KORAN – PIKIRAN RAKYAT – Pagi hari di Jakarta dan kota besar lainnya selalu ramai: antrean panjang mobil dan motor di jalan tol, asap knalpot membumbung, sementara anak-anak di trotoar menutup hidung sambil bergegas ke sekolah. Di tengah kebiasaan sehari-hari itu, ada ancaman tak terlihat yang terus mengintai: polusi dari kendaraan. Bukan cerita lama soal bensin bertimbal yang sudah dilarang, tapi bahaya nyata yang masih ada hingga kini.
Pada April 2025, seorang komentator iklim bernama Steve Milloy melempar klaim bombastis: “Tak ada bukti kredibel bahwa emisi knalpot pernah merugikan kesehatan manusia.” Benarkah? Jawabannya tegas: salah besar. Bukti ilmiah menumpuk seperti asap tebal, menunjukkan polusi kendaraan masih meracuni udara, merusak paru-paru, dan mempercepat pemanasan bumi.
Mari kita telusuri, langkah demi langkah, mengapa masalah ini tak boleh diabaikan lagi.
Mulai dari dasar: apa sebenarnya polusi kendaraan? Kendaraan bertenaga bensin atau diesel—masih mayoritas di dunia—memuntahkan campuran beracun lewat knalpot. Ada nitrogen oksida (NOx) yang memicu kabut asap, partikel halus (PM) yang seperti debu tak terlihat menusuk paru-paru, senyawa organik volatil (VOCs), karbon monoksida (CO), sulfur oksida (SOx), dan yang paling licik: karbon dioksida (CO2). CO2 ini tak langsung bunuh, tetapi ia memerangkap panas di atmosfer, seperti selimut tebal yang membuat bumi demam.
Dilansir laman Science Feedback, di seluruh dunia, ada 1,3 miliar kendaraan jalan raya—satu untuk delapan orang. Hanya 40 juta yang listrik; sisanya bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil. Meski regulasi ketat sejak 1970-an telah memangkas emisi per kendaraan hingga 99% di Amerika Serikat, jumlah totalnya meledak. Bayangkan: armada mobil ringan global diprediksi minimal dua kali lipat pada 2050, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Klaim Milloy seperti angin lalu bagi para ilmuwan. “Emisi kendaraan tetap penyumbang utama beban penyakit akibat polusi udara secara global,” tegas sebuah studi 2019 di jurnal Environmental Research Letters.
Di Indonesia, di mana lalu lintas macet jadi makanan sehari-hari, polusi ini tak pandang bulu. Transportasi menyumbang seperlima emisi CO2 dunia, dengan kendaraan penumpang bertanggung jawab atas hampir separuhnya. Hasilnya? Gelombang panas ekstrem lebih sering, banjir lebih ganas, dan musim kemarau yang membakar lahan. Di Jakarta, indeks kualitas udara sering merah—artinya berbahaya—karena NOx dan PM dari knalpot. Ini bukan sekadar angka; ini ancaman nyata bagi petani yang kehilangan panen atau nelayan yang menghadapi laut lebih asam.
Untuk melihat dampaknya lebih dekat, ambil studi kasus di Jakarta. Sebuah survei terhadap 500 penduduk kota pada 2023 menemukan bahwa pengguna kendaraan pribadi terpapar polusi udara dan kebisingan lebih tinggi dibanding pemakai transportasi umum. Hasilnya, risiko penyakit pernapasan, kardiovaskular, dan masalah kesehatan mental melonjak. Survei ini menekankan pentingnya beralih ke angkutan umum atau bersepeda untuk mengurangi paparan, sambil merekomendasikan riset lanjutan untuk intervensi jangka panjang.
Studi lain dari TRUE Initiative pada 2021, yang mengukur emisi nyata dari 93.000 kendaraan di 20 lokasi Jakarta, mengungkap diesel sebagai biang keladi. Bus dan truk diesel memuntahkan NOx 13-14 kali lebih tinggi daripada mobil bensin, berkontribusi pada PM2.5 rata-rata 39,2 μg/m³—jauh di atas batas aman WHO 5 μg/m³. Ini membuat Jakarta peringkat 12 kota terburuk polusi global, dengan dampak kesehatan seperti asma dan penyakit jantung yang merugikan jutaan warga. Studi ini juga menyoroti peningkatan standar Euro 2 dan 4 yang memangkas emisi, tapi armada tua dan diesel tetap jadi masalah utama.
Namun, yang paling menyedihkan adalah dampak pada kesehatan. Polusi kendaraan seperti racun lambat yang merusak dari dalam. Partikel halus PM2.5, hasil pembakaran tak sempurna, bisa menembus aliran darah, memicu asma, penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru. Anak-anak paling rentan: hidung kecil mereka lebih dekat dengan knalpot bus sekolah, dan paru-paru yang sedang tumbuh lebih gampang rusak.
Kematian dini
Sebuah tinjauan 2022 di Environment International, yang menganalisis 353 studi, menemukan bukti kuat—tingkat kepercayaan tinggi atau sedang-tinggi—bahwa paparan jangka panjang polusi lalu lintas terkait kematian dini, penyakit peredaran darah, serangan jantung iskemik, kanker paru, asma pada anak dan dewasa, serta infeksi saluran napas bawah pada balita. “Temuan ini memberikan kepercayaan tinggi bahwa polusi udara terkait lalu lintas berhubungan dengan hasil kesehatan buruk seperti kematian akibat semua penyebab, penyakit peredaran darah, dan asma,” tulis para penulisnya.
Angka-angkanya mengerikan. Pada 2021, polusi udara jadi faktor risiko kematian terbesar kedua di dunia—di atas merokok, hanya kalah dari tekanan darah tinggi. Studi 2019 memperkirakan kematian prematur akibat emisi knalpot naik dari 361.000 pada 2010 menjadi 385.000 pada 2015, terkait kondisi seperti penyakit jantung, stroke, PPOK, kanker paru, infeksi napas bawah, dan diabetes.
Di Amerika, Uni Eropa, dan Jepang, angka turun berkat standar emisi ketat. Akan tetapi, di Cina, India, dan negara seperti Indonesia, lonjakan kendaraan mengalahkan regulasi. Di sini, 70% kendaraan bekas dari Eropa, Jepang, dan AS diekspor ke negara berkembang, sering tanpa alat pengurang emisi yang berfungsi. Hasilnya? Udara kota-kota kita seperti corong racun, dengan senyawa karsinogenik seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang memicu asma dan gejala pernapasan.
Mengapa masalah ini bertahan? Karena solusi setengah hati. Ya, konverter katalitik dan bensin bebas timbal telah menyelamatkan jutaan nyawa sejak 1970-an—Aljazair baru melarangnya pada 2021. Tapi, pertumbuhan armada kendaraan di negara miskin melebihi kemajuan teknologi. Di Indonesia, impor mobil bekas murah jadi penyelamat dompet, tapi malapetaka bagi udara. Tambah lagi, budaya mobilisasi: kita bergantung pada mobil pribadi, sementara transportasi umum masih terbatas.
Namun, jangan putus asa—ada harapan di tangan kita. Mulailah dari hal kecil, seperti naik angkutan umum, sepeda, atau jalan kaki. Kalau harus nyetir, hindari akselerasi mendadak, servis rutin, dan ganti oli tepat waktu. Pilih mobil irit bahan bakar, seperti listrik atau hybrid, yang emisinya nol di knalpot.
Cerita ini bukan akhir, tapi panggilan. Seperti kata para ahli, “Setiap emisi yang kita kurangi adalah napas segar untuk generasi mendatang.” Di Jakarta atau kota mana pun, pilihan kita hari ini menentukan apakah anak kita bernapas lega besok. Jangan biarkan pembunuh diam-diam ini menang—lawan dengan langkah nyata, sekarang juga.***
