PasarModern.com,
JAKARTA – Ekonomi global menghadapi tantangan besar akibat gejolak politik yang terjadi di berbagai negara pada awal pekan ini. Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat menjadi pusat perhatian karena situasi politik yang memengaruhi stabilitas ekonomi.
Perubahan Pemimpin di Jepang
Di Jepang, bursa saham mengalami penguatan setelah Sanae Takaichi terpilih sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (LDP), partai berkuasa. Indeks Nikkei 225 naik sebesar 0,62% ke level 48.250 pada awal perdagangan hari ini. Sementara itu, yen Jepang melemah 0,3% menjadi 150,4 yen per dolar AS.
Sanae Takaichi, yang berusia 64 tahun, menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai pemimpin Negeri Sakura. Ia terpilih melalui proses internal yang melibatkan 295 anggota parlemen LDP dan sekitar 1 juta anggota partai. Pemungutan suara putaran kedua antara Takaichi dan Shinjiro Koizumi, putra mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi, berlangsung pada Sabtu lalu. Takaichi berhasil mengalahkan Koizumi dalam pemungutan suara tersebut.
Pemilihan perdana menteri baru akan dilakukan oleh parlemen pada 15 Oktober. Meski LDP masih menjadi partai terbesar, koalisi yang dipimpinnya kehilangan mayoritas di kedua tingkat parlemen setelah mengalami kekalahan elektoral signifikan. Hal ini memaksa koalisi untuk mencari dukungan dari oposisi agar bisa membentuk pemerintahan efektif.
Shutdown AS Masih Berlanjut
Di Amerika Serikat, penutupan pemerintah (shutdown) yang telah berlangsung selama beberapa minggu masih berlanjut hingga hari ini. Namun, ada harapan bahwa shutdown akan segera berakhir setelah adanya rencana negosiasi antara Presiden Donald Trump dan Kongres.
Presiden Trump menyatakan siap bernegosiasi dengan Partai Demokrat terkait subsidi layanan kesehatan. Jika anggaran disetujui, shutdown yang telah berlangsung sejak pekan lalu akan berakhir. Trump menilai belum ada tekanan politik yang cukup untuk mengakhiri kebuntuan, tetapi memberi sinyal kemungkinan terobosan. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa kelanjutan shutdown dapat berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja federal.
Partai Demokrat menegaskan mereka tidak akan mendukung rancangan undang-undang anggaran sementara kecuali mencakup perpanjangan subsidi Affordable Care Act (ACA) yang akan berakhir pada akhir 2025, serta menghapus pemangkasan program Medicaid yang diberlakukan melalui undang-undang belanja era Trump.
Meskipun shutdown terus berlangsung, bursa saham di Wall Street tidak terlalu terpengaruh. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,14% menjadi 46.694,97, sedangkan S&P 500 naik 0,36% ke 6.740,28 dan Nasdaq Composite melonjak 0,71% ke 22.941,67.
Krisis Politik di Prancis
Di Prancis, Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengundurkan diri setelah gagal mencapai kesepakatan dengan partai-partai politik mengenai belanja anggaran negara. Pengunduran diri Lecornu menandai eskalasi serius dalam krisis politik Prancis.
Partai sayap kanan Prancis, National Rally, segera mendesak Presiden Emmanuel Macron untuk menggelar pemilu parlemen dadakan. Susunan kabinet baru yang ditunjuk oleh Lecornu memicu kemarahan baik lawan maupun sekutu Macron, yang menganggapnya terlalu kanan atau tidak cukup kanan.
Imbas dari gejolak politik tersebut membuat pasar saham Prancis mengalami penurunan harian terbesar dalam lebih dari satu bulan. Namun, reli saham semikonduktor yang didorong oleh kesepakatan pasokan chip antara AMD dan OpenAI memberikan sedikit peningkatan.
Dampak Kepada Harga Emas
Kepala Riset dan Strategi Logam di MKS PAMP SA menyebutkan bahwa ketidakpastian politik di AS, Prancis, dan Jepang memperkuat kekhawatiran fiskal dan menjadi salah satu pendorong reli harga emas. Harga emas di pasar spot menguat 0,14% ke level US$3.966,72 per troy ounce, sementara harga emas berjangka Comex AS kontrak Desember 2025 juga menguat 0,23% ke level US$3.985,40 per troy ounce.
Analis Marex Edward Meir menjelaskan bahwa perkembangan politik di Prancis, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang akibat kekhawatiran inflasi, serta berlanjutnya penutupan pemerintahan AS menjadi pendorong reli emas. Selain itu, investor memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat bulan ini, disusul tambahan pemangkasan 25 bps pada Desember.
