Ibu Tercinta Hilang dalam Banjir, Perjuangan Anak Mencari Jenazahnya

Posted on



Erik Andesra, seorang pria yang akrab disapa Erik, menceritakan pengalamannya dalam mencari keluarganya yang hilang akibat banjir bandang yang terjadi di Palembayan, Kabupaten Agam. Ia menyebutkan bahwa ibunya, Ernita (58 tahun), meninggal dalam keadaan salat dan ditemukan masih menggunakan mukena. Peristiwa ini terjadi setelah bencana alam meluluh lantakkan daerah tersebut pada Kamis (27/11).

Sebelum bencana terjadi, Erik berencana pergi bekerja ke Pasaman. Namun, ia tidak diizinkan oleh ibunya karena cuaca yang sering hujan. Ia baru bisa berangkat pada tanggal 27, namun pada hari itu, galodo menghancurkan daerah tempat tinggal sang ibu. Erik yang tinggal sekitar 8 kilometer dari rumah ibunya berusaha menuju lokasi tersebut. Saat sampai di persimpangan, ia melihat air dan lumpur yang menggenangi area tersebut, serta batu-batu besar yang terbawa aliran sungai.

Setelah menunggu beberapa menit, ia mendengar kabar bahwa ibunya masih berada di dalam rumah dan rumahnya telah hancur. Erik langsung mencari informasi tentang keberadaan ibunya yang dinyatakan hilang. Ia bahkan menembus lumpur setinggi dada untuk mencari jenazah ibunya. Ternyata, tidak hanya ibunya yang menjadi korban, tetapi juga adik dan tiga keponakannya.

Pada keesokan harinya, Erik menerima foto bahwa jenazah satu keponakannya ditemukan sekitar tujuh kilometer dari rumah dan sudah berada dalam kantong jenazah. Ia langsung menjemput jenazah tersebut dan membawanya ke Gumarang, sekitar 10 kilometer dari lokasi penemuan. Karena orang tua Erik terisolasi, ia diminta untuk membawa jenazah ke tempat neneknya.

Usai memakamkan keponakannya, Erik kembali mencari ibunya yang masih belum diketahui keberadaannya. Pada Jumat (28/11), ia masih berupaya mencari tahu keberadaan ibunya, adik, dan dua keponakannya yang belum ditemukan. Keluarganya di Jorong Subarang Aie terisolasi dan tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisi cuaca yang masih hujan dan lumpur yang menghalangi akses.

Dengan tekad kuat, adik sepupu Erik, Darul, berhasil mengantarkan bahan makanan ke lokasi tersebut dengan menelusuri lumpur setinggi dada. Selain itu, salah seorang warga di lokasi tersebut mengalami luka berat dan akhirnya dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung.

Masalah terisolasi mulai teratasi dengan dibuatnya jembatan darurat menggunakan pohon pinang oleh warga dan didukung oleh tim Kepolisian. Untuk mencari ibunya, Erik merental alat berat dan ikut membantu operator alat tersebut dalam pencarian. Meski upaya tersebut tidak langsung membuahkan hasil, akhirnya pada Sabtu sore, Erik bersama tim Basarnas berhasil menemukan ibunya yang terkubur dalam puing-puing rumah.

Jasad Ernita ditemukan dalam keadaan utuh, masih menggunakan mukena dan dalam posisi seperti sedang salat. Setelah dievakuasi, jasad ibunya langsung dibawa ke musala untuk dimakamkan. Berbeda dengan jasad lainnya yang harus dibawa ke tempat pengumpulan jenazah terlebih dahulu.

Kapolres Agam, AKBP Muari, menyebutkan bahwa hingga hari ke-4 pasca bencana, terdapat 112 orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 85 orang sudah teridentifikasi dan 27 sisanya masih belum diketahui identitasnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat merilis data jumlah korban hingga Minggu (30/11) sebanyak 129 orang meninggal dan 86 orang masih dinyatakan hilang. Di Kabupaten Agam tercatat 87 korban meninggal dan 76 orang hilang. Sementara di Kota Padang Panjang, terdapat 21 korban meninggal dan 32 orang hilang.

Bencana ini menimbulkan dampak luas di berbagai daerah di Sumatera Barat, termasuk di Kota Padang, Tanah Datar, Pasaman Barat, Padang Pariaman, Kota Solok, dan Pesisir Selatan.