Padi Berlimpah di Desa Tukadaya, Jembrana
Hamparan padi terbentang luas sejauh mata memandang, membentuk karpet hijau keemasan saat tersentuh sinar matahari sore. Batang-batangnya mulai menunduk sebagai pertanda padi di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana siap dipanen. Di kawasan ini, dalam setahun musim tanam tiga sampai empat kali. Air yang melimpah dengan tata kelola tradisional ala subak Bali membuat daerah ini sangat produktif menghasilkan gabah.
Peralihan sumur pompa diesel berbahan bakar solar ke listrik membuat produksi gabah melimpah karena pasokan air yang terjaga dengan baik sepanjang musim, termasuk saat kemarau. Data Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana pada panen musim tanam pertama awal Mei, kabupaten Jembrana mencatatkan surplus beras mencapai 996 ton. Total produksi beras di bulan Mei 2025 sudah mencapai 1.638 ton, jauh melebihi kebutuhan konsumsi mingguan yang hanya 641 ton.
Kelian Subak Berawantangi, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana, Ketut Suadia menyambut jurnalis Pikiran.Rakyat-Bali.com yang menempuh perjalanan sejauh 95 KM untuk menemuinya. Kelian Subak adalah pemimpin adat dan pengelola utama dalam organisasi subak, yaitu sistem irigasi tradisional Bali yang mengatur tata kelola air, lahan, dan hubungan sosial antarpetani. Suadia adalah pemimpinnya.
Suadia menjelaskan stok air menjadi kunci agar panen bisa melimpah. Dan keberadaan sumur bor bertenaga listrik menjadi titik balik para petani di tempatnya yang berjumlah ratusan orang bisa lebih produktif. Suadia menyebut konversi massif dari pompa diesel ke tenaga listrik bermula pada tahun 2022. Sekitar 100 meter menuju arah utara dari rumah Suadia, berdirilah gardu sumur bor JW 5 yang kini telah bertenaga listrik.
Subak Berawantangi, dengan total luas lahan 127 hektare, memiliki 11 sumur bor sebagai urat nadi pengairan. Kini, 10 di antaranya sudah mengandalkan energi listrik yang jauh lebih bersih dan efisien. Hanya tersisa satu yang masih mengandalkan diesel, JW 21. Transisi krusial ini dipicu bantuan panel listrik dari pemerintah. Melihat efisiensi nyata dari listrik, anggota subak lalu bersepakat swadaya. Anggota subak menanggung biaya secara proporsional. Petani pemilik satu hektare berkontribusi Rp2,5 juta, pemilik lahan di bawah satu hektare iuran Rp25 ribu per are (1 are 100 meter persegi).
“Itu adalah semangat petani, sebab dampak penggunaan listrik sangat baik untuk kami petani,” tutur Suadia, ditemui pada 25 November 2025 di balai subak Desa Tukadaya, Jembrana, Bali.
Dampak dari peralihan sumur pompa bertenaga BBM ke listrik ini, 137 petani anggota subak kini tersenyum karena dapat panen padi hingga tiga kali setahun. Hal ini berbeda di banding sebelumnya yang kurang dari 3 kali panen ditambah pengeluaran pembelian BBM lebih mahal. Dulu, satu petani saja harus merogoh kocek Rp50 ribu per jam untuk bahan bakar solar diesel. Dengan listrik, biaya operasional energi turun drastis hanya Rp30 ribu per jam sudah termasuk ongkos operator. Satu petani menghemat biaya kebutuhan energi 55,5 persen, di tempat ini saja ada ratusan petani.
Penghematan ini signifikan bagi kesejahteraan anggota subak, sekaligus mengatasi rumitnya sistem pembelian solar subsidi. Selain efisiensi, masalah teknis juga berkurang. Suku cadang diesel sering rusak. “Kalau kemarin pakai solar, kita tergantung subsidi, belum lagi kalau akinya mati, kita harus menunggu perbaikan,” jelas Suadia.
Harmoni Tri Hita Karana
Tri Hita Karana adalah konsep kehidupan masyarakat Bali yang menggambarkan keseimbangan hubungan manusia dengan tiga unsur penting, yakni Tuhan, alam, dan sesama manusia. Suadia lalu mengajak menuruni sawah, menunjukkan sistem pembagian air yang disebut Paleb atau Koncor. Di sana sudah ada petani bernama Gelgel yang selama ini menjadi operator atau juru atur pengairan subak.
Dalam mengairi sawah mereka tidak terpaku pada hitungan jam kaku, melainkan melihat kondisi tanah. Melihat tanah sawah dalam kondisi retak, kering atau basah, petani akan memperkirakan berapa jam listrik yang harus dibeli, untuk tiga kondisi tanah itu. Ukuran sempurna air menggenangi sawah ada di kisaran tiga hingga lima sentimeter.
Dampak lingkungan dari konversi diesel bertenaga BBM ke listrik kata dia juga sangat positif bagi lingkungan sekitar. “Kalau pakai mesin diesel ini kan bunyinya bising,” tutur Suadia. Di musim kemarau, bor bisa hidup seharian penuh, kondisi ini mengganggu jam tidur warga serta kenyamanan lingkungan. “Kalau pakai listrik, tidak ada bunyinya sama sekali, senyap,” lanjutnya.
Transisi teknologi ini disebutnya juga tidak menggeser nilai luhur Subak sama sekali, khususnya konsep Tri Hita Karana, justru sebaliknya, peralihan ke energi listrik membuat jadi lebih ada harmoni. Suadia mengaku, bahwa ritual keagamaan (Parhyangan: Hubungan dengan Tuhan), seperti upacara keagamaan tetap berjalan dengan baik. Dari sisi Palemahan (hubungan dengan Alam), lingkungan yang lebih bersih dan senyap adalah perwujudan harmonisasi sempurna. Sementara Pawongan (hubungan dengan Manusia), dibuktikan dengan semangat swadaya patungan yang menunjukkan kuatnya ikatan sosial serta beban materi yang sama-sama berkurang.
“Subak kami terjaga, Tri Hita Karana juga harus tetap harmoni. Karena Tri Hita Karana merupakan konsep hidup dengan nilai kebijasanaan yang diterapkan masyarakat Bali,” tegasnya.
Penggilingan Padi Berbasis Listrik
Wartawan melajukan laju motor kembali ke timur menuju kota Jembrana, yang berjarak 20 kilometer dari rumah Suadia. Tepatnya menuju Kelurahan Sangkaragung, bertemu dengan Made Purwanta, pemilik CV Agro Mulia Lestari tempat penggilingan padi bertenaga listrik. Saat tiba, wartawan disuguhkan dengan pabrik penggilingan padi yang modern. Mesin yang dijalankan hanya tingga klik saja, di lahan keseluruhan pabrik seluas 3.500 meter persegi.
Empat mesin besar dryer, dan dua mesin penggilingan serta satu color sorter (alat pengelompokan warna beras), terpampang. Ruangan dryer dan penggilingan disekat tembok besi, yang memiliki luasan 500 meter persegi. Dryer atau mesin pengering tiga lainnya diletakkan di ruangan berbeda.
Evolusi energi dari BBM ke listrik tidak hanya terjadi di sektor pengairan (hulu), tetapi juga di hilir (pasca-panen). Purwanta telah menjadi saksi perubahan ini. Penggilingan padinya sudah sepenuhnya menggunakan energi listrik sejak 2015.
Operasional pabrik milik Purwanta ini melibatkan puluhan karyawan, termasuk sopir dan sales. Aktivitas penggilingan berjalan dari jam delapan pagi sampai lima sore. Total ada tujuh mesin pengering dan dua mesin Rice Milling Unit (RMU). Purwanta mengenang masa lalu, saat masih menggunakan bahan bakar minyak. Dulu, kebutuhan solar dan oli pelumas bisa mencapai lima belas juta rupiah per bulan. Kini, setelah konversi, biaya energi listrik bulanan hanya berkisar sembilan juta rupiah saja. Ini hitungan pada 2015 lalu, ketika harga solar tidak seperti saat ini. Jika saat ini bisa lebih besar biaya untuk pembelian BBM.
Hitungan matematis di 2025, pengehmatan biaya operasional ini sangat terasa, apalagi saat ini harga solar bersubsidi semakin ketat. Pabrik ini mengandalkan daya listrik industri sebesar 131.000 Watt. Dengan daya sebesar itu, biaya tagihan bulanan sekitar dua belas juta rupiah per bulan. Ia menyebutkan, jika saat ini memakai solar biasa, maka biayanya bisa dua puluh lima juta rupiah per bulan.
“Selisih biayanya 50 persen lebih irit, dan itu cukup besar untuk hitungan bulanan,” ungkap Purwanta.
Bukan hanya masalah biaya, tetapi juga soal stabilitas dan kualitas hasil giling. Putaran mesin listrik yang stabil menghasilkan kualitas beras lebih baik secara konsisten. Tingkat broken atau beras pecah menjadi lebih sedikit dibandingkan saat menggunakan diesel. Derajat keputihan beras menjadi lebih baik. Produksi harian pabriknya cukup besar, setiap sepuluh ton gabah menghasilkan lima ton beras siap kemas. Beras ini dijual dengan merek “Dewi Sri” dengan berbagai kemasan, dari 5, 10, dan 25 kilogram.
Keunggulan energi listrik adalah perawatan mesin yang jauh lebih sederhana. Saat masih menggunakan diesel, banyak komponen yang butuh perawatan rutin. Contohnya seperti penggantian filter udara, filter solar, oli, aki, dan busi yang sering bermasalah. “Kalau energi listrik jauh lebih simpel, perawatannya hanya di panel distribusi saja,” jelasnya. Hal ini membuat operasional penggilingan padinya berjalan jauh lebih stabil tanpa gangguan. Gabah gabah dari petani juga lebih cepat digarap.
Kata dia sebelum beralih ke listrik, penggunaan diesel menimbulkan dua masalah lingkungan, pertama suara mesin yang bising, kedua adalah asap tebal yang keluar dari cerobong. Asap itu menghasilkan polusi dan bau yang mengganggu tetangga di sekitar pabrik. Purwanta mengaku, dulu harus meminta permakluman kepada tetangga karena asap tebal dari mesin diesel. “Sekarang sudah tidak ada asap, jadi lebih bagus lagi,” ujarnya sambil tersenyum. Lingkungan penggilingan padinya kini jauh lebih bersih dan senyap. Hubungan sosial dengan lingkungan juga terus terjaga dengan baik.
Beralih ke listrik juga membuat manajemen operasionalnya lebih terprediksi. Jika ada pemadaman listrik terencana, PLN biasanya memberikan surat pemberitahuan. Hal ini membuat Purwanta bisa mengatur jadwal kerja karyawan, sehingga tidak ada waktu kerja yang terbuang percuma. Purwanta sangat puas dengan layanan PLN, terutama komunikasinya yang sangat kooperatif. Kerusakan mendadak seperti akibat sambaran petir juga ditangani dengan cepat oleh tim PLN.
Purwanta dengan tegas merekomendasikan konversi listrik kepada pengusaha penggilingan padi lainnya. “Jauh lebih efisien,” katanya. “Kita tidak perlu repot beli solar dan urusan oli.” Apalagi pembelian solar kini semakin ketat diatur. “Kita tidak ada ‘pompa bocor’ dan tidak ada lagi repot membeli solar,” tutupnya.
Kontras Pahit, Jeratan Biaya dan Logistik
Setelah ke dua tempat itu, ke esokan harinya, Rabu, 26 November, wartawan kembali menuju ke arah barat Jembrana melihat langsung bagaimana mesin diesel 21 Pk (daya kuda) menyala. Kontras yang mencolok ini, terlihat di Koperasi Unit Desa (KUD) Catur Karya Usaha. KUD ini adalah tulang punggung bagi petani gabah sejak 1982. Wartawan saat tiba, langsung melihat mesin penggilingan padi bermesin diesel dan dryer berbahan minyak tanah terpampang bak dilibas zaman.
Luas penggilingan KUD ini 20×8 meter persegi, tempat penggilingan mesin diesel besar dan dryer yang mati total. Tepat di sisi barat yang disekat batako, ada ruangan sekitar 5×6 meter, tempat mesin penggilingan 21 daya kuda. Di dalam tempat penggilingan dengan luas 5×6 meter yang berusia 43 tahun itu, Ketut Mangku, sang operator, harus memulai ritual harian yang berbeda dari mesin Purwanta, yang hanya tinggal klik dan mesin menyala.
Mangku mengenakan topi dan baju biru, menyalakan mesin diesel dengan mengengkol secara manual. Suara gemeretak yang berat, “Klak, klak, klak,”. Saat mesin menyala, disusul deru kasar yang menggetarkan lantai. Di ruangan itu, bau solar dan oli pelumas menempel tipis di udara, berpadu dengan debu halus gabah. Mangku mematikan mesin, kalau tidak maka Mangku harus berteriak saat menjelaskan bahwa ia bisa menggiling hingga 500 kilogram gabah kering per hari.
Beberapa tahun belakangan, operasional KUD ini dihantui oleh tantangan klasik: peralatan tua, kendala logistik bahan bakar, ketergantungan BBM, dan tingginya biaya operasional. “Paling tidak dalam sehari 5 kuintal itu selama tiga jam untuk menggiling dan menghabiskan lima liter solar,” ungkapnya.
Ketua KUD, Nyoman Nama, mengungkapkan keterbatasan peralatan telah menjadi masalah krusial yang membatasi kapasitas giling harian mereka, kini maksimal hanya satu ton. Tantangan ini diperparah masalah pengeringan yang mendesak. Dryer satu-satunya yang dimiliki adalah unit tua dari tahun 2000 yang sudah tak terpakai, sebab setelan pabriknya menggunakan minyak tanah, bahan bakar yang kini langka dan harganya melambung tinggi hingga Rp25.000 per liter. Akibatnya, KUD harus kembali ke metode pengeringan manual (dijemur), yang memakan biaya mencapai Rp300.000 per ton dan sangat bergantung pada cuaca, menimbulkan risiko besar terhadap kualitas gabah. Sementara itu, jeratan birokrasi Solar subsidi menambah beban operasional.
Meskipun KUD memiliki alokasi 66 liter per bulan, proses pengadaan Solar subsidi terperangkap dalam birokrasi yang rumit dan terikat pada satu titik penjualan saja.
Komitmen PLN dan Visi Energi Bersih
Kabupaten Jembrana, tengah menunjukkan langkah signifikan dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan visi Pemerintah Provinsi Bali menuju “Provinsi Energi Bersih”. Melalui program Electrifying Agriculture (EA), PLN gencar mendukung konversi pompa air diesel menjadi pompa air berbasis listrik bagi kelompok subak.
Manajer PLN ULP Negara, I Made Dwipayana, menjelaskan antusiasme subak terhadap konversi ini cukup tinggi. Sesuai data di ULP Negara, telah diajukan 11 permohonan, dan 6 subak yang tiap subaknya beranggotakan ratusan petani telah berhasil menggunakan energi listrik.
Program Electrifying Agriculture memiliki dampak ganda yang positif. Pertama, mendukung visi Energi Bersih Bali. Kedua, konversi memperbaiki kualitas lingkungan wisata. Penggantian mesin diesel/ICE mengurangi jejak karbon serta meminimalisir polusi asap dan kebisingan, membuat kawasan agraris di Jembrana menjadi lebih ramah lingkungan dan nyaman.
“Secara keseluruhan, inisiatif kolaboratif ini tidak hanya mendorong modernisasi pertanian, tetapi juga menempatkan Bali sebagai pelopor dalam implementasi energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di sektor vital, yaitu pertanian,” ungkapnya.
