Intimate wedding dengan latar alam semakin disuka

Posted on

ASISSTANT Director of Sales Plataran Borobudur Ermie Girindani mengatakan pernikahan yang intim (intimate wedding) alias pernikahan dengan jumlah tamu terbatas masih menjadi favorit para pengantin saat ini. “Masih banget. Setelah Covid-19, intimate wedding masih banyak dicari customer kami,” katanya pada pertengahan November 2025 di Plataran Borobudur, Magelang, Jawa Tengah

Intimate Wedding sempat menjadi model pernikahan yang sangat digandrungi pengantin di saat Pandemi Covid-19. Kala itu, larangan berkumpul dengan jumlah orang banyak sangat digaungkan oleh pemerintah untuk menghindari penularan Virus Covid-19. Para pengantin memilih pernikahan dengan jumlah orang yang minim. Mereka biasanya hanya ditemani keluarga dan teman terdekat saja.

Ermie mengatakan para pengantin yang kebanyakan Gen Z saat ini, pun masih mengutamakan pesta dengan jumlah orang terbatas. Bagi mereka, pesta pernikahan yang intim dinilai lebih hangat karena bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka kenal secara langsung. Pesta pernikahan seperti itu pun dinilai lebih bermakna karena benar-benar bisa berbagi momen berharga dengan orang terkasih. “Jadi tidak seperti dulu, saat kita hanya bertemu dengan tamu-tamu orang tua yang kita tidak kenal. Intimate wedding saat ini lebih dihadiri teman dekat, sehingga komunikasinya intim dan tamu juga mengucapkan selamat ke orang yang tepat,” kata Ermie.

Citrakara by Plataran Borobudur/Plataran Borobudur

Dari pengalaman Ermie, pasangan yang menikah di Plataran Borobudur cukup bervariasi latar belakangnya. Ada yang menyelenggarakan pesta intim dengan konsep tradisional, internasional, dan bahkan berkonsep budaya Tionghoa dan India. “Biasanya kami akan menyesuaikan dengan budaya yang digunakan pasangan pengantin,” kata Ermie.

Salah satu faktor yang membuat para pengantin ini menyukai pesta pernikahan intim, khususnya di Plataran Borobudur, adalah karena bisa memiliki latar pernikahan Candi Borobudur langsung. “Crown Kinandari salah satu tempat favorit pengantin,” kata Ermie.

Crown Kinandari by Plataran Borobudur terlihat seperti altar yang memiliki kubah seperti mahkota raja. Terdapat 7 tiang yang menopang kubah itu. Kubah itu membawa daya tarik tersendiri bagi pengantin yang ingin nuansa pernikahannya dengan atap megah. Yang menjadi hal uniknya, altar ini menghadap Candi Borobudur. Para pengantin tidak perlu menambah backdrop atau latar panggung mencolok karena bisa langsung menghadap candi yang merupakan salah satu dari keajaiban dunia itu. “Crown Kinandari bisa menjadi tempat akad nikah, atau blessing karena magisnya dapat. Sering pula digunakan untuk persiapan pernikahan seperti momen siraman,” kata Ermie.

Ada pula kawasan Citrakara Plataran Borobudur yang bisa menjadi pilihan untuk pesta intim pernikahan. Citrakara pun menghadap Candi Borobudur. Altar berbatu ini juga menjadi favorit pasangan. Panggung beralas batu itu memiliki lantai datar yang cukup luas. Bedanya dengan Crown Kinandari, Citrakara langsung beatap langit. Tentu hal itu membuat para pengantin perlu sangat detail memperhitungkan cuaca pada hari pernikahan mereka.

Pilihan lain yang juga diminati pengantin adalah Joglo Putri Dewi Plataran Borobudur. Ermie mengatakan tempat ini menjadi pilihan bagi pengantin yang suka dengan nuansa etnik tradisional. Joglo khas Jawa menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat budaya. Memang latar Joglo ini tidak secara langsung menghadap Candi Borobudur, namun nuansa tradisional bisa membawa khidmat suasana sakral pernikahan.

President Director Plataran Indonesia Anasthasia Sri Handayani menambahkan ada beberapa gaya pasangan mempersiapkan momen pernikahan intim mereka di Plataran Borobudur. Dari segi dekorasi misalnya. Pasangan Asia, seperti dari Indonesia dan berlatar belakang Cina, lebih suka fokus mempersiapkan backdrop alias latar panggung untuk pernikahan mereka. Mereka ingin agar backdrop mendapat perhatian lebih bagi tamu-tamunya.

Hal itu berbeda dengan pernikahan intim dari pasangan berlatar Eropa. Tamu-tamu Eropa akan lebih suka menggunakan latar panggung alam langsung. Mereka lebih ingin agar panitia acara fokus pada bunga sebagai hiasan, serta konsep meja makan dan hidangan untuk tamu-tamu mereka. “Kalau bule, sukanya latar fokus ke Candi Borobudur saja. Jadi hiasannya tidak berlebih yang penting table set tamu. Kalau orang Asia, backdropnya harus cantik sekali,” kata Thasia, sapaan Anasthasia.

Dalam mempersiapkan intimate wedding, para pengantin dari Asia biasanya menggunakan perencana pernikahan untuk mempersiapkan segalanya. Tentu para organisasi ini terus berkomunikasi dengan tim Plataran Borobudur untuk mempercantik altar mereka. “Penting untuk Wedding Organizer dan Wedding Stylish komunikasi dengan kami, karena yang tahu angle foto terbaik serta cahaya terbaik kan kami,” kata Thasia.

Namun ada pula beberapa pengantin yang langsung menyerahkan berbagai persiapan pernikahan mereka kepada tim Plataran Borobudur. Biasanya pengantin ini suka dengan tema internasional dalam pernikahan mereka. Selain ikut berdiskusi dan memberikan preferensi mereka terhadap pernikahan impiannya, para calon pengantin ini pun biasanya akan ikut turun tangan dalam menyiapkan hari besar itu.

Thasia menambahkan bagi pasangan yang belum punya konsep pasti seperti apa pernikahan intim mereka, Thasia pun membolehkan mereka datang berkonsultasi dengan timnya. “Tenang saja, bila pengantin belum kepikiran konsepnya, nanti akan kami bantu arahkan. Kami punya banyak referensi pernikahan untuk pengantin,” katanya

Dari segi waktu terbaik, Thasia memberikan beberapa opsi menyelenggarakan pesta intim di Plataran Borobudur. Pesta di pagi hari, sekitar pukul 07.00 bisa menjadi pilihan pasangan melaksanakan akad nikah. Karena di waktu itu cuaca masih cukup cerah, dan matahari pun belum terlalu terik. Ada pula pasangan lebih memilih untuk melaksanakan pesta intim mereka menjelang senja. Matahari yang mulai terbenam juga menjadi momen pilihan bagi tamu-tamunya.

Pilihan waktu lain yang bisa diambil olah para pasangan adalah waktu terbitnya matahari, yaitu sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Thasia mengatakan ada beberapa pasangan yang memang benar-benar ingin momen sakral mereka dengan latar ketika cahaya matahari baru terbit. Tak jarang pula, pada kondisi itu, kabut atau bahkan awan pun masih terlihat di beberapa daerah. “Mereka ingin agar ijab-kabul mereka berlatar Candi Borobudur saat matahari baru terbit. Bahkan terkadang saat itu masih terlihat awannya. Untuk momen ini, pengantin harus mulai make up jam 1 dini hari,” katanya.

Menurut Thasia, selain di Plataran Borobudur, pengantin juga bisa menikmati akad nikah dengan latar awan saat matahari terbit di Enam Langit by Plataran. Tempat ini berjarak sekitar 12 kilometer dari Plataran Borobudur. Pasangan membutuhkan waktu 30 menit perjalanan menuju Enam Langit. Namun dibanding Plataran Borobudur, Enam Langit by Plataran berada jauh lebih tinggi. Artinya pemandangan yang ditawarkan pun lebih banyak.

Joglo Putri Dewi Plataran Borobudur/Plataran Borobudur

Tempo sempat mendatangi Enam Langit di kala terbitnya matahari, sekitar pukul 05.00. Dari daerah Bukit Menoreh, tempat Enam Langit berada itu, Tempo bisa melihat kawasan Kabupaten Magelang Jawa Tengah tempat Enam Langit berada. Candi Borobudur memang terlihat dari teras tempat itu, namun pemandangan yang lebih megang terlihat adalah para enam gunung yang mengelilingi tempat makan itu, yaitu Gunung Telomoyo, Gunung Andong, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sumbing, dan Gunung Prau. Langit pun masih bernuansa abu-abu muda dangan tambahan cahaya kuning sedikit demi sedikit.

Udara pagi hari yang sedikit dingin mungkin akan menjadi tantangan bagi para pengantin yang ingin menjalani akad nikah dengan latar matahari terbit. Namun demi mendapatkan latar pernikahan yang menakjubkan, perjuangan momen patut dilakukan. “Biasanya yang penting akad dulu saat matahari terbit, dengan jumlah tamu undangan sangat terbatas hanya keluarga dan sahabat dekat saja. Lalu nanti dilanjutkan lagi saat resepsinya,” kata Thasia.

Pernikahan intim pun biasanya diutamakan saat prosesi akad nikah atau pemberkatan saja. Thasia menambahkan bahwa pernikahan jenis ini pun disesuaikan dengan tamu undangannya. Ketika pasangan pernikahan tetap ingin memiliki pesta pernikahan yang intim, namun tamu mereka sangat banyak, biasanya pasangan pengantin akan membuat pesta pernikahan intim yang berkelanjutan. Artinya, pesta intim itu akan dilaksanakan selama 3 hingga 7 hari penuh. Para pasangan bisa tetap bercengkerama dan menyapa tamu-tamu mereka satu-persatu secara langsung. “Biasanya pasangan dengan Budaya Batak, Minang, atau bahkan India yang tetap membuat intimate wedding, tapi berhari-hari,” kata Thasia.

Ada pula yang biasanya memilih untuk melaksanakan pernikahan intim satu hari saja untuk teman-teman dan keluarga dekat mereka, namun saat kembali ke Jakarta mereka akan tetap melaksanakan pesta yang besar untuk kolega mereka lainnya. “Kalau keluarga orang tuanya besar kan tidak mungkin sekali pestanya. Jadi setelah intimate wedding di sini, nanti di Jakarta tetap ada Mega Party,” kata Ermie.

Berapa dana yang perlu disiapkan? Ermie mengatakan paket intimate wedding di tempatnya bisa diperoleh mulai dari Rp 300 juta. Pesta pernikahan intim seperti apa yang Anda minati?