Kisah Ratu Sirikit, Sang Ratu yang Menginspirasi

Posted on

Profil Ratu Sirikit, Istri Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang Disanjung Rakyatnya

Ratu Sirikit adalah istri dari Raja Thailand Bhumibol Adulyadej (Rama IX). Perempuan kelahiran 12 Agustus 1932 ini memiliki gelar resmi, yaitu Somdej Phra Nangchao Sirikit Phra Boromarajininat yang berarti “Yang Mulia Ratu Sirikit.” Ia dikenal sebagai sosok yang sangat disanjung dan dihormati oleh rakyat Thailand. Selain itu, ia juga memiliki 38 gelar kehormatan yang membuatnya menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah kerajaan Thailand.

Ratu Sirikit yang memiliki nama asli Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara adalah seorang putri pertama dari Kolonel Mom Chao Nakkhatra Mangkala Kitiyakara. Ayah Ratu Sirikit memiliki hubungan yang cukup dekat dengan keluarga kerajaan dan Mom Luang Bua Kitiyakara. Gelar Mom Rajawongse yang dimiliki ayah Ratu Sirikit menandakan bahwa ia merupakan anak dari Mom Chao. Kakek Ratu Sirikit adalah seorang HRH Pangeran Kitiyakara Voralaksana, Pangeran Chandaburi, anak dari Raja Rama V. Kakek Sirikit pun memiliki hubungan saudara dengan HRH Pangeran Mahidol dari Songkla, ayah dari Raja Bhumibol Adulyadej.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Mengutip dari Channel News Asia, Sirikit dilahirkan di rumah kakek dari ibunya, Jenderal Chao Phraya Wongsanuprapat (Mom Rajawongse Staan Snidwongse), tepatnya di Bangkok, Thailand. Sirikit menerima pendidikan dasar di sekolah katolik Santo Fransiskus Xaverius. Saat Sirikit masih kecil, ayahnya sudah menjabat sebagai duta Thailand di Prancis, Denmark, dan Inggris.

Ratu Sirikit pun pernah mengenyam pendidikan di negara orang, yakni Swiss. Di sana, ia bertemu dengan Bhumibol yang sama-sama menempuh pendidikan di Swiss. Pada 19 Juli 1949, mereka melangsungkan pertunangan di Lausanne. Satu tahun setelah bertunangan, tepatnya pada Maret 1950, Bhumibol dan Sirikit kembali ke Thailand untuk mengurus pernikahannya. Akhirnya, 28 April 1950, mereka berdua memantapkan hati untuk melanjutkan kehidupan ke jenjang yang lebih serius. Mereka melangsungkan pernikahan di Istana Pathumwan.

Kehidupan Keluarga dan Kontribusi Sosial

Dalam keluarga kecilnya, Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit dikaruniai empat orang anak, yakni Putri Ubol Ratana (kelahiran 5 April 1951), HRH Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn (kelahiran 28 Juli 1952), HRH Putri Maha Chakri Sirindhorn (kelahiran 2 April 1955), dan HRH Putri Chulabhorn Walailak (kelahiran 4 Juli 1957).

Sama seperti suaminya, Ratu Sirikit sangat terkenal dan dihormati di Thailand. Sang suami tercatat sebagai kepala negara dengan pemerintahan terlama di dunia. Akibatnya, Ratu Sirikit juga menjadi permaisuri raja terlama di dunia. Wajar, jika sosoknya sangat dihormati rakyat Thailand. Hari ulang tahunnya pun menjadi hari libur nasional dan ditetapkan sebagai Hari Ibu di Thailand.

Mengutip dari p2k.unkris, Sirikit memiliki jiwa sosial tinggi yang dikenal senang melakukan kegiatan amal. Ia tercatat sebagai Presiden Palang Merah Thailand sejak 1956. Sirikit juga peduli terhadap nasib pengungsi Kamboja dan Myanmar yang melarikan diri ke Thailand.

Keistimewaan dan Penghargaan

Kecintaan Sirikit pada musik membuatnya kerap kali menciptakan beberapa lagu. Ia berhasil menulis lagu In Memory of my European Trip pada 1964 yang mengisahkan waktunya di Eropa bersama sang kekasih hati. Sirikit juga merupakan seorang komposer lagu yang dibawakan oleh The Handsome Band, band istana.

Selain itu, Ratu Sirikit juga memegang 38 gelar kehormatan dari berbagai universitas di seluruh dunia. Universitas tersebut, antara lain adalah Universitas Saint Petersburg di Rusia, Universitas Georgetown dan Universitas John Hopkins di Amerika Serikat, Universitas Tokai di Jepang, serta Universitas Centro Escolar di Filipina.

Sangat disanjung dan dihormati oleh rakyat Thailand, membuat beberapa tempat di Thailand dinamakan dengan nama Sirikit. Tempat-tempat tersebut, yaitu Balai Sidang Nasional Ratu Sirikit (Bangkok), Taman Ratu Sirikit (Bangkok), Bendungan Sirikit (Sungai Nan), Taman Botani Ratu Sirikit (Chiang Mai), Piala Ratu Sirikit, dan Mawar Ratu.

Kecantikan dan Gaya Hidup

Ratu Sirikit dan Raja Bhumibol Adulyadej resmi menikah pada 28 April 1950, yang kala itu sang ratu belum genap berusia 18 tahun. Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit ini bertemu saat keduanya tengah berada di Perancis.

Meski dikenal sebagai sosok wanita yang cantik, namun ratu Sirikit nyatanya menolak proses penuaan dengan melakukan diet bahkan operasi plastik. “Ratu Sirikit memiliki kecantikan porselin bermata biru, bertubuh mungil dan rambut serta kulit yang indah,” ujar narator SW History. “Jika bukan karena kegemarannya melakukan operasi plastik legenda kecantikannya akan bertahan lebih lama,” sambungnya.

Saat menjalani kunjungan luar negeri, pesonanya kerap mencuri perhatian publik dunia. Ia disebut sebagai “Ratu tercantik di dunia” oleh berbagai media internasional dan kerap menghiasi sampul majalah bergengsi seperti TIME dan Paris Match. Di masa mudanya, Sirikit dikenal sebagai ikon mode dunia. Ia sering dibandingkan dengan mantan Ibu Negara AS Jackie Kennedy karena penampilan elegannya. Bekerja sama dengan desainer Prancis ternama Pierre Balmain, Sirikit menciptakan busana berbahan sutra Thailand yang kini menjadi warisan budaya kebanggaan negaranya. Upayanya itu menjadikannya tokoh penting dalam pelestarian industri tenun sutra tradisional.

Lahir di Bangkok pada 12 Agustus 1932, Sirikit Kitiyakara merupakan putri seorang diplomat yang juga anggota keluarga kerajaan kecil. Ketika menempuh pendidikan di Paris, ia bertemu dengan Bhumibol yang kala itu masih muda dan tinggal di Swiss. Keduanya bertunangan pada 1949 dan menikah di Thailand setahun kemudian, tepat sebelum Bhumibol naik takhta. Dari pernikahan yang bertahan lebih dari enam dekade itu, mereka dikaruniai empat anak, termasuk Raja Maha Vajiralongkorn yang kini memimpin Thailand.