Kisah Mengejutkan Penyekapan 4 Orang di Pondok Aren, Suara Cambukan Terdengar

Posted on

Penyekapan dan Penganiayaan yang Menyedihkan

Empat orang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan yang sangat mengerikan. Kejadian ini terjadi ketika mereka ingin bertemu dengan seseorang untuk melakukan transaksi jual-beli mobil secara COD (Cash on Delivery). Korban dibawa ke dalam mobil dengan mata diikat dan kemudian dibawa ke sebuah rumah. Di tempat tersebut, mereka mengalami penyiksaan yang sangat menyakitkan.

Korban diberi cambukan, disulut rokok, dan dipukul menggunakan benda tumpul. Salah satu korban berhasil kabur dengan cara memanjat pagar dan bertemu dengan seorang kakek saat berlari. Setelah melaporkan kejadian tersebut ke polisi, beberapa jam kemudian korban kembali bersama polisi untuk menyelamatkan sandera lainnya.

Kronologi Penculikan

Awal Pertemuan – Sabtu, 11 Oktober 2025, pukul 22.30 WIB

Empat korban (Indra, Nurul/Ibenk, Ajit Abdul Majid, dan Dessi) sepakat bertemu dengan seseorang berinisial NN di sebuah angkringan di Jagakarsa, Jakarta Selatan untuk transaksi jual beli mobil tahun 2021.

Uang DP Sudah Ditransfer

Sebelum pertemuan, korban telah mentransfer uang DP sebesar Rp 49 juta ke rekening NN.

Pelaku Datang Bersama Komplotan

Saat korban sedang memesan makanan, NN tiba bersama beberapa pelaku lainnya.

Penyergapan Mendadak

Pelaku langsung merampas ponsel dan tas milik korban sambil berteriak “Kooperatif! Kooperatif!”

Korban Dipaksa Masuk Mobil

Keempat korban didorong ke dalam mobil dan mata mereka ditutup kain hitam.

Dibawa ke Rumah di Pondok Aren, Tangerang Selatan

Korban diangkut ke sebuah rumah dan dimasukkan ke kamar di lantai dua.

Alami Penyiksaan Sadis

Selama disekap, mereka mengalami siksaan tanpa henti dari para pelaku, termasuk cambukan yang menyebabkan luka gores dan memar di punggung korban.

“Kaki, paha juga, semua, bibir, kepala pada benjol. Kayak membabi buta,” ucap Indra salah satu korban.

“Karena dipukul, karena dicambuki,” ujar Ajit menimpali.

Menurut Indra, para pelaku menyiksa mereka secara bergantian dengan berbagai macam alat.

“Ada yang pakai selang, ada yang pakai kabel, terus gantungan baju, hanger,” kata Indra.

“Paki hanger yang kawat itu, dipukuli, dicambuk-cambuk semuanya badan yang belakang, pakai rokok gitu kan (disundut),” tambah dia.

Dalam kesempatan ini, Nurul mengatakan, pelaku tidak mempunyai rasa kemanusiaan kepada para korban.

“Kayak bukan manusia, Bang. Saya kayak bukan manusia yang enggak dihargai, kayak hewan, saya ditendang,” ujar Nurul sambil menangis.

Sementara itu, Ajid mengungkapkan penyiksaan berlangsung selama berjam-jam mulai sejak tiba pada malam hari di rumah penyekapan hingga pagi hari. Para korban hanya diberikan waktu istirahat selama satu hingga dua jam.

“Jam 11 (malam) ya, sampai ke rumah penyekapan. Disiksa sampai subuh itu kan, istirahat sejam, dua jam, disiksa lagi. Pokoknya sebentar-sebentar disiksa pokoknya mah. Sangat kejam sekali itu,” ungkap Ajid.

Cerita Pelarian

Berhasilnya mereka diselamatkan atas perjuangan dan keberanian Dessi korban wanita yang mencoba peruntungan melarikan diri.

Saat menceritakan kisah pelariannya, Dessi terlihat beberapa kali menangis. Ia menangis karena bisa kabur dan bisa menyelamatkan teman-temannya.

Menurut Dessi, Dua hari berselang sekitar pukul 04.50 WIB, Dessi berhasil melarikan diri. Malam itu Ia memanfaatkan situasi ketika para pelaku yang berjaga di rumah penyekapan sedang tertidur pulas.

“Saya waktu Subuh hari Senin jam 4.50 mendapati penjaga sudah pada tidur. Ada empat orang, cewek satu, laki-laki ada tiga, sudah terlelap tidur,” kata Dessi dalam video yang diterima, Jumat (17/10/2025).

Di kesunyian malam, Dessi mencoba mengendap-endap keluar dari rumah, kebetulan malam itu pintu rumah tidak dikunci. Ia lalu berusaha membuka gerbang rumah, namun tidak berhasil. Tak kehabisan akal, Dessi bergerak ke pagar besi yang berada di samping gerbang. Setelahnya, ia nekat memanjat pagar hingga membuat celananya robek.

“Kebetulan pintu rumah tidak terkunci, saya keluar secara perlahan-lahan, mau buka pintu gerbang susah dibuka,” katanya.

“Saya pindah lagi ke samping rumahnya yang pagar besi, saya naik dari situ nekat, lompat, sampai celana saya robek,” ungkap Dessi.

Ketika sudah berada di luar rumah penyekapan, Dessi berlari sekencang-kencangnya hingga bertemu seorang kakek yang tengah melintas. Tak lama kemudian, Dessi bertemu sopir taksi yang membantunya mengantar ke rumah ibu mertuanya di wilayah Cibubur.

“Saya bertemu kakek tua yang jadi penolong saya buat ke jalan Raya, saya sempet tanya ‘Ini daerah Pak?’ katanya Pondok Aren, Tangerang Selatan,” kata Dessi.

“Dari situ saya ketemu Bapak taksi yang baik hati, saya diantar ke Cibubur, terima kasih kepada Bapak Taksi,” imbuhnya.

Sesampainya di rumah ibu mertua, Dessi langsung menghubungi sejumlah anggota keluarganya yang berada di Bandung. Ia pun disarankan untuk segera melapor ke Polda Metro Jaya agar tiga korban lainnya dapat diselamatkan.

“Ya sudah saya nurut omongan kakak saya, saya didampingi ke Polda Metro Jaya buat laporan, sampai secepatnya ditindaklanjuti juga dari SPKT dioper ke Resmob, langsung saya diantar ke TKP. Alhamdulillah semua lancar, berjalan dengan sangat cepat,” ujar Dessi.

Peran Pelaku

Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi menjelaskan, MAM berperan sebagai koordinator lapangan, perencana, eksekutor, penyedia mobil, dan memeras korban.

“Saudari NN itu perannya sebagai koordinator lapangan, kemudian memancing agar korban mau ikut, kemudian memeras korban,” ujar Ade Ary saat ditemui di Polda Metro Jaya, Kamis (16/10/2025).

Ketiga, VS memerintahkan salah satu tersangka untuk merekam kejadian tersebut, yang videonya kini viral di berbagai akun media sosial. Selain itu, VS juga bertugas menjaga korban agar tidak melarikan diri serta menyediakan rumah sebagai tempat penyekapan.

“Kemudian tersangka yang keempat adalah HJE, 25 tahun. Perannya itu ikut menyiksa korban. Kelima, tersangka S, 35 tahun, sebagai eksekutor, menyiksa korban dan juga menyediakan rumah,” ungkap Ade Ary.

Keenam, APN sebagai tersangka yang merekam video dan turut membawa empat korban dari wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ketujuh, Z berperan menyiksa korban. Sementara I sebagai eksekutor, koordinator lapangan, menyediakan mobil, dan juga menyiksa korban.

“Kemudian yang kesembilan, saudara MA ini usianya 39 tahun. Perannya menyediakan rumah,” kata dia.

Sejauh ini penyidik Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya masih memeriksa para tersangka secara intensif terkait hubungan hingga motif tindak pidana.