Situasi Pedagang Kaki Lima di Sekolah Akibat Program Makan Bergizi Gratis
Di salah satu sekolah negeri di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, suasana kios sederhana dan para pedagang kaki lima terlihat lebih lengang dari biasanya. Meja-meja kayu yang dulu selalu penuh dengan siswa yang membeli gorengan, mi instan, atau es teh manis, kini sering kali kosong.
Siti Mariam (45), seorang pedagang di depan sekolah yang sudah lebih dari 10 tahun mencari nafkah di lingkungan pendidikan, merasakan perubahan drastis ini. Ia mengatakan bahwa sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai rutin dibagikan setiap hari, kantin dan para pedagang di sekolah seperti kehilangan denyut nadi. Omzetnya turun drastis hingga setengah dari penghasilan biasanya.
“Kalau dulu sehari bisa bawa pulang Rp 400 ribu, sekarang paling Rp 150 ribu. Kadang malah kurang,” katanya dengan nada pasrah. Meski demikian, ia tidak bisa menyalahkan program pemerintah tersebut. Menurutnya, tujuan MBG memang baik, yaitu memastikan semua siswa mendapat makanan sehat dan bergizi.
Namun, muncul kekhawatiran baru bagi Siti dan para pedagang lain setelah ramai pemberitaan mengenai kasus keracunan massal akibat makanan MBG di beberapa sekolah. “Saya kaget juga waktu dengar ada anak-anak keracunan. Saya jadi khawatir, jangan sampai anak-anak sekolah kami ngalamin hal sama,” ujarnya.
Siti bercerita, beberapa siswa bahkan lebih memilih tetap jajan di kantinnya dibanding menerima makanan MBG. Mereka beralasan takut karena mendengar kabar keracunan. “Kadang ada yang bilang, ‘Bu, saya beli di sini aja, takut makan MBG’,” kata Siti.
Kehati-hatian Orang Tua
Ahmad Fauzi (50), pedagang di salah satu SMP negeri di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, juga mengungkapkan kekhawatiran serupa. Ia menuturkan, para orang tua siswa kini lebih selektif dan berhati-hati setelah mendengar kabar keracunan MBG. “Orang tua suka nitipin pesan lewat anaknya, jangan makan sembarangan, hati-hati sama makanan gratis. Mereka khawatir karena sudah ada contoh kasus di luar sana,” kata Ahmad.
Menurutnya, kondisi itu membuat sebagian siswa kembali membeli makanan di kantin atau jajan di pedagang. Meski tidak seramai dulu, ada sedikit peningkatan pembeli setelah kasus keracunan ramai diberitakan. “Ada yang balik jajan di kantin. Walau tidak banyak, tapi lumayan-lah buat tambah-tambah,” ujarnya.
Ahmad menambahkan, para pedagang sebenarnya tidak menolak program MBG. Mereka mendukung niat baik pemerintah dalam mencukupi gizi anak sekolah. Namun, ia berharap pemerintah juga memperhatikan keberadaan pedagang kantin yang sudah lama menggantungkan hidup di sekolah. “Kalau bisa dilibatkan, misalnya kami yang dipercaya masak atau menyediakan makanan. Jadi, program jalan, kami juga tetap punya penghasilan,” ucapnya penuh harap.
Bertahan di Tengah Tantangan
Bagi Siti, kondisi ini menjadi pelajaran berharga untuk tetap bertahan meski keadaan berubah drastis. Ia mencoba menambah variasi jajanan, seperti menjual buah potong, jus segar, hingga camilan yang lebih sehat. “Sekarang anak-anak kan lebih banyak dikasih penyuluhan tentang makanan sehat. Jadi, saya coba ikuti tren itu. Saya jual buah potong biar mereka juga tertarik,” jelasnya.
Namun, tidak mudah bersaing dengan program MBG yang dibagikan secara gratis. “Apalagi anak-anak kalau sudah dapat nasi kotak atau lauk dari MBG, ya mereka kenyang. Mana mau jajan lagi,” tambahnya. Siti mengaku, terkadang dirinya merasa rugi. Biaya belanja tetap harus keluar, sementara hasil penjualan tidak sebanding.
Meski demikian, Siti masih merasa beruntung karena ada siswa yang tetap setia jajan di kantinnya. Menurutnya, suasana kantin tidak bisa tergantikan oleh program makan gratis. “Kantin itu tempat anak-anak kumpul, bercanda sama temannya. Jadi, mereka tetap butuh nongkrong sambil jajan,” ujarnya.
Harapan Pedagang Kecil
Di tengah segala keterbatasan, baik Siti maupun Ahmad sama-sama berharap pemerintah mendengar suara mereka. Mereka tidak ingin program MBG dimatikan, tetapi juga tak ingin tersisih. “Kalau bisa ada jalan tengah. Misalnya sebagian makanan dari MBG tetap dibagikan, tapi pedagang kantin juga dikasih peran. Biar sama-sama jalan,” kata Siti.
Ahmad menimpali, program besar seperti MBG harus melihat konteks lokal di tiap sekolah. “Enggak semua sekolah sama kondisinya. Ada yang kantinnya kuat, ada yang kecil-kecilan. Pemerintah perlu dengar kondisi di lapangan,” ujarnya. Keduanya sepakat bahwa program MBG harus terus dievaluasi. Bukan hanya soal kualitas gizi dan kebersihan, tapi juga dampaknya terhadap ekonomi masyarakat kecil.
Antara Rugi dan Bertahan
Siti menutup perbincangan dengan sebuah renungan, jika semuanya mesti seimbang. “Saya memang rugi banyak, tapi saya tetap bertahan. Anak-anak butuh kantin dan pedagang, dan saya butuh tempat mencari nafkah. Saya yakin ada jalan kalau kita mau terus berusaha,” ujarnya.
Sementara Ahmad menekankan, kerugian yang dirasakannya bukan hanya soal uang. “Kami kehilangan momen kebersamaan dengan anak-anak. Dulu mereka ramai di kantin, sekarang lebih sepi. Itu juga bagian dari kehidupan sekolah yang hilang,” katanya. Meski demikian, mereka tetap berkomitmen untuk bertahan. Mereka percaya, selama ada siswa yang membutuhkan ruang untuk berkumpul, kantin sekolah tidak akan benar-benar mati.
