Ibu, Mengapa Dunia Sepi?

Posted on

Kisah Inspiratif: Perjuangan Seorang Ibu dalam Membentuk Kehidupan Putrinya

Kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan seringkali menjadi impian yang diharapkan akan melengkapi kebahagiaan dalam rumah tangga. Namun, perjalanan menuju momen tersebut tidak selalu mulus. Ada pasangan yang mengalami jalan yang mudah tanpa banyak hambatan, sementara ada pula yang harus melewati berbagai tantangan dan membutuhkan kesabaran serta ketekunan.

Saat jerit tangis bayi mungil terdengar di setiap sudut ruangan, itu adalah momen bahagia yang dinanti-nanti. Namun, setelahnya, tantangan baru akan muncul, yaitu bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak agar menjadi manusia tangguh. Ayah dan ibu harus bekerja sama untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Hal ini tidak terlalu rumit jika anak lahir dalam kondisi normal, baik secara fisik maupun mental. Orang tua akan lebih mudah memberikan arahan tentang aturan atau kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehari-hari. Dengan memberi contoh, anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya secara spontan. Oleh karena itu, kehati-hatian orang tua dalam memberikan tauladan sangat penting agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Mendidik anak dengan dasar agama yang kuat akan membentuk karakter religius, sedangkan mendidik dengan penuh kasih sayang akan menjadikannya pribadi yang lembut. Namun, jika dididik dengan kasar, maka akan tumbuh pribadi yang kejam. Intinya, perkembangan anak sangat bergantung pada apa yang ditanamkan oleh orang tua sejak dini.

Namun, masalah muncul ketika orang tua menemukan bahwa anak mereka lahir dengan kondisi fisik atau mental yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Salah satu contohnya adalah Safira Salsabila Adzikra, seorang gadis yang kini duduk di kelas 7 dan mengalami gangguan pendengaran sangat berat sejak lahir. Pendengarannya hanya sekitar 10%, sehingga hanya suara dengan getaran tinggi seperti drum set, pesawat, atau vacuum yang bisa ia dengar. Dunia bagi Safira terasa sunyi dan senyap, tanpa sapaan, lirik lagu, atau kebisingan yang bisa ia rasakan. Bahkan, kata-kata yang terucap dari bibirnya seperti “Mama…Papa…” hanya sekadar bubbling yang tidak memiliki makna.

Kenyataan ini menjadi tamparan terbesar bagi kedua orang tua Safira. Duka menganga di hati mereka, dan dunia seakan runtuh saat menyadari kondisi putri bungsunya. Tak rela melihat putri kecilnya hanya diam sepanjang hidupnya, mereka melakukan berbagai alternatif pengobatan, mulai dari tradisional, alternatif, hingga medis. Ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah dikuras, dan langkah-langkah dilakukan dari rumah sakit di kampung halaman hingga ke kota lain.

Dari sinilah perjuangan kedua orang tua Safira dimulai. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup mereka, terutama sang ibu. Lelah dan bosan tak menjadi penghambat. Berbagai rekomendasi pengobatan dicoba satu persatu, namun hasilnya nihil. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mencari pengobatan medis. Pertemuan dengan dokter spesialis THT, dr. Yongki, Sp.THT-KL., menjadi jalan pembuka. Atas rekomendasi beliau, Safira dirujuk ke Kasoem Hearing Center Bandung.

Setelah beberapa observasi, tim medis memutuskan untuk memberikan alat bantu dengar (ABD) kepada Safira. Penggunaan ABD ini berlangsung selama enam bulan, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Safira masih belum mampu merespons panggilan. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa kemampuan pendengarannya setara dengan bayi usia tiga bulan. Akhirnya, saat Safira berusia 3,5 tahun, tim dokter di Rumah Sakit Santosa Bandung melakukan operasi cochlear implant (implan koklea) di belakang telinga kanannya.

Operasi ini dilakukan setelah melewati berbagai prosedur pemeriksaan, termasuk BERA, ASSR, MRI, CT Scan, dan vaksin di beberapa rumah sakit. Biaya total operasi melebihi dua ratus juta rupiah, tetapi kedua orang tua Safira merelakannya demi masa depan putrinya. Alhamdulillah, perjuangan mereka tidak sia-sia. Safira kini bisa menikmati suara burung, suara mama, dan merespon panggilan walau hanya dengan senyuman.

Perjuangan ini ternyata bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan baru. Safira sempat mengalami ketakutan pada awal mengenal suara. Dengan kesabaran dan ketelatenan, sang ibu mulai mengenalkan huruf vokal, suku kata, dan kata-kata. Setiap kata yang dikenal, ibu harus mengulangnya beribu-ribu kali agar Safira bisa merekamnya dalam memorinya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, hingga kini Safira sudah menginjak remaja.

Tidak jarang, sang ibu merasa seperti orang aneh karena terus-menerus mengucapkan hal yang sama. Naik turun dalam perjuangan membuatnya hampir menyerah, terlebih saat ada duri yang hampir meruntuhkan rasa percaya diri Safira. Ada kata-kata menyakitkan yang terlontar dari bibir putrinya, seperti “Mama, aku benci diriku sendiri.” Meskipun begitu, sang ibu tetap berjuang, karena ia tahu bahwa Safira sedang berjuang untuk menjadi seperti yang lain.

Perjuangan ini tidak akan sia-sia. Safira pasti akan menjadi sosok yang tangguh seperti Ayah Bundanya dan menjadi kebanggaan suatu hari nanti. Semangat dan tekad yang ditanamkan oleh sang ibu akan selalu menjadi pendorong untuk masa depan putrinya.

Penjelasan Singkat Mengenai Pemeriksaan Medis

  • BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry): Uji pendengaran yang digunakan untuk mengecek kondisi saraf pendengaran dengan menggunakan metode gelombang, biasanya dilakukan untuk pemeriksaan anak kecil yang belum kooperatif. Kondisi pengecekan dilakukan pada saat anak tidur.
  • ASSR (Auditory Steady-State Response): Pemeriksaan untuk mengecek kondisi saraf dan hasil pemeriksaannya dalam bentuk audiogram. Biasanya pemeriksaan ini digunakan untuk anak yang belum kooperatif.

Kisah ini terinspirasi dari ibunda Safira (Bu Santi Nurani) dalam memperjuangkan hak dengar dan bicara putri tercintanya, Safira Salsabila Adzikra (Neng Chacha). Kisah lengkapnya Insya Allah akan segera rilis dan ditulis oleh Bu Santi sendiri.