Istiyawati Terkejut Air Masuk Rumah di Ketapang Kendal

Posted on

Banjir Meluas di Kabupaten Kendal dan Kota Pekalongan

Siti Istiyawati duduk termenung di teras rumahnya di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kendal Kota, Kabupaten Kendal. Sembari menggendong cucunya, ia hanya bisa pasrah melihat banjir menggenangi rumahnya. Ia mengatakan, banjir di kampungnya terjadi sejak Jumat (16/1/2026) sore. Genangan air semakin tinggi di atas lutut orang dewasa saat hujan deras mengguyur Kendal.

“Tadi sore (Jumat lalu—Red) rumah itu air masuk rumah di atas lutut, ini alhamdulillah agak surut meskipun belum sepenuhnya,” kata Siti ditemui di rumahnya, Sabtu (17/1/2026). Saat kali pertama air menggenangi rumah, Siti belum sempat mengamankan barang-barang di rumahnya. Alhasil, sepeda motor beserta peralatan rumah yang lain pun terendam air.

“Air itu tiba-tiba datang langsung tinggi, belum sempat ngamanin barang-barang, ini saja kerendam,” ungkapnya. Dia menuturkan, kali ini merupakan pengalaman pertamanya kebanjiran. Siti telah tujuh tahun tinggal di RT 22 RW 07 Kelurahan Ketapang, persisnya sejak 2019. Apa pun yang terjadi, Siti bertekad untuk tetap bertahan di rumahnya, meski banjir menerjang. Dia berharap, air akan segera surut.

“Mau ngungsi kemana, nggak ada tempat. Di sini saja, semoga segera surut,” sambungnya.

Dampak Banjir di Wilayah Kelurahan Ketapang

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Kelurahan Ketapang, Zaenal Arifin mengonfirmasi, terdapat 317 rumah dan 357 KK yang terdampak banjir di wilayahnya. “Ada sekitar 1.137 jiwa yang terdampak banjir Kelurahan Ketapang,” terangnya.

Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, Iwan Sulistyo mengatakan dampak banjir akibat hujan deras, pada Kamis (15/1/2026) dan Jumat (16/1/2026) malam, meluas ke tujuh kecamatan. Ketujuh kecamatan terdampak banjir, yakni Kendal Kota, Ngampel, Brangsong, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Pegandon, dan Rowosari.

Dari tujuh kecamatan yang terdampak, data terbaru pada Sabtu (17/1/2026) pukul 07.00, ada beberapa lokasi banjir yang sudah surut, di antaranya Kecamatan Kaliwungu Selatan, Pegandon, Brangsong, serta sebagian wilayah Kaliwungu dan Ngampel. Di Kecamatan Ngampel, ada beberapa desa yang masih terendam, di antaranya Desa Ngampel Kulon dengan ketinggian air 10-40 sentimeter, Dusun Dalangan (Desa Banyuurip), Dempelrejo, serta Putatgede dengan ketinggian air 5-30 sentimeter.

Iwan menerangkan, hampir semua wilayah di Kecamatan Kendal kota terendam air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 5-70 sentimeter. Banjir terjadi karena pintu 4 Bendung Trompo dibuka. “(Genangan) Yang tinggi di Kelurahan Ketapang, ketinggian mencapai 70 sentimeter,” kata Iwan, Sabtu.

Banjir di Kota Pekalongan

Banjir akibat limpasan Sungai Bremi dan cuaca ekstrem merendam sejumlah wilayah di Kota Pekalongan, Sabtu (17/1/2026). Hingga pukul 14.00, BPBD Kota Pekalongan mencatat, sedikitnya 8.692 kepala keluarga (KK) di empat kecamatan terdampak, dengan 972 jiwa terpaksa mengungsi. Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto menjelaskan, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang disertai angin kencang mengguyur Kota Pekalongan, sejak Jumat (16/1/2026) pukul 19.30 hingga Sabtu dini hari pukul 03.00.

Kondisi tersebut diperparah, hujan di wilayah selatan Kota Pekalongan yang menyebabkan daya tampung daerah aliran sungai (DAS) penuh hingga air meluap ke wilayah perkotaan yang berada di dataran rendah. “Genangan air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai 100 sentimeter di sejumlah titik,” ujar Budi, Sabtu.

Sejumlah ruas jalan utama dan permukiman warga terdampak banjir, di antaranya Jalan Progo, Jalan Slamet, Jalan Majapahit, Jalan Cempaka, Jalan Semarang, Jalan Blimbing, Jalan Jlamprang, kawasan Pabean, Kampung Baru Tirto, hingga Jalan Singosari. Ketinggian air di beberapa wilayah, seperti Kampung Baru Tirto, tercatat mencapai 50 hingga 100 sentimeter.

“Banjir merendam wilayah di Kecamatan Pekalongan Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Kecamatan Pekalongan Barat menjadi wilayah dengan dampak terluas, meliputi Kelurahan Tirto, Podosugih, Sapuro Kebulen, Bendan Kergon, Pringrejo, Medono, hingga Buaran Kradenan, dengan ketinggian air antara 30 hingga 80 sentimeter,” ucapnya.

Untuk penanganan warga terdampak, pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan relawan membuka sejumlah lokasi pengungsian. Hingga Sabtu pukul 10.45, total pengungsi tercatat 972 jiwa, tersebar di beberapa titik, antara lain Aula Kecamatan Pekalongan Barat, masjid dan musala di wilayah Tirto dan Podosugih, SD Negeri Tirto 03, serta sejumlah bangunan fasilitas umum lainnya.

“Sebagian besar kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian adalah obat-obatan, balsem, minyak kayu putih, salep, selimut, serta popok bayi dan dewasa,” kata Budi. BPBD Kota Pekalongan terus melakukan berbagai upaya penanganan darurat, meliputi monitoring dan patroli kesiapsiagaan, evakuasi warga, asesmen dampak bencana, pendataan korban, serta koordinasi lintas sektor. Posko kebencanaan juga telah diaktifkan untuk mendukung pelayanan pengungsian dan distribusi logistik.

Banjir di Kabupaten Pekalongan

Di Kabupaten Pekalongan, banjir merendam sedikitnya 90 rumah di Dukuh Tugurejo RT 01 dan 02 RW 05, Desa Pait, Kecamatan Siwalan, akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari lima jam. Banjir yang terjadi, sejak Sabtu (17/1/2026) dini hari, itu memaksa puluhan keluarga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko mengatakan, banjir terjadi akibat curah hujan tinggi yang berlangsung dalam durasi cukup lama sehingga menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman warga dengan ketinggian antara 30-100 sentimeter. “Sebanyak 90 kepala keluarga atau 285 jiwa terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, 15 kepala keluarga atau 68 jiwa terpaksa mengungsi di mes pabrik Lokatex, Kecamatan Siwalan,” ujar Bambang.

Dia menjelaskan, para pengungsi terdiri atas berbagai kelompok usia, mulai dari lansia, dewasa, remaja, anak-anak hingga balita. Hingga saat ini, tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan rumah permanen, namun seluruh rumah warga di lokasi terdampak dalam kondisi terendam air. PMI Kabupaten Pekalongan telah melakukan sejumlah upaya penanganan darurat, antara lain asesmen lapangan, evakuasi warga, serta pelayanan ambulans. PMI juga menginventarisasi kebutuhan mendesak para pengungsi, seperti logistik permakanan dan minuman, alas tidur, selimut, tikar, perlengkapan bayi, obat-obatan, serta perlengkapan mandi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *