Tragedi Kecil yang Mengguncang Sistem
Seorang siswa SD berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) nekat mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Korban, yang diketahui bernama YBR, meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh dekat tempat tinggalnya.
Surat pesan terakhir korban untuk ibunya menjadi salah satu hal yang menyentuh hati. Dalam surat tersebut, YBR meminta agar ibunya tidak sedih dan tidak mencarinya setelah ia pergi selamanya. Surat itu ditulis sebelum ia melakukan aksi nekatnya.
Korban diduga mengalami depresi karena kesulitan ekonomi. Ia tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah. Nenek korban, yang bekerja sebagai penjual sayur, mengakui bahwa cucunya sering meminta perlengkapan sekolah. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya sulit memenuhi permintaan tersebut.
YBR juga sempat mengeluh pusing dan tidak ingin berangkat ke sekolah sebelum kejadian. Ibu korban, Maria Goreti Te’a, terus mendorong anaknya untuk masuk sekolah. Bahkan, ia memesankan ojek untuk membawa YBR ke sekolah. Namun, YBR tidak berangkat dan pulang ke rumah.
Di rumah, YBR menulis surat pesan sedih kepada ibunya. Setelah itu, ia melakukan aksi nekatnya dan ditemukan tewas di pohon cengkeh. Kejadian ini membuat Maria sangat kaget. Ia tidak menyangka bahwa anaknya akan meninggal begitu saja.
Latar Belakang Keluarga yang Memilukan
YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak kecil, ia hidup dalam keterbatasan. Pada usia belum dua tahun, ia harus tinggal bersama neneknya. Mereka tinggal di pondok sederhana berdinding bambu, sementara ibu korban tinggal di rumah lain. Ayah korban merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan belum pernah kembali.
YBR dikenal sebagai sosok pendiam dan penurut. Namun, tekanan ekonomi dan kesulitan hidup membuatnya semakin tertekan. Ia tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti buku dan pena, yang menjadi penghalang untuk bersekolah.
Penjelasan dari Pihak Berwajib
Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort menjelaskan bahwa jasad YBR pertama kali ditemukan oleh tetangga. Warga bernama KD (59) melihat korban saat hendak mengurus hewan ternak. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke pemerintah desa dan kepolisian.
Polres Ngada melakukan olah TKP dan meminta keterangan sejumlah saksi. Ipda Benediktus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia juga mengimbau orang tua lebih memperhatikan anak-anak mereka.
Kritik dari Rocky Gerung
Peristiwa ini mendapat perhatian dari pengamat politik Rocky Gerung. Ia menilai, kebijakan pusat gagal menangani kemiskinan ekstrem di daerah terpencil. Menurut Rocky, pemangkasan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) dan pendidikan berdampak pada masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.
Rocky menyebut, negara sejak awal tahu banyak daerah, termasuk NTT, tidak memiliki kemampuan ekonomi sendiri. Pendapatan daerah yang minim, keterbatasan akses terhadap sumber daya, serta ketiadaan sumber ekonomi berkelanjutan membuat daerah ini sangat bergantung pada bantuan pusat.
Ia menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto tentang kebesaran bangsa dan kebahagiaan rakyat. Namun, menurut Rocky, semua janji itu gugur dengan tragedi seperti ini. Anak berusia 10 tahun yang memutuskan mengakhiri hidupnya menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat.
Pesan untuk Masa Depan
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa isu-isu besar negara bisa runtuh oleh fakta-fakta kecil yang diabaikan. Bagi Rocky, ini menjadi pedoman pertama untuk mengembalikan hak rakyat menuntut keadilan.
