PasarModern.com – Tinggal jauh dari orangtua, Dhanu Prakoso dan La Ode Ashamad Nusriah tak menyia-nyiakan kesempatan belajar gratis di STMKG yang dibiayai oleh negara.
Dhanu dan Ashamad merupakan dua taruna sekolah kedinasan Sekolah Tinggi Meteoroolgi Klimatologi Geofisika (STMKG) angkatan 2023 Prodi Meteorologi.
Mereka meraih indeks prestasi (IP) tertinggi pada semester 4 lalu yakni menempati peringkat 1 dan 2 dari total seluruh rekan-rekan seangkatan.
Dhanu (20) yang berasal dari Batam, Kepulauan Riau mencatatkan IP semester 4 sebesar 3,68.
Sedangkan IP Ashamad sang putra Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara beda tipis yakni 3,65. Padahal, STMKG bukan tujuan awal dalam rencana pendidikan mereka.
Bukan tujuan awal
Kondisi ekonomi keluarga menyurutkan niat Dhanu untuk mengejar cita-cita aslinya selepas SMA.
“Sebenernya cita-cita saya itu mau jadi dokter,” kata Dhanu saat ditemui PasarModern.com di kampus STMKG, Tangerang, Senin (8/12/2025).
Ia mengaku dulu tak mengetahui apapun tentang sekolah kedinasan. Ketika kelas 12 SMA tempat Dhanu belajar kedatangan pihak STMKG yang melakukan sosialisasi. Dhanu kemudian mulai tertarik dengan sekolah kedinasan milik BMKG ini.
“Karena melihat kondisi ekonomi keluarga dan berbagai hal lah, melihat ada prospek di kedinasan ini lebih baik untuk saya mungkin ya, jadinya saya memilih ke sini,” ungkap Dhanu.
Kebetulan daerah domisili Dhanu tergolong sebagai daerah afirmasi dalam seleksi masuk STMKG, sehingga jumlah pendaftarnya lebih sedikit dan membuat peluang diterima lebih besar.
Mempelajari meteorologi juga bukan minat Dhanu sesungguhnya.
“Tapi karena di sini ada sainsnya dan matematikanya juga ada. Dan saya lebih suka yang sains, apalagi matematika itu. Jadinya ya tetap aja saya nikmatin,” tutur Dhanu.
Mengira belajar meteor, ternyata…
Hal serupa juga dialami Ashamad (20). Ia sebelumnya tak terpikirkan untuk masuk sekolah kedinasan STMKG.
Ashamad memang sempat mencari soal sekolah-sekolah kedinasan, tetapi ia mendapati bahwa ilmu-ilmu yang dipelajari lebih mengarah ke ilmu sosial.
Sementara sebagai murid SMA jurusan IPA, ia ingin mendalami sains. Kemudian ia menanyakan lebih rinci tentang STMKG ke senior SMA yang telah lebih dulu masuk menjadi taruna.
“Sempat keterima di Universitas Halu Oleo lewat SNBT dulu di (jurusan) Farmasi, tapi karena keterima di sini jadinya milihnya ke sini,” tutur juara kelas selama SMA ini.
Sebelum menentukan prodi yang akan dipilih di STMKG, Ashmad mencari-cari informasi lalu berpikir ingin menghindari prodi Geofisika karena takut dengan pelajaran fisika.
“Jadi pilihnya ya udah Meteorologi. Namanya juga unik kan, Meteor. Pikirnya belajar meteor, ternyata berbeda jauh enggak belajar terkait meteor. Jadi belajarnya itu terkait hubungan atmosfer dengan laut, bagaimana kondisi atmosfer. Setelah tahu beda ya udah lah udah terlanjur masuk, jalanin aja,” ucap Ashamad tertawa.
Menurutnya semakin atas semester yang dijalani ilmu Meteorologi kian sulit.
Kiat belajar ala taruna STMKG
Bagi Dhanu setiap dosen memaparkan materi ia harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh supaya ketika mempelajari kembali lagi materi-materi tersebut terasa lebih mudah.
“Selain menerima materi dari mata kuliah dosennya, kita juga nyari informasi yang menunjang mata kuliah tersebut dari sumber-sumber lainnya,” kata Dhanu.
Pada awal perkuliahan di STMKG ia merasa mengulang pelajaran-pelajaran di masa SMA. Sistem STMKG yang semi militer juga bukan problem besar bagi Dhanu yang hobi olahraga.
“Cuma untuk kedisiplinannya mungkin yang saya lebih bertahap belajar. Karena di situ mulai belajar tentang manajemen waktu yang lebih baik lagi, gimana cara kondisi tidurnya. Karena saya waktu masih SMA banyak begadang, banyak hal-hal lainnya yang enggak teratur lah. Jadinya di sini lebih disiplin,” jelas Dhanu.
Ashmad juga memilih memperhatikan dengan serius penjelasan dosen di kelas agar tak perlu terlalu banyak mengulang saat hendak ujian semester.
Ia juga mengusahakan untuk segera mengerjakan tugas supaya tidak mepet batas waktu pengumpulan.
“Di sini juga ada seniornya yang selalu membantu ya. Kalau misalnya ada kesulitan terkait mata kuliah yang susah kita bisa tanya ke senior yang sudah mempelajari itu lebih dahulu. Saya jadinya merasa terbantu juga dengan adanya senior yang bisa selalu membantu,” ucap Ashamad.
Kelola uang tunjangan
Lantaran sudah bukan taruna tahun pertama di STMKG, Dhanu dan Ashmad tak lagi bisa tinggal di asrama yang disediakan.
Mereka kini tinggal di rumah kos dekat kampus yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
Dengan uang tunjangan ikatan dinas (TID) sebesar Rp 600.000 yang diberi oleh STMKG, mereka berusaha mencukupi segala keperluan hidup bulanan.
“Untuk saya sendiri kalau nge-kos langsung habis sih. Jadi uangnya dipakai buat bayar kos biasanya,” aku Dhanu.
Untuk makan dan kebutuhan lainnya, mereka mengandalkan uang saku dari orangtua.
“Kami udah dikasih Rp 600 ribu pun udah bersyukur sih buat bantuan-bantuan hidup kami juga. Karena kan kuliahnya gratis. Terus setelah lulus juga dijamin langsung kerja. Jadi kayak sepadan lah untuk apa yang kami keluarkan nanti,” tutur Ashamad.
