Renungan Harian Katolik: Melihat dengan Mata Iman
Pada hari Senin tanggal 17 November 2025, umat Katolik merayakan peringatan wajib Santa Elisabeth dari Hungaria Janda, Santo Gregorius Thaumaturgos Uskup dan Pengaku Iman, Santo Gregorius dari Tours Uskup dan Pengaku Iman, serta Santo Dionisius Agung Uskup dan Pengaku Iman. Hari ini memiliki warna liturgi putih yang menggambarkan kebersihan dan kebenaran.
Bacaan liturgi hari ini mencakup beberapa bagian dari Kitab 1 Makkabia. Dalam bacaan pertama, kita diingatkan tentang kejadian pada masa pemerintahan raja Antiokhus Epifanes. Pada masa itu, banyak orang Israel memilih untuk menyerah pada adat istiadat bangsa-bangsa lain, sehingga meninggalkan perjanjian kudus mereka. Mereka membangun gelanggang olahraga di Yerusalem dan bahkan menyembah berhala. Tindakan ini menimbulkan kemurkaan Tuhan, tetapi sebagian besar orang Israel tetap setia kepada imannya.
Mazmur Tanggapan mengingatkan kita bahwa kebencian terhadap orang-orang fasik adalah hal yang wajar. Namun, mazmur ini juga mengingatkan bahwa Taurat Tuhan tidak boleh dilupakan. Bait Pengantar Injil mengambil kutipan dari Injil Yohanes, “Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, ia akan mempunyai terang hidup.”
Bacaan Injil hari ini adalah dari injil Lukas 18:35-43. Kisah ini menceritakan seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Ketika ia mendengar bahwa Yesus lewat, ia berseru dengan penuh keyakinan: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Meskipun orang-orang di sekitarnya menyuruhnya diam, ia semakin keras berseru. Akhirnya, Yesus berhenti dan memberikan kesembuhan kepadanya.
Renungan Harian Katolik: Melihat dengan Mata Iman
Injil hari ini membawa kita pada kisah seorang buta di pinggir jalan, seorang yang tampaknya tak berarti di mata dunia namun memiliki hati yang besar di hadapan Allah. Ia tidak melihat Yesus dengan matanya, tapi dengan mata imannya.
Ia mendengar bahwa Yesus lewat, lalu berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Seruan yang penuh harapan, penuh keyakinan. Ia tidak malu, tidak takut ditolak, meski orang-orang di sekitarnya menyuruhnya diam. Tapi ia justru berseru semakin keras. Dan Yesus berhenti.
Tuhan yang sedang menuju Yerusalem, yang tahu penderitaan dan salib sudah menantinya, berhenti untuk satu orang miskin di pinggir jalan. Satu jeritan iman cukup untuk menghentikan langkah Yesus.
1. Iman yang Tidak Malu untuk Berseru
Kadang kita berpikir iman itu hal yang tenang dan lembut. Tapi hari ini kita belajar bahwa iman sejati justru bisa berani berseru. Iman yang sejati tidak takut ditolak. Ia tahu bahwa Tuhan mendengar bahkan di tengah keramaian dunia.
Orang buta itu tidak hanya meminta penyembuhan, tapi juga percaya bahwa Yesus adalah Mesias, “Anak Daud.” Ia percaya sebelum melihat dan itulah yang disebut iman sejati.
2. Yesus yang Selalu Berhenti untuk Kita
Ketika banyak orang mengabaikan kita, Yesus tidak pernah berjalan terlalu cepat untuk mendengarkan. Ia berhenti bagi mereka yang memanggil dengan hati yang tulus. Begitu pula dalam hidup kita: kadang kita merasa doa kita tidak didengar, tapi Tuhan selalu berhenti ketika kita berseru dengan iman.
3. Iman yang Menyembuhkan
“Yesus berkata kepadanya: ‘Melihatlah engkau! Imanmu telah menyelamatkan engkau.’” Mukjizat terjadi bukan karena formula atau ritual tertentu, tetapi karena iman yang hidup. Bukan iman yang hanya tahu tentang Tuhan, tetapi iman yang menyentuh hati Tuhan.
Setelah disembuhkan, orang itu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah — hidupnya menjadi kesaksian bagi orang lain.
4. Melihat dengan Mata Iman
Dalam dunia modern yang serba visual, kita sering menilai segala sesuatu dengan mata lahiriah: status, penampilan, pencapaian. Namun Injil hari ini mengingatkan bahwa yang terpenting adalah melihat dengan mata iman — mata yang percaya meski belum melihat.
Iman seperti inilah yang membuka jalan bagi mukjizat Tuhan dalam hidup kita: ketika kita berani berseru, berani berharap, dan berani mengikuti-Nya meski jalan belum jelas.
Doa Hari Ini
Tuhan Yesus, ajarilah kami melihat Engkau dengan mata iman, seperti orang buta di pinggir jalan itu. Berilah kami keberanian untuk berseru kepada-Mu di tengah kesibukan dan kebisingan dunia ini. Bukalah mata hati kami, agar kami tidak hanya melihat terang dunia, tetapi juga terang kasih-Mu yang sejati.
Amin.
Pesan Hidup
“Iman tidak membuat segalanya mudah, tapi membuat segalanya mungkin.” (Lukas 18:42)


