JAKARTA, PasarModern.com– Fenomena generasi sandwich, di mana seseorang harus menanggung beban finansial dan emosional bagi orangtua sekaligus keluarga kecilnya, semakin nyata di tengah masyarakat perkotaan.
Fenomena ini menuntut generasi produktif menghadapi tekanan berat sekaligus mengatur keuangan dan prioritas hidup dengan bijak.
Generasi sandwich adalah istilah yang menggambarkan posisi seseorang “terjepit” antara tanggung jawab merawat orangtua dan menafkahi keluarga sendiri.
Kondisi ini menuntut individu menjalankan dual caregiving, yaitu bertanggung jawab terhadap keluarga prokreasi (anak dan pasangan) sekaligus keluarga orientasi (orangtua).
Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, menuturkan, fenomena ini sudah melekat lama dalam masyarakat.
“Generasi Sandwich merupakan fenomena yang terkait dengan struktur keluarga. Disebut sandwich karena adanya lapisan antara keluarga prokreasi dan keluarga orientasi. Fenomena ini muncul dalam berbagai konteks budaya dan sudah melekat di masyarakat,” ujar Ida, Rabu (10/12/2025).
Jerit hati generasi sandwich
Beban menjadi generasi sandwich dirasakan berat oleh banyak orang. Salah satunya Inta (28), warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang harus menafkahi keluarganya sejak lulus kuliah pada 2019.
“Capek banget, kadang mikir, ‘jika semua bersandar pada ku, aku harus bersandar ke mana?’ Tapi, lagi-lagi, kita kan enggak bisa pilih harus terlahir di keluarga yang seperti apa,” ungkap Inta.
Inta tetap bersemangat bekerja untuk menghidupi orangtua yang sudah lanjut usia, sebagai bentuk balas budi atas pengorbanan mereka membiayai pendidikannya hingga menjadi sarjana.
Sebab, Inta tahu, keluarganya bukan merupakan orang yang berada. Kedua orangtuanya terpaksa harus berutang demi bisa menyekolahkannya menjadi sarjana.
Sama halnya Verel (27), yang menjadi generasi sandwich sejak 2021 ketika ayahnya berhenti bekerja dan ibunya sakit. Selain menanggung biaya hidup orangtua, ia juga membantu kakak yang merawat ibunya.
“Kalau dibilang capek secara fisik pasti capek karena beban yang dipikul bukan buat diri sendiri kadang harus mikir dalam kondisi capek banget sama pekerjaan, kehidupan segala macam,” tutur dia.
Verel mengaku, tak jarang pula dirinya ingin menyerah dengan keadaan. Namun, niat itu ia urungkan berkali-kali karena memikirkan nasib kedua orangtuanya, jika ia berhenti berjuang.
Adapun kakak perempuan Verel yang bertugas merawat sang ibunda juga bercerai dengan suaminya, sehingga ikut menjadi tanggungan anak bontot tersebut.
“Alhamdulillah sudah karyawan tetap, meski penghasilan belum besar, tapi niatkan untuk ibadah, sebagai bagian berbakti dan merawat orangtua,” ujar Verel.
Bantu pendidikan sang adik
Sementara itu, Ruby Rachmadina (27) dari Bogor turut menanggung biaya pendidikan adiknya karena penghasilan orangtuanya dari usaha warung kecil tidak cukup. Ia juga memberikan jatah bulanan untuk orangtua dan siap membantu kakaknya jika ada kebutuhan mendesak.
Ia mengaku, secara otomatis menjadi generasi sandwich ketika mulai bekerja sekitar 2020-an.
“Kayaknya mulai kerasa pas awal-awal mulai kerja. Begitu punya penghasilan tetap, otomatis ikut bantu kebutuhan keluarga dan berjalan terus sampai sekarang” ujar dia.
Ruby bercerita, orangtuanya masih berpenghasilan karena memiliki usaha warung kecil-kecilan di rumah. Namun, jika mengandalkan pendapatan dari situ saja, ia khawatir orangtuanya tak bisa membiayai kuliah adiknya.
Oleh sebab itu, ia berinisiatif untuk ikut mengambil peran membantu membiayai kuliah adik tercintanya.
“Uang kuliah adik. Satu semester per enam bulan harus bayar kuliah rata-rata pembayaarannya Rp 11 juta,” jelas Ruby
Selain itu, ia juga memberi jatah bulanan untuk orangtuanya sekitar Rp 1 juta. Bahkan, Ruby juga tak segan memberikan bantuan finansial ke kakak perempuannya jika dalam kondisi mendesak.
Kelola keuangan
Lantaran harus menanggung adik dan orangtuanya, Ruby harus berputar otak mengatur gaji yang diterimanya setiap bulan.
Untuk mengatur keuangan, Ruby menggunakan sistem persentase yang fleksibel, menyesuaikan pengeluaran keluarga, kebutuhan pribadi, dan tabungan. Ia percaya bahwa rezeki akan selalu ada jika diniatkan untuk membantu keluarga.
“Ada bagian khusus buat keluarga, ada buat kebutuhan pribadi, ada juga sedikit tabungan. Kadang porsinya fleksibel, apalagi kalau tiba-tiba ada kebutuhan mendadak dari rumah,” ucap dia.
Dengan demikian, ia pun tak bisa mematok berapa banyak uang yang harus disediakan untuk keluarga atau dirinya sendiri karena tergantung kondisi di setiap bulannya. Ruby percaya bahwa rezeki akan terus mengalir jika diniatkan untuk membantu keluarga di rumah.
“Terus percaya sama kalimat ini, ‘setiap orang ada rezekinya’ enggak tahu kenapa selalu ada uang lebih kalau buat bayar kuliah adik, amazing,” ucap Ruby.
Desiana (31), warga Manggarai, Jakarta Selatan, juga mengatur pendapatannya dengan ketat karena menjadi generasi sandwich.
“Harus dipisahin uangnya. Mana buat keluarga dan harus nyimpan buat biaya tak terduga,” jelas dia.
Dari gaji UMR Jakarta sekitar Rp 5,3 juta, ia menyisihkan Rp 1,5 juta untuk orangtua, kurang dari Rp 1 juta untuk membayar utang, Rp 1 juta untuk tabungan, dan sisanya untuk kebutuhan pribadi dan keluarga kecilnya.
Beruntungnya, Desi sudah memiliki suami, sehingga keperluan anaknya yang masih berusia enam bulan dan biaya kontrakan ditanggung bersama.
Kondisi sosial dan strategi finansial
Menurut Rista Zwestika, CFP, WMI, MPS, financial planner, generasi sandwich menghadapi kondisi sosial keuangan yang kompleks.
“Seseorang harus menopang dua generasi orangtua dan anak atau keluarga sendiri secara bersamaan. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai bentuk bakti, tanggungjawab, dan kasih sayang terhadap keluarga,” jelas Rista.
Namun, di sisi lain, beban ini berisiko menyebabkan stres, kehabisan tabungan, dan masa depan finansial pribadi terabaikan. Generasi sandwich bukan sekadar suka rela membantu keluarga, tetapi harus diatur bijak melalui perencanaan, prioritas, batasan, dan komunikasi.
Rista menilai, generasi sandwich bukan merupakan posisi sekedar secara suka rela membantu keluarga, tapi harus diatur secara bijak. Sebab, jika tak memiliki perencanaan yang baik maka seorang generasi sandwich akan mengalami kesulitan sendiri di tengah banyaknya anggota kelurga yang bergantung.
Kuncinya adalah generasi sandwich harus memiliki kesadaran bahwa tidak bisa memenuhi semua kebutuhan sekaligus tanpa strategi, dibutuhkan prioritas, batasan, dan komunikasi dengan keluarga.
Cara mengatur prioritas
Rista menyarankan beberapa langkah yang dapat dilakukan generasi sandwich untuk mengatur prioritas antara orangtua, adik atau kakak, anak, dan kebutuhan pribadi.
Penting untuk melakukan komunikasi terbuka dengan seluruh anggota keluarga, terutama orangtua, pasangan, atau anak.
Penjelasan jujur mengenai kondisi keuangan, pendapatan, dan batasan akan membuat semua anggota keluarga memahami kemampuan seseorang sebagai generasi sandwich serta keterbatasannya.
Selanjutnya, buatlah anggaran keluarga secara menyeluruh dengan mencatat semua pemasukan dan pengeluaran.
Susun daftar kebutuhan pokok, seperti biaya makan, sekolah, kesehatan, tagihan, dan tanggungan terhadap orangtua maupun anak, serta sisihkan sebagian untuk tabungan, dana darurat, dan investasi.
“Ketiga, tentukan skala prioritas berdasarkan urgensi dan jangka panjang. Misalnya, kebutuhan dasar orangtua—kesehatan, makan, pendidikan anak—lalu dana darurat dan proteksi, baru ke investasi atau keinginan pribadi,” ujar Rista.
Seorang generasi sandwich juga dianjurkan untuk melibatkan anggota keluarga lain, seperti adik atau kakak, dalam membantu orangtua. Dengan berbagi tanggung jawab secara finansial, beban tidak harus ditanggung oleh satu orang saja.
Pembagian keuangan
Di setiap gajian, generasi sandwich kerap bingung menentukan proporsi ideal untuk mengalokasikan pendapatan.
“Tidak ada formula tunggal yang cocok untuk semua, karena sangat tergantung pendapatan, jumlah tanggungan, biaya hidup lokal, dan lainnya,” jelas Rista.
Namun, berdasarkan literatur perencanaan keuangan dan panduan bagi generasi sandwich, terdapat beberapa acuan yang bisa dijadikan pedoman.
Generasi sandwich sebaiknya memiliki dana darurat setara 6–12 bulan biaya hidup dasar untuk mengantisipasi kejadian tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau bangkrutnya usaha.
Sekitar 40–60 persen dari pendapatan bersih setelah dipotong pajak dan kebutuhan pokok dapat dialokasikan untuk kebutuhan dasar, termasuk makan, biaya sekolah anak, dan tanggungan orangtua.
Sementara 10–20 persen dapat disisihkan untuk investasi atau tabungan jangka panjang serta proteksi, seperti asuransi, dana pensiun, dan masa depan anak, meski sulit, langkah ini tetap perlu dijalankan.
Sekitar 5–10 persen pendapatan bisa diperuntukkan untuk kebutuhan pribadi, uang cadangan fleksibel, keinginan, hiburan, serta kesehatan mental dan sosial.
“Boleh ada, tapi harus dalam batas wajar. Mungkin 5–10 persen cukup agar kamu tetap bisa punya ‘ruang bernapas’ tanpa mengorbankan prioritas. Banyak perencana keuangan menyarankan agar tetap ada porsi untuk kehidupan pribadi agar tidak jenuh atau stres,” jelas Rista.
