Momen-Momen Berat Seorang Ibu yang Harus Dihadapi
Kartika, seorang ibu muda, mengalami berbagai tantangan dalam menjalani perannya sebagai ibu. Dari awal kehamilan hingga masa pengasuhan anaknya, ia merasa terbebani oleh rasa bersalah dan ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri.
Masa-Masa Terberat Menjadi Seorang Ibu
Menjadi seorang ibu adalah sebuah tantangan besar, terutama ketika tidak ada bantuan dari orangtua. Kartika mengungkapkan bahwa ia sering merasa kesulitan karena tidak memiliki sosok ibu yang bisa membantu mengurus anak. “Waktu itu aku masih bekerja, dan mamaku juga sedang bekerja. Tapi aku tetap butuh ibu untuk berbagi pengalaman dan membantu mengurus bayi,” ujarnya.
Kewalahan sebagai Ibu Pekerja
Sebelum menjadi ibu rumah tangga (IRT), Kartika pernah bekerja. Ketika mengambil cuti melahirkan, ia merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya. “Aku merasa bingung harus melakukan apa dulu. Aku emosional sampai menangis,” kata Kartika.
Ia juga merasa tidak enak meminta bantuan suaminya karena khawatir akan membuatnya semakin lelah. Namun, suaminya cukup peka dan memberikan dukungan. Meskipun begitu, mereka kadang masih merasa kebingungan karena belum pernah menjadi orangtua sebelumnya.
Terpaksa Menitipkan Anak ke Orang Lain
Setelah cuti melahirkan berakhir, Kartika terpaksa menitipkan Baskara ke orang lain karena orangtuanya masih bekerja. Namun, hal ini tidak bertahan lama karena ada drama dari orang tersebut. Ia juga merasa sulit untuk meminta bantuan karena biaya daycare terlalu mahal dan orangtua tidak setuju.
Keputusan yang Berat untuk Berhenti Bekerja
Keputusan Kartika untuk berhenti bekerja cukup berat. Ia membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memastikan bahwa ia sudah siap. “PR-nya benar-benar tergantung satu sumber pendapatan. Apakah aku siap untuk hal itu?” tanyanya.
Akhirnya, ia berhenti bekerja saat Baskara berusia tujuh bulan. Namun, menjadi IRT bukan berarti semua tantangan hilang. Justru, tantangan justru semakin besar karena Baskara semakin aktif dan rewel.
Momen yang Paling Menguras Fisik dan Mental
Selama satu tahun tiga bulan menjadi ibu, momen yang paling melelahkan bagi Kartika adalah ketika Baskara sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Anak yang sakit membuatnya lebih lelah secara fisik dan mental. “Capek fisik karena digendong semakin berat, dan capek secara mental karena kurang tidur dan merasa seperti ‘Kenapa harus kayak gini?’” ujarnya.
Ekspektasi Tinggi dari Ibu
Ekspektasi tinggi datang dari ibu Kartika. Ia merasa ibunya memberikan tuntutan yang sangat berat. Misalnya, ketika Baskara jatuh, ibunya selalu menyalahkan Kartika. “Jujur, aku ngalamin banget ekspektasi berat dari mamaku,” katanya.
Perbedaan Gaya Pengasuhan
Gaya pengasuhan pun berbeda antara generasi lama dan generasi baru. Kartika mengalami perdebatan dengan ibunya karena ingin menggunakan gaya pengasuhan modern. “Aku jelaskan tentang baby walker, tapi perdebatannya alot. Tapi aku tetap kasih alasan logis,” ujarnya.
Merasa Sedih dan Cuek
Meski cuek dalam menanggapi perbedaan pendapat, Kartika sering merasa sedih karena ibu yang seharusnya mendukung malah sering berdebat. Ia bahkan kadang membandingkan ibunya dengan orang tua lain yang lebih terbuka.
Di Hantui Rasa Tidak Cukup Baik Menjadi Ibu
Kartika sering dihantui rasa tidak cukup baik sebagai ibu. Ia merasa gagal ketika Baskara jatuh dari sepeda. “Aku merasa gagal menjadi ibu,” ujarnya.
Anak Lahir Prematur
Anak yang lahir prematur membuat Kartika merasa bertanggung jawab atas kesehatan anaknya. Namun, ia mencoba menenangkan diri dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan Baskara yang normal.
Suami dan Ibu sebagai Support System
Suami dan ibu menjadi dua support system utama Kartika. Meskipun ada momen ketika suami kurang berinisiatif, ia tetap membantu. Ibu juga memberikan referensi dan hadir dalam fase perkembangan anak.
Masih Ada Bentuk Dukungan yang Belum Terpenuhi
Meski memiliki dua support system, Kartika masih merasa kurang dalam hal waktu berdua dengan suami. Ia ingin istirahat sejenak, namun kadang sulit meminta bantuan.
Definisi Ibu yang Baik dari Kartika
Menurut Kartika, ibu yang baik bukanlah ibu yang sempurna. Ibu yang baik adalah yang bisa membersamai anak di setiap fase perkembangannya. “Yang penting anak sehat dan kebutuhan bisa dipenuhi,” ujarnya.
Pesan untuk Dirinya Sendiri di Masa Lalu
Jika bisa kembali ke masa lalu, Kartika ingin menemui dirinya yang sedang hamil untuk mengecam rasa bersalahnya. Ia ingin menjaga kesehatannya agar anaknya tidak lahir prematur.
Pesan untuk Para Ibu yang Sedang Berjuang
Kartika meminta para ibu yang sedang berjuang untuk tetap sabar dan fokus pada pertumbuhan anak. “Yang penting anak sehat dan sudah melakukan yang terbaik untuk anak,” tutupnya.
