Profil Muh. Farhan Gunawan, Co-Pilot Pesawat yang Jatuh di Maros-Pangkep
Muh. Farhan Gunawan, salah satu anggota kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, memiliki latar belakang pendidikan yang membanggakan. Ia merupakan alumni Sekolah Islam Athirah Makassar, tempat ia menempuh pendidikan SMP dan SMA. Farhan dikenal sebagai sosok yang aktif dan disiplin sejak masa sekolah.
Farhan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS di dua jenjang pendidikan, yaitu periode 2014-2015 untuk tingkat SMP dan 2016-2017 untuk tingkat SMA. Eks Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengungkapkan bahwa Farhan adalah sosok yang sangat aktif selama masa sekolahnya. Setelah menamatkan pendidikan SMP pada tahun 2016, Farhan melanjutkan ke SMA Athirah dan kemudian melanjutkan studi di Akademi Penerbangan Indonesia. Ia tercatat sebagai alumni Taruna dan menjadi kebanggaan almamater serta rekan-rekannya.
Proses Pencarian Pesawat ATR 42-500
Pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak masih berlangsung di wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Helikopter telah melakukan penyisiran udara di kawasan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Maros, untuk mencari jejak keberadaan pesawat yang membawa 10 penumpang.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa pencarian melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, dan SAR lainnya. Total personel yang terlibat mencapai 476 orang. Helikopter milik Lanud Sultan Hasanuddin digunakan untuk menyisir titik-titik koordinat yang telah dipetakan sebelumnya.
Tim SAR juga membawa peralatan pendukung seperti peralatan evakuasi dan elektrifikasi. Untuk mendukung komunikasi di lokasi yang sulit dijangkau sinyal, tim menggunakan starlink portable dan handy talky (HT). Tim pencarian dibagi ke dalam lima sektor guna memaksimalkan area penyisiran. Setelah tiba di puncak, drone akan digunakan untuk asesmen awal dan melihat kondisi di bawah.
Penemuan Serpihan Pesawat
Sebelumnya, serpihan pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan oleh Tim Sar Gabungan. Serpihan ditemukan pada pukul 07.46 WITA, berupa bagian window pesawat dalam kondisi kecil di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT. Pada pukul 07.49 WITA, ditemukan bagian badan pesawat berukuran besar. Pukul 07.52 WITA, bagian puntak pesawat terbuka dan ditemukan bagian ekor pesawat di sebelah selatan lereng bawah lokasi kejadian.
Selanjutnya, pada pukul 08.02 WITA, serpihan besar kembali terpantau oleh SRU aju dengan pemantauan udara menggunakan Helikopter Caracal. Pada pukul 08.11 WITA, tim aju menyampaikan kebutuhan peralatan tambahan berupa perlengkapan mountaineering atau climbing untuk menjangkau lokasi yang memiliki medan terjal.
Lokasi Kejadian dan Medan yang Rumit
Berdasarkan data awal AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, dengan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur. Kawasan hilangnya pesawat ini berada di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung perbatasan Maros – Pangkep dan Bone. Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1.353 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL).
Kawasan ini berjarak sekitar 21 km sebelah timur Pangkajene, ibu kota Pangkep, dan sekitar 26 km tenggara Maros. Kawasan ini masuk Taman Nasional Bantimurung dan hutan vegetasi basah Karaengta. Akses ke kawasan ini bisa dari kawasan Leang-leang, Jalan Poros Maros – Bone. Dari Pangkep, akses bisa dilakukan melalui Jalan Poros Makassar – Pangkep km 49, melewati eks Pabrik Semen Tonasa 1 di Balocci ke timur.
Operasi SAR Terus Berlangsung
Operasi SAR melibatkan unsur dari Basarnas Makassar, TNI, Polri, AirNav, Paskhas, serta dukungan masyarakat setempat. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa temuan serpihan pesawat menjadi petunjuk penting dalam operasi SAR yang sedang berlangsung.
“Penemuan serpihan pesawat ini menjadi clue penting dalam mempersempit area pencarian. Tim SAR gabungan saat ini fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai dengan kondisi medan di lapangan,” ujar Arif. Ia menambahkan bahwa medan lokasi kejadian cukup menantang dan memerlukan dukungan peralatan khusus. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam operasi ini.
Hingga saat ini, operasi SAR masih terus berlangsung dan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan secara resmi sesuai hasil di lapangan.