Hanna Rambe menulis tentang petualangan dan pengalaman Kartika Affandi, putri dari pelukis Affandi, dalam mencari objek lukisan. Perjalanan ini mengunjungi berbagai tempat, mulai dari Teluk Jakarta hingga Papua.
Kartika sering kali meminta Hanna untuk membantu persiapan perjalanan. Suatu hari, ia menyuruh Hanna membawa pakaian karena ingin melukis laut dan nelayan di sebuah tempat terpencil di Teluk Jakarta. Seorang temannya bersedia memberikan pasanggrahan dan kapal bermotor untuk beberapa hari.
Mereka dijadwalkan bertemu di dermaga Bahtera Jaya pada pukul 14.00. Selain pemilik kapal dan mereka, ada juga beberapa peneliti pariwisata dari Daerah Khusus Ibukota. Namun, karena terlalu lama berbelanja di Jalan Sabang, mereka terlambat 15 menit. Kartika marah dan merasa ditinggalkan. Persiapan seperti kanvas, cat minyak, pakaian, dan makanan hampir saja dilemparkan ke laut. Pada saat itu, Kartika sedang mengalami badai batin akibat permohonan cerai yang belum disetujui oleh pengadilan agama.
Setelah tiba di tempat tujuan, ternyata kawan Kartika tidak ikut. Mereka pun pergi ke kantor di Pasar Ikan, tetapi pemiliknya sudah pergi. Sopir mengantarkan Kartika ke stasiun Gambir, dan mereka berpisah. Di Taman Ismail Marzuki, mereka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan dan mengunjungi Sriyani, seorang pelukis yang tinggal di Kemang, Kebayoran.
Sriyani dan Kartika berdebat tentang kehidupan pernikahan. Sriyani yang bahagia dalam keluarganya memiliki pandangan positif terhadap suaminya, sementara Kartika yang sedang dilukai oleh suaminya merasa dendam. Obrolan tersebut menarik bagi Hanna, yang belum pernah menikah.
Di studio Sriyani, Kartika akhirnya bisa tertawa lagi dan memutuskan untuk menginap. Mereka berdiskusi sampai hampir subuh. Esok harinya, Kartika mendapat inspirasi dan memutuskan untuk melukis. Lukisan itu dinamai “Studio Sriyani”.
Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah kawannya yang menyediakan kapal. Nyonya rumah terkejut ketika mereka datang. Mereka kemudian menginap di Wisma Seni setelah mesin mobil rusak.
Perjalanan ke pulau-pulau sekitar Teluk Jakarta berjalan lancar. Kartika berhasil membuat lima lukisan dalam dua malam. Namun, saat kembali, mesin perahu mati di tengah laut. Meskipun berada dalam kondisi dingin dan basah, mereka berhasil menyelesaikan perjalanan.
Di Taman Ismail Marzuki, Kartika memamerkan lukisan “Studio Sriyani”. Pengalamannya melukis di Tanah Toraja sangat menarik. Walaupun hanya memiliki waktu sehari untuk melukis, dia menghabiskan waktu untuk berkeliling dan melukis pasar. Namun, dia harus menghadapi situasi sulit karena tidak memiliki izin melukis. Akibatnya, dia ditahan selama beberapa hari dan harus menyelesaikan masalah di Ujung Pandang.
Di Irian Jaya, Kartika mengalami pengalaman unik. Saat melukis empat pria Irian, mereka terkejut melihat lukisan penjual tomat dan langsung kabur. Kartika merasa bodoh karena tidak memperhatikan reaksi mereka.
Di Yogya, Kartika pernah dikira istri tukang sulap karena membawa kanvas dan peralatan melukis. Namun, setelah melukis, orang-orang di pasar ternak memahami bahwa dia adalah pelukis perempuan. Pengalaman ini menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Kartika.
Pengalaman-pengalaman ini menjadikan Kartika sebagai pelukis yang tangguh dan penuh semangat. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, ia tetap konsisten dalam berkarya dan mencari objek-objek baru untuk melukis. Setiap perjalanan memberinya inspirasi dan pengalaman baru, yang akhirnya menjadi bagian dari karyanya yang indah.
