Ringkasan Berita:
- Kisah Astin Nurdiana Dosen Teknik Geologi ITB yang lahir dari keluarga tukang kayu.
- Ia berhasil mengharumkan nama Indonesia melalui prestasinya di bidang kebumian.
- Kini, ia berkarier sebagai ilmuwan kebumian di Jepang.
PasarModern.com – Astin Nurdiana merupakan salah satu akademisi muda berbakat yang meniti karier dari latar kehidupan sederhana.
Lahir dari keluarga tukang kayu, ia membuktikan bahwa tekad kuat dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang menuju pencapaian gemilang.
Astin kemudian menempuh pendidikan hingga menjadi dosen di Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Prestasinya di bidang kebumian turut mengharumkan nama Indonesia, bahkan membawanya melangkah hingga ke kancah internasional.
Saat ini, Astin berkarier sebagai ilmuwan kebumian di Jepang, terus berkarya dan melakukan penelitian yang berkontribusi bagi dunia geosains.
Peneliti di Jepang
Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Astin Nurdiana, kini dikenal sebagai peneliti yang banyak berkarya di Jepang.
Namun sebelum mencapai titik tersebut, ia menempuh perjalanan panjang yang berawal dari sebuah rumah sederhana, tempat seorang anak tukang kayu tumbuh dengan mimpi besar.
Astin menghabiskan delapan tahun hidupnya di Negeri Sakura untuk menekuni riset mengenai interaksi batuan dan air pada tekanan serta suhu tinggi.
Fokus penelitiannya berkaitan erat dengan pengembangan energi panas bumi dan teknologi penyimpanan karbon dua bidang yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Jadi Dosen di ITB
Setelah menamatkan studinya, ia sempat menjabat sebagai asisten profesor sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan bergabung sebagai pengajar di ITB.
Perjalanan akademik yang mengesankan ini bermula jauh dari laboratorium modern.
Astin lahir dan besar di Kebumen, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana.
Ayahnya mencari nafkah sebagai tukang kayu pembuat mebel, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Walau hidup dalam keterbatasan, kedua orang tuanya selalu menanamkan satu prinsip kuat: pendidikan adalah bekal terbaik untuk memperbaiki masa depan.
“Dulu saya sering dibilang, perempuan sekolah tinggi nanti akhirnya ke dapur juga, tapi ayah selalu mengingatkan bahwa sekolah itu penting supaya kita bisa punya banyak pilihan dalam hidup,” kata Astin, dikutip dari laman resmi ITB dikutip dari Kompas.com, Rabu (24/12/2025).
Sejak kecil ia tumbuh dengan kegemaran membaca dan rasa ingin tahu yang besar.
Di sekolah menengah, Astin aktif mengikuti berbagai kegiatan dan tertarik mencoba hal baru.
Ikut Olimpiade Sains
Ketertarikannya pada ilmu kebumian muncul ketika ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang kebumian dan pulang membawa medali perak momen yang menjadi titik awal perjalanan ilmiahnya.
“Waktu itu saya sebenarnya belum terlalu paham apa itu kebumian, cuma tertarik karena materinya berbeda dari pelajaran sekolah pada umumnya.
Dan kebetulan ingin cari pelarian dari remidi matematika dan fisika,” ujarnya.
Ketertarikan tersebut tumbuh semakin kuat setelah mengikuti pembinaan olimpiade.
“Setelah ikut pembinaan, saya jadi tahu kalau bumi itu menarik sekali.
Ada proses-proses yang bisa kita lihat, bisa kita amati, dan itu membuat saya jadi lebih ingin tahu.
Dari situ saya mulai suka, bahkan setelah lomba selesai pun masih ingin belajar,” lanjutnya.
Mimpinya menempuh pendidikan tinggi makin terbuka ketika ia diterima di Teknik Geologi ITB melalui beasiswa Bidikmisi.
Dukungan tersebut menjadi jalan bagi Astin untuk kuliah tanpa terbebani biaya, sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan.
“Bidikmisi benar-benar mengubah hidup saya.
Dari situ saya bisa kuliah di ITB, sesuatu yang dulu rasanya jauh sekali dari jangkauan saya yang berasal dari desa.
Jangankan untuk kuliah, untuk SMA pun saya dibantu dengan beasiswa,” ucapnya.
Aktif Bina Peserta Olimpiade
Selama menjadi mahasiswa, Astin dikenal tekun belajar sekaligus aktif membina siswa-siswa peserta olimpiade kebumian di berbagai daerah.
Ketertarikannya pada dunia riset membawanya melanjutkan studi S2 ke Jepang melalui beasiswa Monbukagakusho (MEXT).
Di Tohoku University, ia mengikuti program integrasi magister dan doktoral di bidang ilmu kebumian sebuah kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai ke Jepang.
Waktu itu niatnya hanya ingin lanjut kuliah, dan ternyata Allah memberi jalan lewat beasiswa ini.
Saya bersyukur sekali bisa belajar di tempat dengan fasilitas dan lingkungan riset yang luar biasa,” tuturnya.
Di Jepang, ia kembali mendalami riset mengenai interaksi batuan-air pada kondisi ekstrem, bidang yang kemudian menjadi fokus kontribusinya dalam pengembangan energi panas bumi dan teknologi penyimpanan karbon.
Pengalaman tersebut tak hanya memperkaya wawasan ilmiahnya, tetapi juga mengajarkannya disiplin, manajemen waktu, serta sikap menghargai proses.
Setelah menyelesaikan studi S2 dan S3, Astin berkesempatan menjadi asisten profesor.
Meski karier akademiknya terbuka lebar di Jepang, pada 2025 ia memilih pulang ke Indonesia.
Keputusan itu muncul dari kerinduannya terhadap tanah air dan keinginan untuk ikut membangun ekosistem riset yang lebih kuat.
“Saya merasa sudah waktunya pulang.
Saya ingin membawa semangat riset yang terstruktur dan efisien agar mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana penelitian itu bisa menyenangkan dan bermakna,” pungkasnya.
(PasarModern.com)
Jangan lewatkan berita-berita PasarModern.comtak kalah menarik lainnya di Google News , Threads dan Facebook
