Ekosida di Pantura: Ancaman Kepunahan Pesisir Utara Jawa Memburuk – ‘Banjir Berlarut, Ini Pembiaran Sistematis’

Posted on

Kehidupan di Tengah Darurat Iklim: Warga Pantura Berjuang Melawan Banjir Rob

Di tengah krisis iklim yang semakin mengancam, warga pesisir utara Jawa (Pantura) terus berjuang melawan banjir rob dan abrasi. Dengan kondisi alami tanah yang lunak dan penurunan permukaan tanah yang dipercepat oleh pembangunan industri, sejumlah desa pesisir kini terancam tenggelam. Para ahli memperkirakan bahwa jika industrialisasi terus berlanjut, wilayah Pantura akan mengalami kerusakan yang lebih parah dari prediksi Climate Central pada 2030 dan 2100.

Alasan Penurunan Tanah di Pantura

Secara alami, permukaan tanah di Pantura turun sekitar 1-2 cm setiap tahun. Namun, pembangunan kawasan industri di atas tanah aluvial yang lunak menambah beban penurunan hingga 2 cm per tahun. Kombinasi faktor-faktor ini menyumbang penurunan muka tanah minimal 4 cm per tahun. Eksploitasi air tanah dan migas oleh industri membuat penurunan aktual jauh lebih tinggi, memicu banjir rob yang semakin intens dan merugikan masyarakat.

Sedikitnya ada 18.882 hektar lahan yang digunakan pemerintah untuk pengembangan kawasan industri di Pantura dengan balutan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Proyek Strategis Nasional (PSN), yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Alih fungsi lahan disebut telah menghilangkan kawasan mangrove, sementara eksploitasi air tanah dan migas tak terhindarkan.

Kisah Suwandi: Manusia Amfibi di Blok Empang

Suwandi, 65 tahun, tinggal di Blok Empang, Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Rumahnya terletak di area yang terus-menerus terendam banjir akibat pasang air laut. Belakangan, ia tidak pernah lagi merasakan permukaan yang benar-benar kering untuk berpijak.

“Sehari semalam 24 jam, dan 12 jam kaki saya tidak pernah kering. Saya adalah manusia amfibi,” kata Suwandi dengan mata berkaca-kaca. Ia menjelaskan bahwa selama lebih dari satu dekade, kediamannya terus-menerus terendam banjir akibat pasang air laut. Pada masa itu, kondisi banjir rob masih terbilang ringan; durasi genangan relatif singkat, hanya sekitar satu jam, dan air dapat segera surut. Namun, kondisinya kini telah berubah drastis. Intensitas banjir rob semakin sering terjadi dengan durasi yang jauh lebih panjang.

Kini, air pasang dapat menggenangi rumah hingga lebih dari 12 jam, dengan ketinggian yang bahkan bisa mencapai satu meter. “Sekarang banjirnya setiap hari,” ujarnya. Pada jam-jam normal, air rob akan mulai meninggi di permukiman tepat pada pukul 2 siang dan baru akan benar-benar surut 12 jam kemudian, saat pukul 2 dini hari. Meski begitu, waktu ini bukanlah jaminan, sebab ketinggian dan durasi rob kini berubah-ubah tanpa bisa diprediksi.

Perjuangan Warga untuk Bertahan

Warga telah mencoba segala cara, termasuk meninggikan pintu dan memasang tanggul darurat untuk mengadang air. Tapi gelombang banjir kian intens membuat warga merasa lungkrah. Banyak rumah yang temboknya jebol, dan lantai keramik pecah. Meski diperbaiki, belum sampai kering, sudah kembali terendam air. Warga pun akhirnya pasrah.

“Lingkungan kita sudah masuk ruang ICU, sudah pasrah pada alam,” ujar Suwandi, getir. Ia juga menjelaskan bahwa banyak warga yang terpaksa pindah ke tempat yang lebih kering karena tidak sanggup lagi menyaksikan anak-anaknya harus basah kuyup menyeberangi banjir saat menuju dan pulang sekolah.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Suwandi, yang didapuk sebagai sesepuh Blok Empang, kini harus menghadapi kenyataan pahit: melihat tetangga-tetangganya mulai meninggalkan Eretan Wetan. Bagi yang yang punya uang, mereka akan pindah dan mencari tempat yang lebih layak. Namun yang tidak punya uang, mau tak mau tetap bertahan. Pasrah.

“Saya sudah pasrah, tidak ada pilihan lain,” ujar Suwandi yang setiap hari membudidaya kepiting. “Penghasilan saya pas-pasan,” imbuhnya. Mulanya, ada 47 rumah di Blok Empang. Namun lambat laun mereka pindah. Sekarang hanya tersisa sekitar 35 rumah yang ditempati sekitar 50 keluarga.

Pengalaman Ningsih: Harus Memakai Sepatu Bot

Ningsih, 42 tahun, tinggal di Blok Empang dan bekerja sebagai buruh pengolah ikan di gudang penyimpanan ikan. Suaminya adalah nelayan pencari udang di sungai dan terkadang ikut melaut bersama nelayan lain. Pendapatan Ningsih dari mengolah ikan tak banyak, waktu kerjanya pun tak menentu. Setiap kali dia pulang larut malam, jalan berbatu di kampungnya sudah terendam air. Mau tak mau Ningsih melewatinya karena itu adalah akses satu-satunya menuju tempat tinggalnya.

Dia paham risikonya. Apalagi jika sepatu bot yang dia pakai selalu kemasukan air. Jatuh dan terperosok lubang adalah hal biasa. “Paling ya jatuh karena jalannya berbatu,” kata Ningsih tentang kejadian yang dia alami ketika melintasi jalan berbatu sepulang kerja dengan kondisi minim cahaya.

Peran Mangrove dalam Perlindungan Pesisir

Wasito, 52 tahun, tinggal di pesisir Desa Kartikajaya, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia menanam mangrove di depan rumahnya sebagai upaya pelestarian lingkungan. Menurut Wasito, hilangnya kawasan lindung alami ditambah dengan pembangunan industri di pesisir Kendal yang juga masif, bisa berdampak ke semua pesisir di Kendal.

“Di mana ada reklamasi, pasti di sebelahnya terjadi abrasi,” ujar Wasito, merujuk pengalamannya di pesisir Demak, yang juga mengalami banjir rob dan abrasi. Pembangunan pelabuhan di sekitar kawasan ekonomi khusus (KEK) Kendal, menurut Wasito, memperburuk kondisi lingkungan karena menghilangkan mangrove. Dampaknya, abrasi semakin merajalela.

Dugaan Eksploitasi Air Tanah

Menurut Heri Andreas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ketinggian banjir rob dapat menjadi indikator sederhana adanya eksploitasi oleh kawasan industri di Pantura. Sebagai contoh, di Desa Manyar tempat Isharul tinggal, banjir rob yang mencapai lebih dari 30 cm secara saintifik mengindikasikan bahwa telah terjadi penurunan tanah lebih dari 10 cm, yang merupakan dampak dari eksploitasi air tanah.

Andreas menegaskan bahwa tingginya banjir rob tersebut membuktikan secara ilmiah adanya eksploitasi, terlepas dari klaim pengelola industri yang menyangkal penggunaan air tanah.

Solusi Semu: Tanggul Laut Raksasa

Presiden Prabowo Subianto telah membentuk Badan Otorita Pantura untuk mengurus pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa. Menurut Elen Setiadi, proyek tanggul raksasa ini adalah upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat Pantura dan akan segera diselesaikan sebagai mitigasi dampak penurunan tanah di sana. Namun, Susan Herawati dari KIARA mengkritik bahwa Giant Sea Wall “belum tentu” merupakan solusi yang tepat untuk Pantura.

“Apakah benar Giant Sea Wall itu salah satu solusi, belum tentu,” tanya Susan. Kritik ini diperkuat oleh fakta bahwa nelayan di pesisir utara Jawa tidak pernah diajak dialog mengenai kebutuhan mereka dalam menghadapi krisis iklim.

Kesimpulan

Pantura kini menghadapi ancaman tenggelam yang semakin nyata. Industrialisasi yang marak di Pantura telah memperparah krisis iklim, dengan penurunan permukaan tanah yang dipercepat oleh eksploitasi air tanah dan migas. Warga pesisir terus berjuang melawan banjir rob dan abrasi, sementara pemerintah berupaya mengatasi masalah dengan solusi seperti tanggul laut raksasa. Namun, kritik terhadap solusi ini terus datang dari para aktivis lingkungan, yang menilai bahwa solusi teknis seperti tanggul laut tidak cukup untuk mengatasi ancaman yang lebih besar.