Sejarah dan Kehidupan di Pasar Cimol Gedebage
Di tengah keramaian kawasan Pasar Cimol Gedebage, suara musik khas Minang mengalun, menciptakan suasana yang khas. Di sini, setiap langkah kaki terdengar dengan suara hanger yang berdenting halus, menandai keberadaan berbagai koleksi pakaian yang siap dibeli. Suara tawar-menawar dan percakapan antara pedagang dan pembeli menggantung di udara.
Ketua Paguyuban Pasar Cimol Gedebage, Rusdianto, menjelaskan bahwa pasar ini menjadi tempat bagi para perantau untuk mencari penghidupan. Ia sendiri berasal dari Padang dan telah menjalani bisnis ini selama 28 tahun sejak tahun 1997. Dalam wawancaranya, ia menceritakan bagaimana ia membuka bal kemeja yang beratnya hampir menyentuh 100 kilogram, yang berisi ratusan pasang pakaian.
Kategori Pakaian dan Proses Pengelolaan
Rusdianto terampil dalam memilah dan mengatur barang dagangan sesuai kategori seperti blouse, kemeja, hoodie, rok, dan celana. Menurutnya, pedagang biasanya mengatur barang agar lebih mudah dicari oleh calon pembeli. Meski hari semakin malam, aliran orang tetap tidak surut, karena masih ada banyak pemburu barang thrifting.
Barang-barang yang diperjualbelikan berasal dari Jepang, Korea, dan impor lainnya. Di sela-sela tumpukan bal yang baru saja dibuka, ia menepikan sisa plastik pengikat. Ia menjelaskan bahwa barang-barang ini dulunya masuk melalui jalur estafet, mulai dari Malaysia hingga Jambi, dengan istilah lama seperti Roma atau Rungso.
Sejarah “Cimol” sendiri berasal dari perpindahan pedagang dari kawasan Cibadak, yang kemudian disingkat menjadi “Cimol”. Meskipun lokasi dagang kini sudah berpindah, sebutan itu tetap melekat.
Perpindahan dan Tantangan Pasar
Dulu, Rusdianto menjual barang di Kebon Kelapa sebelum dipindahkan ke Tegallega. Perpindahan ini bukan sekadar perpindahan lapak, tapi juga sejarah panjang tentang bagaimana PKL diusung dari satu titik “mati” ke titik “mati” lain. Pada 2004, ketika pemerintah merapikan ruang publik menjelang Konferensi Asia Afrika, PKL Cimol dipindahkan ke gedung yang sekarang menjadi tempat mereka.
Menurutnya, sebagian besar pedagang mengawali modal hanya bermodalkan kepercayaan. Barang bisa masuk dulu, bayar belakangan. Kontrak lapak pun bisa per bulan, membuat Cimol nyaman bagi pemula. Harga sepotong kemeja pun bervariasi dari Rp10 ribu hingga Rp300 ribu per item.
Namun, irama pasar kini tak lagi seramai dulu. Omzet menurun, terutama sejak isu larangan impor barang bekas kembali naik ke permukaan. Ditambah gelombang pedagang online yang menyerbu semua kanal penjualan digital, pembeli yang dulu ramai borongan kini tak lagi bisa ditebak.
Isu Larangan Impor dan Dampaknya
Isu larangan impor barang bekas dalam dunia thrifting bukan hal baru. Sudah jadi pembicaraan lama di kalangan pedagang. Namun sejak pergantian Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, tensinya terasa naik. Rencana kebijakan kembali menyorot praktik jual beli pakaian bekas, dan para pedagang di lapangan merasakan langsung dampaknya.
Rusdianto mengatakan bahwa barang impor ilegal bukan perkara baru. Namun, dengan adanya Menteri Keuangan yang baru, mereka melihat thrifting ini sangat berpengaruh. Ia menegaskan bahwa sebagai pedagang, ia memahami regulasi negara, namun ia hanya bicara realitas sederhana. Ada banyak keluarga hidup dari sini, termasuk pendidikan anak-anaknya.
Solusi dan Harapan
Ia meminta pemerintah memikirkan dari berbagai aspek. Salah satunya, jangan sampai kebijakan para peracik kebijakan ini memutus rantai rezeki para pedagang. Menurutnya, thrifting cukup membantu pedagang kalangan menengah ke bawah, baik dari segi perdagangan maupun karyawannya.
Pada titik ini, tanggung jawab bukan hanya di pundak para pedagang kecil di lorong-lorong pasar. Menurutnya, pemerintah pun mesti menimbang dengan hati yang dingin. Mereka harus jeli apakah barang yang berseliweran di lapangan itu benar-benar membawa mudarat bagi warga atau menjadi jalan rezeki.
Risiko Kesehatan dan Proses Pemilahan
Kendati demikian, sejumlah risiko kesehatan terhadap barang thrifting berhasil menggoyahkan para pedagang. Dulu diinformasikan barang thrifting ini mengandung virus, penyakit SARS, segala macam. Namun, Rusdianto menyebut bahwa proses memilah barang turut diperhatikan. Setiap kali ia membuka tumpukan barang yang baru datang, selalu ada ritual kecil yang ia lakukan sebelum barang itu dipajang, disterilkan dengan setrika uap, panasnya dibiarkan menembus serat kain.
“Jadi otomatis kumannya lebih mati,” ujarnya. Dan selama proses itu berlangsung, justru dirinya sendiri yang paling dulu bersentuhan dengan barang-barang itu, tangan, napas, dan kulitnya bersinggungan langsung dengan setiap helai yang ia urai satu per satu.
“Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah saya kena virus, kena penyakit. Jadi, dalam hal ini saya sebagai pedagang berharap kepada pemerintah untuk janganlah terlalu belum membesar-besarkan (isu), ini masalah hajat orang banyak ya,” ucapnya.
