Ketika ayahmu meninggal nanti

Posted on

Pernahkah suatu hari, entah di tengah kesibukan atau menjelang tidur, tiba-tiba terlintas di kepalamu sebuah pikiran, bagaimana jika suatu hari ayahmu tidak lagi ada? bagaimana rasanya? bagaimana menghadapinya? dan bagaimana menghadapi hari-hari setelahnya?.

Sesak memang, tapi cara kerja kehidupan terkadang memanglah seperti itu.

Ketika ayahmu meninggal nanti, dunia mungkin akan terasa sedikit lebih hening. Bukan karena rumah tiba-tiba menjadi sepi, tetapi seperti ada titik kosong yang hilang entah begitu saja.

Suara yang dulu kerap hadir, suara yang terdengar tegas namun memberi rasa aman, suara yang kadang cerewet tapi selalu mengandung perhatian, hingga suara yang tegas tapi menenangkan, tiba-tiba tidak lagi bisa menyapa hari-harimu.

Isi rumah tetap beraktivitas, jam tetap berdetak, orang-orang tetap pergi bekerja, tetapi ada sesuatu yang bergeser tanpa bisa dijelaskan. Sunyi yang dulu akrab, mendadak terasa asing. Ruang-ruang yang biasanya dilewati ayahmu kini seperti menunggu, seolah berharap langkah itu kembali terdengar.

Kehilangan sosoknyanya itu, tidak langsung terasa menyakitkan. Ia hadir dalam bentuk yang samar, seperti jeda yang terlalu panjang di antara kebiasaan. Mungkin kamu masih menjalani hari-harimu, tetapi sesekali tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas seolah ada sesuatu yang terlupa namun tidak tahu apa.

Ketika ayahmu meninggal nanti, ingatan-ingatan kecil justru akan datang paling dulu. Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah kamu perhatikan, kini seakan-akan muncul satu per satu. Caranya duduk, caranya diam, caranya hadir tanpa banyak kata, hingga caranya senda gurau bersamamu.

Ayahmu mungkin bukan sosok yang pandai berkata “sayang”, pada anak-anaknya. Ia mungkin tidak pandai menyusun kata-kata hangat, tidak terbiasa mengungkapkan rindu atau bangga.

Namun setelah ketiadaanya, kamu justru adalah orang pertama yang akan menyadari bahwa ayahmu itulah adalah orang yang sesungguhnya mencintaimu dengan cara yang paling tulus.

Tidak ada “aku bangga padamu” yang diucapkan dengan lantang, tidak selalu ada pelukan hangat atau kalimat panjang tentang cinta. Tapi entah mengapa saat semuanya benar-benar senyap saat kehilangannya, kamu sadar bahwa cintanya itu selalu ada hanya saja tidak pernah diumumkan.

Ketika ayahmu meninggal nanti, kesadaranmu mungkin akan datang sedikit terlambat. Hal-hal kecil yang dulu terasa sepele, kini berubah menjadi kenangan yang paling menetap. Semua seakan-akan terjadi, seperti kamu baru benar-benar mengenal ayahmu setelah kehilangan itu.

Bukan tanpa sebab, beberapa orang memang pasti mengalaminya ketika ditinggal orang terdekatnya.  Dan mungkin karena kehilanganmu itu, sudut pandang kamu tentang ayahmu pada akhirnya terbuka.

Ayahmu memastikan lampu kamar tidurmu mati sebelum tidur, menanyakan apakah sudah makan, memperbaiki sesuatu di rumah tanpa diminta lalu kembali diam seolah itu bukan apa-apa, cara ia memanggil namamu, kebiasaannya melakukan hal yang sama berulang-ulang. Itulah, yang kini menjadi sesuatu yang paling ingin kamu ingat-ingat.

Ketika ayahmu meninggal nanti, akan muncul rasa  yang dapat mengubah cara kamu melihat keluarga. Orang tua yang selama ini tampak sebagai satu kesatuan, kini terasa terpisah oleh keadaan. Ibu tetap menjalani hari, tetap tersenyum, tetap berusaha kuat, tetapi ada ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun.

Rumah yang sama terasa berbeda, bukan karena kurang orang tetapi karena kehilangan satu peran yang selama ini menopang segalanya dari balik layar. Ibumu yang dulu sering dibantu oleh seorang laki-laki yang dicintainya, kini harus berusaha lebih tegar dalam menjalani kesendiriannya.

Kamu mungkin akan melihat kakakmu yang nonton sepakbola di TV kini sendirian, setelah sebelumnya ayahmu menemaninya. Kamu mungkin akan melihat adikmu yang sekarang kebingungan mengerjakan PR membuat kesenian, setelah sebelumnya ayahmu membantunya.

Di hari kepergian ayahmu, mungkin kamu akan terlihat sedih. Namun ketika melihat raut wajah ibumu, mungkin kamu akan lebih paham bahwa ada kesedihan yang lebih dalam dan harus dipikul sendirian setelah separuh hidupnya pergi terlebih dulu.

Ketika ayahmu meninggal nanti, mungkin yang paling terasa bukan hari kepergiannya, melainkan hari-hari setelahnya. Ada rasa bersalah yang datang tanpa diminta. Bukan karena kamu anak yang buruk, melainkan karena kamu baru paham ketika semuanya sudah terlambat. Kamu mengingat percakapan yang tidak sempat dilanjutkan, perhatian yang dulu kamu abaikan, dan kehadiran yang terlalu sering kamu anggap pasti.

Kamu mulai melihat kembali masa lalu dengan mata yang lebih jernih, menyadari bahwa ada banyak hal yang selama ini bekerja tanpa kamu sadari, dijaga oleh seseorang yang jarang kamu perhatikan bagaimana caranya bertingkah.

Kamu baru paham bahwa selama ini ada tangan yang menopang, bukan dengan cara yang lembut, melainkan dengan ketekunan yang tidak pernah dipamerkan. Ada momen ketika kamu ingin kembali ke masa lalu, bukan untuk mengubah segalanya, hanya untuk lebih menikmati hadirnya sosok ayah.

Mungkin kamu akan justru sedikit menangis di hari kepergiannya, namun dihari-hari setelahnya, rasa tangis akan datang berkali-kali lipat lebih kuat dibanding dihari kepergiannya.

Ketika ayahmu meninggal nanti, kamu akan belajar bahwa hidup tidak pernah menunggu siapa pun siap. Tidak ada waktu untuk benar-benar menguatkan diri, sebelum hari-hari kembali berjalan. Kamu mungkin masih ingin berdiam, namun kehidupan terus mendorongmu untuk melangkah, meski langkah itu terasa goyah.

Ada hari-hari ketika kamu merasa belum sanggup, tetapi keadaan tidak memberi pilihan. Kamu belajar melakukan hal-hal sambil membawa rasa kehilangan di dalam diri. Tersenyum di luar, menahan sesak di dalam.

Dari situ kamu perlahan memahami bahwa kuat bukan berarti tidak merasa sedih, melainkan tetap bertahan meski kesedihan itu masih ada. Dari kehilangan itu, kamu belajar menerima bahwa hidup akan terus bergerak dan kamu ikut bergerak bersamanya.

Ketika ayahmu meninggal nanti, kamu mungkin akan menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak sempat kamu tanyakan. Tentang hidupnya, tentang ketakutannya, dan tentang harapan-harapan kecil yang tidak pernah ia ucapkan. Bukan karena kamu tidak peduli, tetapi karena kamu selalu mengira waktumu dengannya masih akan berjalan lama.

Ada titik dimana kamu sedang mengalami suatu kegagalan atau cobaan, tapi entah kemana tempatnya bercerita. Kamu ingin curhat ke ayahmu, kamu ingin menanyakan bagaimana langkahnya ketika menemui kegagalan, kamu ingin mendapatkan pendapat tentang menghadapi cobaan dan lain-lainnya, tapi sadar bahwa sosoknya sudah tidak ada lagi.

Atau bahkan dalam caramu bersikap, caramu bekerja, dan caramu menahan emosi saat ini, membuatmu mulai memahami bahwa banyak hal dalam hidupmu yang dibentuk oleh kehadirannya, bahkan ketika ia tidak secara langsung terlibat. Seakan-akan ia ada di belakang layar, memastikan kamu bisa melangkah tanpa terlalu banyak rasa takut.

Ketika ayahmu meninggal nanti, kamu akan mengerti bahwa kepergiannya tidak menghapus perannya. Ia tetap hidup dalam nilai-nilai yang ia tanamkan, dalam prinsip-prinsip yang tanpa sadar kamu pegang, dan dalam cara kamu mencintai orang lain.

Memang tidak semua ayah sempurna, dan tidak semua hubungannya terasa hangat dan mudah. Namun, cinta tidak selalu lahir dari kesempurnaan. 

Kadang ia tumbuh dari kesediaan untuk tetap hadir, meski tidak tahu cara terbaik untuk mengekspresikannya. Itulah, cinta ayahmu kepada keluarganya. Hening, tapi hadir.

Sebelum hari itu benar-benar datang, luangkan sedikit lebih banyak waktu untuk berada di sisinya. Cukup beri ruang untuknya dalam hidupmu, mendengarkan ceritanya meski di sela kesibukan, dan menjawab pertanyaannya meski kadang terasa berulang.

Sebab suatu hari nanti, ketika sosok itu tidak lagi bisa kamu temui dan suaranya hanya hidup dalam ingatan, rindu akan datang dengan cara yang tidak terduga. Rindu akan hadir dengan cara yang paling jujur, membawa harapan yang sederhana namun mustahil, “Seandainya ayah masih bisa duduk di sampingku, meski hanya sebentar, mendengarkan segala ceritaku”.

Pada saat itu, kamu akan mengerti bahwa cinta ayah tidak selalu datang dalam bentuk yang kamu harapkan, tetapi selalu nyata dengan caranya dan gerakannya sendiri.

Selama waktu masih memberi kesempatan, semoga kamu yang membaca tulisan ini akan belajar menghargai kehadiran itu, sebelum ayahmu berubah menjadi sesuatu yang hanya bisa dikenang, lewat ingatan, doa-doa, hingga batu nisannya.

Sedikit Cerita Pribadi Tentang Kepergian Ayah

Aku kehilangan ayahku pada tahun 2013 silam, ya sekitar kurang lebih 12 tahun lalu. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas satu SMA, masa-masa awal sekolah menengah atas, mungkin baru dua atau tiga bulan menjalani kegiatan persekolahan.

Semuanya terasa masih baru, mulai dari lingkungan, rutinitas, hingga rencana-rencana kecil tentang masa depanku. Di tengah fase itu, ayah pergi meninggalkan hidupku yang belum sempat benar-benar siap menerima kehilangan sebesar itu.

Namanya Bapak Suworo. Dalam bahasa Indonesia, namanya berarti “suara”. Namun anehnya, ayahku justru lebih banyak diam dan jarang bersuara. Memang kalau diingat-ingat, ia bukan sosok yang ramai berbicara atau sering menasihati. Tetapi, kehadirannya selalu terasa nyata. Ia selalu ada untuk keluarga, dengan caranya sendiri yang tenang dan tidak menuntut untuk diperhatikan.

Sejak kepergiannya, justru hal-hal kecil tentang dirinya yang paling sering datang ke ingatanku. Bukan peristiwa besar, bukan pula momen yang dramatis, melainkan potongan-potongan sederhana yang dulu terasa biasa. Ada rasa senang dan ada pula rasa sedih yang datang silih berganti, seolah kenangan itu memilih waktunya sendiri untuk muncul.

Rasa senang sering datang ketika aku melihat album foto masa kecil. Dari sana, ingatanku kembali pada hari-hari bersama ayah. Tentang liburan keluarga, perjalanan ke tempat-tempat wisata, dan waktu-waktu sederhana yang dijalani tanpa banyak rencana. Tentang kebersamaan yang saat itu tidak terasa istimewa, tetapi kini terasa sangat berharga.

Aku juga mengingat momen-momen kecil yang dulu tidak terlewatkan. Menonton acara sepak bola di TV bersama di rumah (tim yang pasti ditonton kita dulu adalah Arema Malang), pergi ke pasar bersama ibu dan ayah, meminta jajan atau mainan dengan cara yang polos.

Namun ada juga rasa sedih yang hingga kini masih menetap. Dulu, saat ada sebuah mall baru di kotaku, aku dan keluargaku pergi ke sana. Tapi sesampainya di sana, aku justru takut naik lift dan eskalator (belum tau dimana letak tangga biasa-nya dan tidak berani bertanya). Akhirnya, aku dan ayah hanya duduk berdiam diri di luar mall, memandangi jalanan, mobil, dan motor yang lalu-lalang, sementara ibu dan kakakku tetap masuk ke dalam.

Saat itu ada rasa sedih yang singgah, lalu menghilang begitu saja, seolah tidak penting, karena masih umur-umur anak SD.

Kalau diingat-ingat sekarang, bertahun-tahun kemudian saat aku duduk di bangku SMP, pikiranku tiba-tiba muncul membuat janji, “Suatu hari aku ingin mengajak ayah kembali ke mall itu ahhh”. Mengajak masuk bersama, berkeliling bersama, dan menaiki eskalator yang sudah tidak aku takuti lagi saat itu. Pikiran itu sederhana, tapi penuh harapan.

Sayangnya, hari itu tidak pernah datang.  Nyatanya, rencana kecil itu tidak pernah benar-benar terjadi hingga hari ini. Ayahku meninggal sebelum aku benar-benar merealisasikan janjiku itu.

Kesedihan itu terus teringat, bahkan kadang berubah menjadi penyesalan yang menyakitkan. Ada saat-saat ketika aku justru menghina diriku sendiri, menyebut diriku bodoh karena ketakutan kecil yang dulu terasa sepele. Tapi ya mau bagaimana lagi, lift dan eskalator hal baru bagiku kala itu.

Tapi aku mulai memahaminya pelan-pelan saat ini, bahwa tidak ada kesalahan nyata disitu. Yang ada hanyalah seorang bocah seumuran anak SD yang merasa takut, dan seorang ayah yang memilih tetap tinggal dan menemani tanpa memaksa. Baru sekarang aku menyadari, mungkin saat itu ayah tidak merasa rugi sama sekali. Ia hanya ingin ada di sampingku, apa pun keadaannya.

Sekarang, yang tersisa hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah mendapat jawaban langsung. Aku hanya bisa menerka, apakah ayah akan merasa senang melihat kehidupanku hari ini.

Aku juga sering bertanya-tanya, apakah caraku menjaga ibu sudah cukup baik di matanya. Apakah usahaku menemani, memperhatikan, dan bertahan bersama keluarga yang ada saat ini sudah sesuai dengan harapannya sebagai seorang ayah.

Dan meski aku tidak pernah benar-benar tahu jawabannya, aku memilih percaya bahwa di dalam diamnya, ayahku pasti akan mengerti keadaan keluarganya disini.