Gegara air cucian beras, ibu dikeroyok 5 tetangganya, pelaku kabur setelah korban lapor polisi

Posted on

Ringkasan Berita:

  • Seorang ibu menjadi korban pengeroyokan lima orang tetangganya sendiri gegara air cucian beras.
  • Para pelaku yang masih satu keluarga langsung kabur usai korban lapor polisi.

PasarModern.com – Aksi kekerasan di Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mendadak viral di media sosial.

Dalam aksi kekerasan tersebut, seorang ibu menjadi korban pengeroyokan lima orang tetangganya sendiri.

Kini para pelaku yang masih satu keluarga tersebut diduga sudah kabur meninggalkan rumah.

Kasat Reskrim Polres Bangkalan, AKP Hafid Dian Maulidi mengatakan, korban merupakan perempuan berinisial NH (43), warga Desa Cangkareman, Kecamatan Konang.

Kejadian ini bermula ketika korban sedang menyiram air bekas cucian beras di halaman rumahnya.

Tak lama kemudian, tetangganya yang berinisial JK (35) menegur NH hingga keduanya terlibat cekcok.

NH lalu berusaha mengalah dan tidak menghiraukan ucapan JK.

Korban pun lalu melanjutkan menyapu rumah.

Namun, JK kembali mengganggu korban, bahkan melempari tubuh korban menggunakan batu.

Kesal dengan sikap JK, NH lalu menegur hingga kembali cekcok.

Dari situlah keluarga pelaku yang lain datang.

“Lalu dari situ keluarga JK yang lain, yakni ST (25) dan TH (30), mendatangi NH,” jelasnya, Jumat (25/12/2025), melansir Kompas.com.

Saat menghampiri korban, ST membawa palu dan hendak digunakan untuk memukul korban.

Namun, palu tersebut berhasil direbut korban dan dibuang.

Tak berhenti di situ, ST kemudian memukul wajah korban menggunakan sandal jepit.

Sedangkan TH meninju wajah korban, dan JK mengambil palu lalu langsung memukul pelipis korban menggunakan palu itu.

“Saat pengeroyokan tersebut, adik korban datang dan melerai. Tiga pelaku lalu pulang ke rumahnya,” jelasnya.

Namun, sekitar setengah jam kemudian, JK, ST, dan TH kembali mendatangi korban dan turut mengajak keluarganya yang lain, yakni SL (60) dan SR (45).

Setelah tiba di rumah korban, lima orang tersebut membabi buta menyerang NH secara bergantian.

Mendengar keributan tersebut, adik korban kembali datang dan melerai lima tetangganya yang mengeroyok kakaknya tersebut.

Insiden yang terekam dalam tiga potongan video tersebut, kini telah memasuki babak baru di kepolisian.

Pasca kejadian, korban dan keluarganya melaporkan aksi kekerasan tersebut ke Mapolres Bangkalan.

Korban juga langsung melakukan visum setelah laporan masuk.

Setelah dilaporkan pada Kamis (25/12/2025) malam, kasus ini resmi dinaikkan ke tahap penyidikan oleh Satreskrim Polres Bangkalan.

Hafid mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan gelar perkara awal.

Berdasarkan bukti rekaman video dan keterangan saksi, lima orang terlapor kini tengah dalam pemeriksaan intensif.

“Kami sudah melakukan gelar perkara, saat ini kasusnya sudah naik ke tahap penyidikan. Kelima terlapor diduga masih satu keluarga, yakni ST (25), TH (30), JKT (30), STR (45) dan SL (60),” ungkap Hafid di Polres Bangkalan, Jumat (26/12/2025).

Penyelidikan polisi mengungkap, bahwa motif di balik pengeroyokan brutal ini sangatlah sepele.

Cekcok bermula dari ketidaksenangan tetangga terhadap aktivitas korban yang membuang air cucian beras.

“Hubungan korban dan terlapor adalah tetangga. Awalnya korban membuang air beras dekat rumahnya, namun tetangga tidak terima,” pungkas Hafid.

“Kemudian terjadi cekcok mulut hingga berujung pada pengeroyokan,” imbuhnya.

Usai kejadian tersebut dilaporkan ke polisi, lima orang pelaku diduga kabur meninggalkan rumah.

Saat ini polisi masih terus mendalami kasus tersebut.

“Saat ini dalam penyelidikan terkait keberadaan pelaku,” pungkasnya.

Kejadian lainnya

Seorang wanita, MK (40), dan anaknya yang masih berusia enam tahun, EL, dianiaya tetangga yang masih satu keluarga.

Polisi menangkap MY (42) asal Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dan anaknya, R (21) sebagai tersangka.

Hal itu disampaikan Kasat Reskrim Polres Bangkalan, AKP Hafid Dian Maulidi.

“Dua pelaku kami tahan dan kami tetapkan sebagai tersangka,” ujarnya, Senin (20/10/2025), mengutip Kompas.com.

Polisi masih mendalami kasus tersebut untuk mengungkap adanya keterlibatan pelaku lain.

Dalam kejadian penganiayaan tersebut, MK telah melaporkan MY beserta keluarganya, yakni R, MD, dan MS karena telah melakukan penganiayaan terhadap MK dan anaknya yakni EL yang masih berusia enam tahun.

“Untuk kasus penganiayaan terhadap putri korban, itu dilaporkan dalam berkas tersendiri dan masih kami dalami,” ucap dia.

Aksi penganiayaan tersebut terjadi di Desa Kajuanak, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Korban, yakni Mokarromah (35), mengungkap kronologi kejadian.

Ia mengatakan bahwa kejadian bermula saat anaknya, E (6), bersama teman sebayanya sedang membeli jajan ketika jam istirahat di sekolah madrasah.

Tak lama kemudian, bungkus jajan tersebut dibuang di halaman oleh E dan teman-temannya.

Tiba-tiba, E dan teman-temannya didatangi oleh seorang nenek, yakni MS (70), yang membawa bambu.

Nenek tersebut merupakan salah satu keluarga dari penjual makanan di sekitar sekolah tersebut.

“Anak saya serta anak-anak lain disabet pakai bambu itu, lalu dilerai oleh para guru,” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).

“Akibatnya, anak saya mengalami lebam di bagian matanya. Kejadiannya itu hari Kamis, tanggal 16 Oktober lalu,” tambahnya.

Tak terima anaknya dianiaya, Mokarromah lalu menghubungi cucu laki-laki MS, yakni R, melalui telepon.

Saat dihubungi, R sempat meminta maaf atas perlakuan neneknya.

Namun, R diduga meremehkan kejadian tersebut sehingga terjadi perdebatan.

“Jadi R itu malah bilang, ‘Kan enggak sampai buta anakmu’ begitu. Ini bukan masalah buta atau tidak, tapi anak saya dianiaya,” ungkap Mokarromah.

Diduga, dalam perdebatan tersebut terjadi kesalahpahaman hingga mengakibatkan R mendatangi rumah Mokarromah yang letaknya tak jauh dari rumah keluarga R.

“Lalu R datang ke rumah dan saya jelaskan agar dia tidak salah paham. Tapi saya justru dipukul, ditonjok, dan kepala saya dibanting ke tembok,” ungkapnya.

Kondisi rumah Mokarromah yang sepi membuat pelaku leluasa menganiaya korban.

“Saya di rumah saat itu hanya bersama ibu saya yang sudah sepuh. Sedangkan suami masih ada kegiatan di luar rumah,” jelasnya.

Tak lama berselang, ibu R, yakni MY, juga turut datang ke rumah korban.

MY lalu mencakar wajah korban dan menganiaya hingga korban pingsan.

Mendengar keributan tersebut, tetangga lain datang untuk melerai pelaku.

Namun, ayah R, yakni MD, lalu ikut datang ke rumah korban dan terus memprovokasi R agar membunuh korban.

“Jadi saat tetangga datang itu, mereka memegangi R agar tidak terus memukuli saya, tapi ayahnya R, yakni MD, terus menyuruh R untuk membunuh saya,” imbuhnya.

Akibat penganiayaan tersebut, Mokarromah mengalami luka di bagian kepala dan beberapa bagian tubuhnya.

Korban juga mengalami trauma pasca kejadian tersebut.

“Sebelum meninggalkan rumah kami, pelaku terus mengancam akan membunuh saya,” tuturnya.

Ancaman tersebut membuat korban khawatir.

Apalagi, keluarga pelaku dikenal problematik dan kerap melakukan tindakan kasar.

“Makanya, sekarang kami sekeluarga sementara mengungsi ke rumah saudara di luar Kecamatan Galis,” imbuhnya.

Mokarromah kini juga melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bangkalan dan telah melakukan visum.

Ia berharap, kasus tersebut bisa segera ditangani dan para pelaku bisa segera ditangkap.

“Kami sudah laporkan para pelaku, semoga bisa segera ditangani,” ucapnya.

Sementara itu, Psikolog sekaligus Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Kabupaten Bangkalan, Dr Mutmainah, melakukan pendampingan terhadap Mokarromah dan anaknya yang jadi korban penganiayaan.

“Kami akan terus melakukan pendampingan pada dua korban tersebut sampai kasus ini selesai.”

“Kami juga melakukan upaya pemulihan trauma yang dialami oleh korban,” pungkasnya.