Kesehatan Mental Ibu dan Dasar Pertumbuhan Anak

Posted on

PasarModern.com
– Menjadi ibu baru merupakan pengalaman yang indah sekaligus menantang. Banyak ibu menggambarkan masa pascamelahirkan sebagai salah satu momen paling emosional dalam hidup. Ada rasa syukur dan bahagia, tetapi terselip pula perjuangan melawan rasa lelah hingga kesepian.

Secara fisik, perubahan hormon setelah melahirkan berlangsung cepat dan drastis, sehingga memengaruhi energi dan emosi yang kerap naik turun. Perjalanan merawat dan mengasuh bayi pun bukanlah proses yang selalu mudah. Ibu baru sering dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti penyesuaian peran, kurang tidur, terbatasnya waktu merawat diri, hingga kesulitan dalam menyusui.

Tidak jarang juga muncul kekhawatiran pada ibu baru mengenai kecukupan gizi bayi, air susu ibu (ASI) berkualitas, serta tumbuh kembang anak yang sesuai usianya. Kondisi inilah yang membuat banyak ibu akhirnya rentan mengalami baby blues. Baby blues adalah kondisi perasaan tertekan yang dialami ibu beberapa jam setelah melahirkan hingga maksimal dua minggu. Kondisi ini bisa membaik dengan dukungan sosial dan emosional dari keluarga. Namun, jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi depresi pascamelahirkan yang membutuhkan pertolongan profesional.

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, sekitar 10 persen ibu hamil dan 13 persen ibu yang baru melahirkan mengalami gangguan mental, terutama depresi. Di negara berkembang, angkanya lebih tinggi, yakni 15,6 persen pada ibu hamil dan 19,8 persen pada ibu pascamelahirkan. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat lebih dari sepertiga ibu mengalami masalah kesehatan mental. Data pendukung dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2024, bahkan menunjukkan sekitar 57 persen atau setara satu dari dua ibu baru mengalami gejala baby blues.

Berbagai jurnal penelitian juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang meningkatkan risiko kesehatan mental pada ibu baru, antara lain riwayat gangguan mental sebelumnya, persalinan dengan komplikasi medis, kondisi bayi yang lahir dengan kebutuhan khusus, minimnya dukungan keluarga, serta berbagai tekanan lain yang menambah beban psikologis ibu. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental ibu baru bukan masalah sepele. Sayangnya, masih banyak ibu yang berjuang dalam senyap karena merasa tidak boleh mengeluh atau takut dianggap lemah.

Dampak kesehatan mental ibu pada anak

Usia bayi merupakan periode penting pembentukan attachment atau kelekatan emosional dengan orangtua. Kesehatan mental ibu berperan langsung dalam kualitas hubungan tersebut. Penelitian menunjukkan, ibu dengan kondisi mental sehat lebih peka terhadap kebutuhan bayi, sehingga mampu memberikan stimulasi dan kasih sayang yang tepat. Anak dari ibu yang sehat mental cenderung memiliki dorongan eksplorasi serta aspek perkembangan yang lebih baik.

Sebaliknya, ibu dengan kecemasan tinggi, lelah emosional, hingga mengalami depresi pascamelahirkan, sering kesulitan mengenali kebutuhan bayi. Alhasil, respons yang diberikan terlambat, tidak konsisten, kurang sesuai, bahkan kadang berupa penolakan akan menyebabkan terhambatnya tumbuh dan kembang bayi. Semua anak membutuhkan kehadiran figur yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman. Ibu dengan masalah kesehatan mental cenderung mengalami kesulitan dalam menunjukkan kasih sayang dan mengatur emosi secara konsisten. Kondisi ini, lanjut dia, dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah emosi dan perilaku di kemudian hari karena tidak memiliki pijakan yang stabil di masa awal kehidupan.

Payung hukum dan kebijakan kesehatan mental ibu

Kesehatan mental ibu sudah memiliki landasan hukum di Indonesia. Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan (UU KIA) menegaskan pentingnya pemenuhan kesehatan mental, termasuk penyediaan akses layanan konsultasi psikologi. UU Nomor 17 Tahun 2023 juga menegaskan kesehatan jiwa sebagai layanan wajib yang disediakan pemerintah.

Namun, tidak jarang stigma sosial menempatkan tanggung jawab besar terhadap pengasuhan anak hanya pada ibu. Akibatnya, ibu baru sering menghadapi tuntutan yang tinggi terhadap diri sendiri maupun anaknya yang dapat menimbulkan kecemasan dan berbagai masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, dukungan sosial dari orang-orang terdekat dan layanan kesehatan mental yang mudah diakses, menjadi kunci agar ibu tidak merasa sendirian dan mampu hadir secara utuh untuk bayinya.

Bentuk dukungan dari keluarga untuk menjaga kesehatan mental ibu baru dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya:

  • Berikan dukungan praktis harian, seperti berbagi tanggung jawab rumah tangga, membantu perawatan bayi, memastikan ibu memiliki waktu istirahat yang cukup, dan menciptakan kenyamanan saat ia menyusui.
  • Pahami proses adaptasi ibu baru, yang kerap disertai kesulitan dalam mengelola emosi. Berikan ruang bagi ibu untuk mengekspresikan diri, dengarkan tanpa menghakimi, serta memahami emosi dan pikirannya. Hindari komentar yang meremehkan.
  • Tunjukkan kasih sayang melalui sentuhan, kata-kata, apresiasi, atau perhatian kecil lainnya. Orang terdekat juga perlu menjadi ‘benteng’ atau melindungi ibu dari tekanan luar.
  • Hargai keputusan ibu dan ayah sebagai orangtua baru, dengan tidak memaksakan tradisi yang tidak diinginkan serta menghormati pilihan mereka dalam merawat dan mengasuh anak.
  • Dukung akses ke bantuan profesional, seperti psikolog, apabila terlihat tanda-tanda masalah mental emosional pada ibu.

Di samping dukungan keluarga dan orang terdekat, ibu baru juga membutuhkan dukungan yang lebih luas. Sebab, prevalensi masalah kesehatan mental pada perempuan pascamelahirkan masih tinggi, serta spektrum masalah yang dialami begitu luas. Diperlukan upaya pencegahan dan penanganan yang lebih masif melalui kebijakan, layanan kesehatan, dan dukungan lintas sektor untuk mengatasi ini.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendukung kesehatan mental ibu baru adalah:

  1. Sahkan kebijakan turunan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak
    Segera sahkan kebijakan turunan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA), yang mengatur tataran teknis. Salah satunya mengatur akses layanan kesehatan mental, menyesuaikan kebijakan cuti bagi ibu dan pasangan, memperbanyak fasilitas umum yang layak bagi ibu hamil dan ibu dengan anak usia dini, menyosialisasi tempat penitipan anak yang bermutu dan mudah diakses bagi ibu bekerja, memperbanyak ruang laktasi publik, serta menciptakan lingkungan ramah ibu dan anak.

  2. Program deteksi dini masalah kesehatan mental ibu hamil dan pascamelahirkan
    Inisiasi program deteksi dini masalah kesehatan mental bagi ibu hamil dan ibu pascamelahirkan di masyarakat. Integrasikan pemeriksaan medis dan psikologis di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit pada tiap trimester kehamilan serta pascamelahirkan. Skrining awal dapat dilakukan melalui kuesioner laporan diri (self-report questionnaire), lalu dilanjutkan dengan konseling bila terindikasi gejala klinis.

  3. Penyediaan layanan psikologis yang mudah diakses
    Perluas akses layanan psikologis di puskesmas dengan optimalisasi tenaga ahli. Sediakan informasi tentang kontak layanan psikologi, fasilitas kesehatan yang menawarkan layanan edukasi dan intervensi. Misalnya, alur konseling dicantumkan dalam buku kesehatan ibu dan anak (KIA) maupun ruang publik.

  4. Dorong program pralahir yang melibatkan keluarga
    Dukung program pralahir yang melibatkan keluarga, tidak hanya berfokus pada ibu. Edukasi yang komprehensif mengenai kesiapan psikologis, perawatan diri setelah melahirkan, potensi masalah kesehatan mental, dan pengelolaan emosi. Bagi pasangan (ayah), pelatihan tentang peran ayah saat persalinan, perawatan bayi baru lahir, dukungan ibu untuk menyusui, serta dukungan emosional. Ayah juga perlu mendapatkan edukasi cara merawat diri setelah menjadi orangtua baru.

Sementara itu, bagi orang terdekat selain pasangan, edukasi menekankan pada dukungan emosional yang dapat diberikan, seperti memberi bantuan tanpa mengontrol, menghargai keputusan orangtua, menjaga interaksi positif, dan membantu memberikan perawatan bayi berdasarkan pengetahuan terkini.

Dhisty menekankan bahwa kesehatan mental penting bagi siapapun, tidak terkecuali pada ibu hamil dan ibu baru melahirkan. Menjaga mental ibu berarti menjaga generasi. Setiap pihak, mulai dari orang terdekat hingga sistem yang lebih luas, memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pijakan yang kuat agar ibu dapat dengan optimal mendampingi tumbuh kembang bayinya. Ibu baru tidak perlu berjuang sendirian dalam senyap.