komunitas Madilog—berhasil menjangkau apa yang tak bisa kebanyakan akademisi torehkan.

Dengan pengikut akunnya yang sudah melampaui jutaan, tidak perlu diragukan bahwa banyak dari mereka adalah kelompok masyarakat yang suka dengan model penyampaian “bahasa bayi” yang selalu ia terapkan dalam konten. Kendati demikian, tentu saja ia sudah memahami betul markah pembatas tersebut dengan baik tanpa mempersempit ruang logika yang otentis, ilmiah, dan konkret, sehingga wacana yang termutakhir pun terbentuk sebagai wacana ilmiah populer, di mana seseorang mampu dan merasa bebas berargumen, tanpa ada bentuk gatekeeping bahasa yang mengisolasi mereka.



Namun, perlu disadari juga, bahwa setiap aksi selalu berujung pada konsekuensi. Kita perlu juga mengenal istilah Pseudo-Intelektualisme, sebuah fenomena di mana seseorang sering kali berusaha terlihat pintar, bijaksana, dan terdidik tanpa benar-benar memiliki landasan intelektual yang kuat. Dan ini justru menjadi racun yang bahkan lebih mematikan lagi karena sudah masuk mode abu-abu.

Lev Vygotsky—melalui konsep Zone of Proximal Development—mengajarkan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika individu didorong sedikit di luar zona nyaman-nya dengan bantuan mentor, bukan dengan menurunkan standar materi hingga ke titik terendah agar siswa merasa nyaman. Menyamaratakan standar komunikasi publik ke level terendah—dengan dalih pemerataan serta inklusivitas—justru merupakan bentuk penghinaan terselubung terhadap potensi kecerdasan masyarakat itu sendiri. Mentalitas budak ini hanya bisa ditumpas dengan kesadaran kolektif yang berhasil melalui garis perjuangan dan tentu dalam situasi yang kritis.

Karena bagaimanapun juga, biang keladi dari bibit-bibit kebiasaan mengonsumsi objek yang instan adalah ketersediaan dan hilangnya urgensi terhadap kesadaran itu.