Kepemimpinan yang Menyentuh Rakyat
Kepemimpinan yang baik tidak hanya diukur dari kebijakan yang dikeluarkan, tetapi juga dari bagaimana pemimpin tersebut berinteraksi langsung dengan rakyat. Bila kepemimpinan seperti ini terus dijaga, maka NTB Makmur Mendunia tidak lagi sekedar cita-cita yang indah diucapkan, melainkan kenyataan yang pelan-pelan dibangun.
Ada pemimpin yang memilih dikenang lewat baliho. Ada pula pemimpin yang memilih dikenang lewat jejak: jejak ketulusan, jejak keberpihakan, dan jejak kerja yang menyentuh rakyat sampai ke akar persoalan. Rangkaian peristiwa kegiatan Gubernur Iqbal didampingi Ketua TP-PKK Ibu Shinta menampilkan satu garis lurus yang utuh, bukan serpihan agenda yang berdiri sendiri, melainkan satu perjalanan pengabdian yang dimulai dari niat, dipanjatkan dalam do’a, lalu dibuktikan dalam kerja.
Dari pendopo gubernur saat melepas jama’ah umrah hadiah pribadi, hingga perjalanan kedinasan ke Sumbawa untuk menuntaskan masalah jalan, hutan, rumah tak layak huni, dan kemiskinan: semuanya menyatu dalam satu pesan yang jelas, bahwa langit memang tempat berharap, tetapi bumi adalah tempat membayar harapan itu dengan tindakan.
Penghargaan kepada Pekerja yang Sunyi
Di Pendopo Gubernur NTB, 33 jama’ah umrah dilepas dalam suasana haru yang tidak dibuat-buat. Ini bukan sekedar seremoni keberangkatan, melainkan momen yang menegaskan satu nilai yang sering hilang dalam ritme birokrasi: penghargaan kepada mereka yang bekerja dalam sunyi. Mereka yang selama ini tidak banyak disebut: pembuat kopi, sopir, cleaning service, wartawan, polisi hutan, kader posyandu – mereka bukan tokoh yang berdiri di depan mikrofon, tetapi merekalah yang diam-diam menjaga denyut pelayanan tetap hidup.
Ketika umrah diberikan kepada mereka, yang sesungguhnya diangkat bukan hanya raga menuju Tanah Suci, tetapi juga martabat: bahwa kerja yang ikhlas, sekalipun sunyi, tetap layak dimuliakan. Kebijaksanaan Gubernur Iqbal terlihat bukan hanya pada pemberiannya, tetapi pada cara ia menempatkan dirinya. Ia menyebut dirinya hanya wasilah, perantara dari kehendak Allah. Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya besar: bahwa kekuasaan bukan panggung untuk membanggakan diri, melainkan jalan untuk menyalurkan kebaikan.
Umrah sebagai Panggilan Syukur
Umrah tidak diposisikan sebagai hadiah yang membuat penerima berutang kepada manusia, tetapi sebagai panggilan yang mengajarkan syukur kepada Tuhan. Inilah bahasa langit yang menyejukkan: pemimpin yang memberi tanpa mengikat, yang membantu tanpa menuntut, yang hadir tanpa memaksa rakyat memuja. Namun yang membuat rangkaian ini lebih kuat adalah kesinambungannya. Setelah melepas jama’ah, Gubernur tidak larut dalam suasana hangat dan tepuk tangan. Ia justru memilih tetap berada di daerah karena NTB sedang menghadapi bencana, lalu menitipkan pesan yang tajam dan mengandung adab kepemimpinan: do’akan NTB terlebih dahulu sebelum mendo’akan saya.
Ia meminta agar masyarakat dido’akan keluar dari kemiskinan, agar pemimpin diberi kekuatan mengubah keadaan. Di sini kita melihat satu hal yang jarang: do’a tidak dijadikan pelarian dari masalah, tetapi dijadikan bahan bakar untuk menuntaskan masalah. Karena pada akhirnya, do’a yang paling tinggi bukan do’a yang panjang, melainkan do’a yang melahirkan tanggung jawab.
Kunjungan Kerja di Sumbawa
Dari pendopo yang penuh salam, perjalanan berlanjut ke Sumbawa dan di sanalah niat diuji oleh kenyataan. Kunjungan kerja kali ini terasa berbeda, karena sebagai Gubernur Miq Iqbal tidak hanya datang untuk disambut, tetapi datang untuk melihat langsung. Gubernur bersama Bupati Sumbawa menelusuri jalan-jalan yang membutuhkan penanganan serius: Lintas Moyo, Moyo Luair, titik-titik rawan, ruas-ruas yang memerlukan jembatan penghubung dan saluran air.
Ini bukan sekadar inspeksi teknis, melainkan pengakuan bahwa jalan bukan hanya soal aspal, tetapi soal hidup: soal bagaimana hasil pertanian sampai ke pasar, bagaimana anak-anak pergi sekolah, bagaimana warga bisa cepat tertolong saat darurat, bagaimana ekonomi bergerak atau tersendat. Ketika Gubernur menegaskan, “Mana jalan provinsi yang perlu perbaikan, kita kerjakan dulu,” kalimat itu terdengar singkat, tetapi sebenarnya itulah inti keberpihakan. Sebab rakyat tidak selalu butuh pidato panjang, rakyat butuh prioritas yang tepat.
Masalah Hutan dan Solusi Berkelanjutan
Jalan yang baik bukan hanya memendekkan jarak, tetapi memendekkan penderitaan. Jalan yang kokoh bukan hanya menghubungkan desa dan kota, tetapi menghubungkan rakyat dengan kesempatan hidup yang lebih layak. Dan di titik ini, kita paham bahwa kerja pemerintahan yang paling bermakna adalah kerja yang menyentuh kebutuhan paling dasar: akses. Yang lebih menarik, dalam urusan jalan, muncul persoalan yang lebih besar: hutan. Sebab kerusakan jalan tidak selalu lahir dari usia aspal, tetapi sering lahir dari luka ekologi.
Ketika hutan tidak lagi menjadi penahan air, air kehilangan kendali, lalu deras membentuk aliran baru, menggerus tanah, dan merobek jalan yang baru saja dibangun. Dukungan Gubernur terhadap langkah tegas Bupati Sumbawa menghentikan pembalakan liar menunjukkan cara berpikir yang utuh: menyelesaikan masalah tidak cukup menambal akibat, tetapi harus memotong sebab. Menyelamatkan hutan bukan hanya agenda lingkungan, tetapi agenda keselamatan, agenda ekonomi, agenda masa depan. Karena alam yang rusak selalu menagih biaya, dan rakyat kecil biasanya yang pertama membayar.
Kedekatan dengan Rakyat
Perjalanan itu kemudian bergerak lebih sunyi lagi, lebih dekat, dan lebih menusuk rasa: ketika Miq Iqbal Bersama Ibu Shinta menyempatkan diri mendatangi dua rumah warga di Desa Batu Bangka, Moyo Hilir. Dari jalan yang ditelusuri, ia masuk ke ruang paling pribadi dalam kehidupan rakyat: rumah yang rapuh, atap seng lawas, dinding kayu, tetapi menyimpan ketabahan dan senyum yang tidak pernah putus. Di sinilah kemiskinan tidak lagi menjadi angka dalam laporan, melainkan wajah yang nyata, ada keluarga, ada anak-anak, ada dapur yang tetap berusaha mengepul meski hidup serba terbatas.
Instruksi kepada Baznas NTB untuk membangun dua rumah layak huni dan satu MCK bersama adalah bentuk kepemimpinan yang tidak berhenti pada simpati. Simpati membuat kita terharu, tetapi tindakan membuat kehidupan berubah. Rumah yang layak bukan hanya bangunan, melainkan pemulihan martabat. MCK yang bersih bukan hanya fasilitas, melainkan penjaga kesehatan dan kehormatan. Dan bantuan sembako serta paket konsumtif sekecil apa pun terlihat bagi sebagian orang, bagi warga yang membutuhkan, ia adalah penyangga napas hidup, penunda beban yang menyesakkan.
Pesan tentang Kepemimpinan yang Utuh
Di momen ini, kita melihat bahwa pengabdian tidak selalu berbentuk proyek besar; kadang pengabdian justru hadir dalam keputusan sederhana yang tepat sasaran: menyelamatkan yang paling mendesak. Ketika Miq Iqbal mengimbau anak-anak agar terus bersekolah, pesan itu terasa seperti simpul yang mengikat semuanya. Umrah adalah penguatan ruh, jalan adalah pembukaan akses, rumah adalah pemulihan martabat, dan sekolah adalah jembatan masa depan.
Inilah rangkaian yang utuh: dari langit ke bumi, dari niat ke ikhtiar, dari kebijakan ke keberkahan. Sebab kemiskinan tidak cukup dilawan dengan belas kasihan, ia harus dilawan dengan jalan yang dibuka, lingkungan yang dijaga, rumah yang dimanusiakan, dan masa depan yang disiapkan. Pada akhirnya, rangkaian ini mengajarkan satu hikmah yang keras tetapi benar: NTB tidak akan keluar dari kemiskinan hanya dengan do’a, dan NTB tidak akan sampai pada kemakmuran hanya dengan kerja yang kehilangan niat.
Do’a tanpa kerja hanya menjadi harapan yang menggantung, sedangkan kerja tanpa niat hanya menjadi rutinitas yang kering. Yang dibutuhkan adalah keduanya: do’a yang tulus sebagai kompas, dan kerja yang tuntas sebagai bukti. Karena itulah, perjalanan Gubernur Miq Iqbal yang didampingi Ibu Shinta dari melepas jama’ah umrah hadiah pribadi hingga menelusuri Sumbawa menyelesaikan jalan, hutan, rumah, dan kemiskinan, sesungguhnya bukan sekedar rangkaian kegiatan. Ia adalah pesan tentang cara memimpin: memuliakan yang sunyi, mendatangi yang jauh, menuntaskan yang mendesak, dan mengembalikan harapan rakyat ke tempat yang semestinya, bukan hanya di langit yang dipanjatkan, tetapi juga di bumi yang dikerjakan.
Dan bila kepemimpinan seperti ini terus dijaga, maka NTB Makmur Mendunia tidak lagi sekedar cita-cita yang indah diucapkan, melainkan kenyataan yang pelan-pelan dibangun: satu do’a, satu langkah, satu keputusan, dan satu keberpihakan pada satu waktu.


