Cerita Pendek: Teni Ganjar Badruzzaman
Lahir di Ciamis, 1988. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen-cerpennya tersebar di beberapa platform sastra, media cetak, dan antologi. Kini menetap di Bandung.
DARI balik kaca jendela ruang kerja saya di lantai empat, saya melempar pandang jauh ke luar. Di bawah sana, tampak beberapa orang satpam sedang mengatur motor dan mobil karyawan yang masuk ke tempat parkir. Salah satu dari mereka berdiri di depan gerbang, meminta si pengendara mobil membuka kaca jendela untuk memastikan siapa yang berada di balik kemudi, sebelum diperbolehkan masuk ke area perusahaan.
Saya memperhatikan setiap kali gerbang setinggi tiga meter dan bercat abu itu terbuka lalu tertutup kembali. Ah, hampir delapan tahun sudah saya memasuki gerbang itu di setiap pagi dan akan keluar saat cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat. Tak jarang, saya baru keluar dari tempat ini tatkala matahari dan bulan telah sepakat untuk bertukar tempat.
Saya jatuh cinta pada suasana di perusahaan ini bahkan sejak hari pertama di terima bekerja sebagai pengawas produksi. Seluruh ruangan di gedung lima lantai ini selalu bersih dan wangi. Udara sejuk diembuskan dari AC central selama dua puluh empat jam. Bahkan kondisi kamar mandinya pun jauh lebih baik dibanding kamar kontrakan saya waktu itu yang pengap dan selalu berantakan. Tidak hanya itu, hal berharga lain yang membuat saya jatuh cinta pada tempat ini adalah keriuhan dan gelak tawa di kantin saat jam makan siang tiba.
Namun, tidak bisa dipungkiri terkadang saya juga mengalami rasa jenuh; pada setumpuk dokumen yang harus saya periksa dan tanda tangan, laporan proses produksi mingguan dan bulanan yang tidak boleh terlambat saya buat, juga pada tingkah polah beberapa operator yang suka membangkang dari kewajiban. Ah, kala itu, hal ini yang paling berat bagi saya yang baru berusia dua satu. Harus mengurus puluhan operator yang kebanyakan sudah seumur orangtua saya sungguhlah bukan perkara mudah.
Meski begitu, banyak juga dari operator yang kebanyakan ibu rumah tangga itu sangat berdedikasi tinggi pada perusahaan sehingga mudah untuk saya atur dan ajak kerja sama. Bahkan tak jarang saya merasa iri pada wanita-wanita perkasa itu. Mereka sangat pandai membagi waktu antara bekerja dan mengurus rumah tangga. Mereka yang selalu bisa tertawa untuk sejenak melupakan masalah yang ada. Serta mereka yang bisa berbagi peran dengan baik bersama suaminya.
Tidak seperti saya yang sempat terkurung dalam ruang dilema. Pernah terbesit rasa sesal di benak saya. Ingin rasanya kembali ke masa lalu, masa ketika lelaki yang baru saja genap lima bulan menjadi pacar saya tiba-tiba saja mengajak saya menikah. Saya menyesal karena saat itu dibutakan cinta dan terburu-buru menerima pinangannya. Seandainya dari awal saya tahu bahwa setelah kami terikat janji suci lelaki itu akan meminta saya untuk berhenti bekerja, mungkin dulu saya tidak akan menerima pinangannya begitu saja. Lelaki itu menuntut saya untuk menjadi seperti ibunya. Di mata lelaki itu, ibunya adalah sosok istri yang sempurna. Yang selalu bangun paling awal, memasak, menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anaknya, mengurus rumah, dan menyelesaikan semua pekerjaan yang katanya menjadi kewajiban seorang istri. Kami sering berdebat karena hal-hal itu, sebab saya memiliki pandangan yang berbeda tentang memaknai hak dan kewajiban seorang istri. Saat itu, saya yang menobatkan diri sebagai manusia modern yang menjunjung tinggi emansipasi wanita acapkali mengabaikan segala tuntutan lelaki itu.
“Mau sampai kapan kamu kaya gini? Lebih mentingin kerjaan daripada tugas kamu sebagai seorang istri?”
Saya benar-benar muak dengan pertanyaan yang hampir setiap saat diucapkannya itu. Di tahun pertama pernikahan, saya mulai menyerah karena sudah terlalu lelah. Saya mencintai lelaki itu, sangat mencintainya. Namun, ego saya ternyata lebih besar. Saya tidak merasa takut harus kehilangannya jika ia masih saja memaksakan kehendaknya itu. Saya ada di titik ingin berpisah dan mengakhiri semuanya.
Namun, lelaki itu ternyata lebih takut kehilangan saya. Sedikit demi sedikit ia mulai belajar berdamai dengan keinginan saya. Lelaki itu mengizinkan saya bekerja, dan tak pernah banyak menuntut ini dan itu lagi. Saya luluh. Bunga-bunga kasih kembali bermekaran di taman hati saya. Kami menjalani kehidupan rumah tangga sesuai irama yang saya mainkan. Hingga akhirnya, di usia pernikahan kami yang kedua, Tuhan menghendaki saya berbadan dua. Lelaki itu terlihat sangat bersuka cita. Rasa sayangnya untuk saya semakin besar. Rumah tangga kami dinaungi awan kebahagiaan.
Di sisi lain, karier saya juga semakin melesat. Saya dipromosikan naik jabatan sebagai manajer produksi. Lelaki itu tidak keberatan saat tugas rumah saya mandatkan pada seorang asisten rumah tangga. Termasuk saat saya menyiapkan seorang babysitter untuk anak semata wayang kami. Mungkin ia terpaksa menuruti kehendak saya sebab terlalu takut saya meninggalkannya. Entahlah, yang jelas saat itu, saya merasa hidup ini begitu sempurna. Saya berhasil menggenggam dua dunia yang saya cintai.
Namun, lagi-lagi sepertinya Tuhan ingin mengajarkan saya cara memaknai kehidupan dengan lebih bijaksana. Satu bulan sebelum hari ulang tahunnya yang keempat, anak semata wayang kami jatuh sakit. Dia diserang demam tinggi berhari-hari dan harus dirawat di rumah sakit. Saya merasa berdosa seumur hidup sebab sebelumnya sering kali abai ketika babysitter mengeluhkan mimisan dan memar-memar yang dialami anak kami.
Saya mengutuk diri sebagai ibu paling jahat sedunia sebab setelah melewati serangkaian pemeriksaan panjang, anak kami didiagnosa menderita leukemia. Saya hancur sehancur-hancurnya, selayak dilemparkan dari puncak gedung pencakar langit dan jatuh berdebam di jalan beton. Suami saya apalagi. Saat itu, ia harus memikul dua kepedihan sekaligus. Kesedihan mendalam karena kondisi anak yang amat ia kasihi, serta kekecewaan yang tak lagi tertahan terhadap saya. Kali ini tak ada ampun lagi darinya. Ia meminta saya untuk menentukan skala prioritas saat itu juga.
“Aku bisa berkorban demi menuruti egomu. Tapi, haruskah anak kita juga ikut dikorbankan?” tanya suami saya saat itu dengan tatapan mengintimidasi. Tentu itu sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Sebab meski gila bekerja, saya masih cukup waras dan memiliki keinginan untuk berkesempatan menjadi seorang ibu yang baik.
Hingga akhirnya, satu bulan lalu, surat pengunduran diri saya disetujui. Kemarin, saya sudah berkeliling ke semua divisi di perusahaan ini untuk berpamitan. Berat, sangat berat rasanya saat harus melepaskan apa yang saya perjuangkan selama hampir delapan tahun. Jabatan yang tak mudah dicapai oleh seorang wanita. Semua orang di gedung ini menyayangkan, tetapi keputusan saya sudah bulat. Malaikat kecil kami lebih membutuhkan keberadaan saya. Kami harus berjuang bersama-sama melewati serangkaian kemoterapi. Tentunya itu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus kami korbankan. Salah satunya dengan melepaskan puncak karier yang berada dalam genggaman saya. Selayak pohon yang dengan suka cita menggugurkan daunnya agar bisa bertahan hidup meski dilanda kemarau panjang.
Hari ini, saya kembali ke perusahaan ini untuk mengambil beberapa barang. Lebih tepatnya membawa separuh hati saya yang masih tertinggal di sini. Agar saya bisa memberikan sepenuh jiwa saya untuk keluarga. Mata saya kembali menghangat. Biarlah saya menumpahkan air mata di sini untuk yang terakhir kali. Dengan penglihatan mengabur, saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Merekam setiap jengkal kenangan.
Setelah merasa puas, saya pun keluar dari ruangan. Biasanya saya akan menggunakan lift untuk turun, tapi kali ini saya lebih memilih melewati tangga darurat. Saya ingin menikmati hari ini sedikit demi sedikit. Seperti saat saya memulai karier dengan merangkak perlahan dari bawah.
Satu per satu anak tangga saya lewati. Akhirnya, saya sampai di lobi utama. Tempat di mana pertama kali saya menunggu giliran wawancara. Saya memulainya dari sini, dan hari ini, saya juga mengakhiri semuanya di tempat ini.***
