Kisah di Balik Ruang Lokakarya

Posted on

Ruang Lokakarya yang Penuh Harapan dan Kekhawatiran

Aku kembali duduk di sebuah ruang lokakarya. Entah sudah untuk yang keberapa kali. Mungkin yang keseratus, atau lebih. Dindingnya berwarna krem ada motif bunga pada pintu-pintu besarnya, AC-nya bekerja terlalu baik, dan di depan, layar proyektor menampilkan slide berjudul panjang: “Strengthening Anti-Money Laundering Mechanisms for Safeguarding Carbon Trade Market in Indonesia.”

Kalimat yang terdengar megah, penuh harapan, dan terasa penting. Tapi di hatiku, ada sesuatu yang bergetar pelan: rasa lelah yang akrab.

Sudah puluhan tahun negeri ini berbicara tentang penyelamatan hutan — tentang menjaga paru-paru dunia, tentang keberlanjutan, tentang masa depan generasi. Tapi di lapangan, pepohonan tetap tumbang, sungai tetap keruh, dan laporan kehilangan hutan terus bertambah setiap tahun. Sementara di ruang berpendingin seperti ini, kita masih menulis strategi, menyusun rencana, dan membahas roadmap yang tampak rapi di kertas.

Kali ini, lokakarya difasilitasi oleh kantor PBB — United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Topiknya menarik: Safeguarding the Carbon Trade Market From Financial Crime . Ada semacam semangat baru di udara — seolah kita akhirnya menemukan pintu lain untuk menembus kebuntuan lama. Tapi jujur saja, di dasar pikiranku, ada bayangan dj vu.

Sudah berapa kali kita berbicara dengan semangat yang sama? Dengan kata-kata yang berbeda, tapi maknanya tetap?

Hutan kita terus diselamatkan di atas kertas, tapi di lapangan ia terus diserbu, ditebang, dikorbankan.

Hari itu aku bukan sekadar peserta. Aku menjadi salah satu narasumber di lokakarya ini. Di depan para pejabat, penegak hukum, perwakilan NGO, dan sektor swasta, aku mencoba menjelaskan apa yang selama ini sudah dilakukan — peran NGO, upaya membangun sistem pengawasan, memperkuat koordinasi, penguatan kapasitas NGO dan masyarakat dan mendorong kerja sama lintas sektor untuk mencegah kejahatan finansial di sektor karbon.

Aku memaparkan data, memaparkan praktik di lapangan, sekaligus menceritakan tantangan yang kami hadapi: lemahnya sinkronisasi antar lembaga, keterbatasan kapasitas, celah regulasi yang masih dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.

Namun aku juga menyampaikan harapan dan rekomendasi — bahwa perubahan itu mungkin, asalkan kita mau bekerja bersama, dengan kejujuran dan komitmen yang sama kuatnya dengan niat para pelaku kejahatan memanipulasi sistem.

Ketika aku berbicara, aku tahu sebagian orang mungkin sudah sering mendengarnya. Kata-kata seperti “sinergi”, “transparansi”, dan “integritas” sudah begitu sering diucapkan hingga kehilangan gaungnya.

Tapi entah mengapa, hari itu, aku tetap ingin mengatakannya.

Mungkin bukan untuk mengubah dunia. Tapi untuk mengingatkan diriku sendiri agar tidak berhenti.

Carbon trade sejatinya adalah inovasi. Sebuah cara agar menjaga hutan bukan hanya urusan moral, tetapi juga ekonomi. Bahwa menahan diri untuk tidak menebang pohon bisa dihargai, dan emisi yang dikurangi bisa bernilai. Di atas kertas, konsep ini sangat indah. Tapi justru di situlah jebakannya.

Karena di balik setiap sistem yang mengandung nilai ekonomi, selalu ada yang berusaha menyimpangkannya.

Mereka memanipulasi data, menciptakan proyek karbon fiktif, menjual kredit emisi yang tidak pernah ada, dan mengalirkan uang hasilnya ke berbagai rekening rahasia.

Lucunya — atau ironisnya — mereka melakukannya dengan sangat profesional. Rapi, teknis, bahkan menggunakan istilah yang sama seperti para aktivis lingkungan. Bedanya hanya satu: mereka tidak peduli pada pohon, hanya pada dolar.

Sementara itu, kita di ruang ini, berdebat soal definisi, prosedur pelaporan, sinkronisasi antar lembaga, dan harmonisasi regulasi.

Di luar sana, pepohonan tumbang tanpa sempat berteriak.

Aku menghela napas pelan. Kadang aku merasa, sistem hukum kita seperti berlari dengan kaki terikat, sementara para pelaku kejahatan lingkungan sudah melaju dengan kendaraan super cepat.

Mereka punya satu keunggulan mendasar: mereka tidak tunduk pada aturan.

Mereka tidak perlu rapat, tidak perlu menunggu revisi peraturan, tidak perlu berkoordinasi lintas kementerian. Mereka bergerak bebas, cepat, dan efisien — dalam hal kejahatan.

Sementara kita, di ruang lokakarya ini, sibuk mencari cara agar langkah kita tetap berada di koridor hukum. Dan itu membuat kita tertinggal jauh.

Sungguh ironis, bukan?

Bahwa kejahatan bisa lebih efisien daripada kebaikan.

Namun, dalam setiap kalimat yang aku sampaikan, aku menyelipkan satu keyakinan kecil: bahwa meski jalannya berat, setiap langkah tetap berarti.

Bahwa perubahan bukanlah garis lurus yang mulus, tapi spiral yang berputar — kadang naik, kadang turun, kadang kembali ke titik yang sama hanya untuk menemukan pemahaman yang lebih dalam.

Dan semakin lama aku berbicara, semakin aku sadar: mungkin semua yang kuucapkan hari ini bukan untuk mengubah dunia, melainkan untuk mengubah diriku sendiri.

Agar aku tidak menyerah. Agar aku tetap percaya bahwa berjuang, walau perlahan, tetap lebih bermakna daripada diam dan membiarkan segalanya runtuh.

Sesi siang berlanjut. Seorang ahli hukum berbicara tentang pentingnya cross-sectoral collaboration dalam memerangi carbon trade crime. Aku mendengarkan, tapi pikiranku melayang.

Ke hutan di Kalimantan yang pernah kutapaki bertahun-tahun lalu.

Ke aroma tanah basah setelah hujan, suara burung yang entah kini masih ada atau sudah hilang.

Ke desa-desa kecil yang dulu menggantungkan hidup dari hutan, tapi kini justru jadi saksi pertama kehancurannya.

Ada perasaan kehilangan yang sulit dijelaskan. Seperti kehilangan sesuatu yang bukan milik pribadi, tapi sangat berarti.

Mungkin inilah yang disebut rasa bersalah kolektif — karena kita semua tahu apa yang salah, tapi tak mampu menghentikannya.

Menjelang sore, moderator menutup sesi dengan pertanyaan klasik: “Apa langkah paling realistis untuk mengamankan pasar karbon dari kejahatan finansial?”

Beragam jawaban bermunculan.

Regulasi lebih ketat.

Transparansi data.

Koordinasi antar lembaga.

Peningkatan kapasitas penegak hukum.

Semuanya terdengar benar. Tapi aku tahu, inti dari semuanya kembali pada hal yang paling sederhana — integritas.

Selama manusia di dalam sistem ini masih bisa dibeli, selama moral masih bisa dinegosiasikan, maka seberapa pun canggihnya sistem yang dibangun, ujungnya akan sama: kebocoran.

Hukum bisa kuat, tapi tanpa hati nurani, ia hanya menjadi teks dingin di atas kertas.

Ketika acara berakhir, aku berjalan pelan keluar ruangan. Pendingin ruangan yang sedari tadi membuat menggigil, kini terasa seperti metafora: dunia yang kita bangun sering kali tampak rapi dan nyaman di permukaan, tapi dingin di dalamnya.

Aku menatap ke luar jendela. Matahari sore jatuh miring, menembus kaca tinggi gedung pertemuan itu. Di kejauhan, kulihat hamparan hijau pepohonan — entah taman kota, entah hutan kecil yang tersisa. Dalam cahaya senja itu, ada sesuatu yang menenangkan sekaligus menggetarkan.

Ruang lokakarya itu seolah berbisik lembut: “Jangan menyerah.”

Ya, persoalan memang selalu ada. Kejahatan tak akan pernah lenyap. Tapi tekad untuk berjuang menyelamatkan hutan dan sumber daya alam juga tak boleh padam.

Karena selama masih ada satu orang yang mau berbicara, menulis, dan berbuat — sekecil apa pun — maka harapan belum mati.

Mungkin perjuangan ini tidak akan mengubah dunia secara instan. Tapi setidaknya, ia mengubah satu hal yang paling penting: diriku sendiri.

Agar aku tidak berhenti percaya bahwa kebaikan, sekecil apa pun, tetap layak diperjuangkan.

Dan mungkin, dari ruang-ruang dingin bernama lokakarya inilah, perubahan itu akan terus berputar — seperti spiral.

Pelan, tapi pasti.

Karena perjuangan sejati, seperti hutan yang kita lindungi, tumbuh dalam diam. Namun akarnya, sekali tertanam, akan terus mencari jalan untuk hidup.