Kehidupan Seorang Ibu di Tengah Kesulitan Ekonomi
Di sudut jalan yang ramai, seorang perempuan paruh baya bernama Nani Nur Hayati (44) sedang sibuk menjinakkan bara dari gerobak kayu kusam. Tangannya yang legam dimakan usia dan panas api, bergerak lincah membolak-balik cetakan logam berisi adonan kue balok yang mulai mengembang sempurna. Setiap aroma manis yang menyeruak bukan sekadar godaan bagi lidah para pejalan kaki, melainkan embusan napas harapan bagi keberlangsungan hidup keluarganya.
Baginya, berdagang bukan lagi sebuah pilihan profesi, melainkan satu-satunya sekoci penyelamat di tengah samudera ekonomi yang kian bergolak hebat. Nani terpaksa turun ke jalan saat dinding-dinding pabrik tempat suaminya bekerja dulu mulai merumahkan para buruh tanpa kepastian. Kini, setiap harinya adalah pertaruhan. Ia menatap lekat adonan kuning keemasan itu, menyadari bahwa di balik kelembutan kuenya, ada kerasnya realitas yang harus ia telan bulat-bulat.
Biaya Hidup yang Menyedot Tenaga
Biaya hidup di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah menjelma menjadi monster yang tak henti-hentinya menuntut tumbal dari dompetnya yang semakin tipis. Setiap bulan, Nani harus memutar otak layaknya seorang alkemis, mengubah recehan perak menjadi kelangsungan napas. Peningkatan biaya hidup belakangan ini terasa melesat secepat anak panah, meninggalkan angka pendapatan yang merangkak selamban siput.
Nani bercerita dengan suara yang lirih tetapi tegar, bagaimana upah yang ia kumpulkan dari butiran-butiran kue balok ini seolah tak pernah sanggup mengejar bayang-bayang harga kebutuhan pokok yang kian melangit. “Dulu, sepuluh ribu masih bisa membawa pulang sekantung sayur, kini ia hanya cukup untuk menebus segenggam cabai,” ucapnya getir. Beras, minyak, dan telur kini telah berubah menjadi barang mewah yang harganya kerap membuat jantungnya berdegup lebih kencang daripada deru mesin kendaraan di hadapannya.
Belum lagi urusan transportasi yang menyedot sisa-sisa margin keuntungan serta sewa petak tempat tinggal mungil yang harganya terus naik tanpa pernah memedulikan apakah dagangannya laku atau tidak hari itu. “Enggak tahu, kayanya uang sekarang mah enggak ada harganya. Cuma kelihatan besar di hitungan, kalau dibelanjakan mah semakin berkurang,” keluhnya.
Bertahan di Tengah Himpitan
Namun, di tengah himpitan yang kian menyesakkan dada, ia tak membiarkan dirinya tenggelam dalam ratapan. Strategi bertahan hidup dijalaninya dengan penuh disiplin; Nani rela memangkas porsi makannya sendiri demi memastikan anak-anaknya tetap bisa sarapan sebelum berangkat sekolah. Ia belajar berteman dengan kekurangan, merajut kembali pakaian yang koyak daripada membeli yang baru, dan berjalan kaki lebih jauh untuk menghemat ongkos.
Apa yang membuatnya tetap berdiri tegak di sela-sela panasnya tungku api, jawabannya tertanam kuat dalam binar mata anak-anaknya. Saban pagi, saat ia melihat putra-putrinya mengenakan seragam yang rapi dan menyalaminya dengan takzim, ada energi purba yang mengalir ke dalam nadinya. Itulah bahan bakar yang lebih panas dari arang kayu manapun, yang membuatnya sanggup menahan pegal di punggung selama belasan jam.
Harapan untuk Masa Depan
Keinginannya sederhana namun sangat luhur, Nani tak ingin tangan anak-anaknya melepuh karena api tungku seperti miliknya. Ia bermimpi mereka bisa duduk di ruang kelas yang sejuk, membaca buku-buku tebal, dan kelak memiliki jaminan masa depan yang lebih kokoh daripada sekadar gerobak kayu di pinggir jalan. “Kalau bukan karena mereka, mana mau saya dan suami banting tulang ke sana kemari cari nafkah. Semua buat mereka, masa depan mereka,” kata Nani berharap.
Pendidikan bagi anak-anaknya adalah harga mati, sebuah paspor untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang mencekik. Selama bertahun-tahun, ia telah menabung bukan dari kelebihan uang, melainkan dari sisa-sisa penghematan yang menyiksa. Setiap keping logam yang masuk ke celengan ayamnya adalah simbol dari tetes keringat dan doa-doa panjang di sepertiga malam. Ia ingin memastikan bahwa meskipun ia hidup dalam keterbatasan, anak-anaknya tidak akan kehilangan hak untuk bermimpi menjadi dokter, guru, atau insinyur.
Tetap Bersyukur
Ada satu kekuatan magis yang membuatnya tetap tersenyum di balik kepulan asap, rasa syukur yang tak bertepi. Meski hidup dalam kondisi yang bagi orang lain mungkin memprihatinkan, ia merasa dirinya tetaplah orang yang beruntung. “Tuhan masih memberi saya tenaga untuk bekerja dan orang-orang masih mau membeli kue saya. Itu sudah lebih dari cukup,” bisiknya sambil mengelap butiran keringat di dahi dengan ujung hijabnya.
Ia tak pernah mengutuk nasib, meski debu jalanan sering kali membuat napasnya sesak. Baginya, setiap kue balok yang terjual adalah bukti cinta Tuhan yang nyata. Ketulusannya melayani pembeli, dari sopir angkot hingga pegawai kantoran, adalah bentuk ibadah yang ia manifestasikan dalam bentuk pelayanan. Menurutnya, kemiskinan materi tidak boleh dibarengi dengan kemiskinan jiwa.
Di sela-sela melayani pembeli, ia seringkali terlihat bergumam kecil—sebuah zikir yang ia selipkan di antara bunyi denting sutil logam. “Ya kita enggak tahu hidup sampai kapan, tetapi kalau enggak dekat dengan Tuhan gimana. Saya enggak bisa menitipkan anak saya ke orang lain, tapi saya titipkan ke Tuhan saja,” tutur dia.
Kesederhanaan hidup telah mengajarkannya bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah saldo di bank, melainkan pada seberapa besar hati sanggup menerima ketetapan-Nya dengan lapang. Harapannya terhadap masa depan bukanlah kemewahan yang muluk-muluk. Ia hanya berharap agar kebijakan penguasa bisa lebih memihak pada rakyat kecil seperti dirinya.
Harapan yang Tak Pernah Padam
Nani mendamba hari di mana harga-harga pangan kembali stabil sehingga ia tak perlu lagi gemetar saat harus membeli beras berkualitas layak bagi keluarganya. Ia rindu akan jaminan kesehatan yang benar-benar bisa ia akses tanpa harus merasa sebagai beban bagi negara. “Ya semoga pemerintah bisa lihat warga kecil kaya saya,” imbuhnya.
Namun, di atas segala harapan duniawi itu, harapannya yang paling besar adalah melihat anak-anaknya menjadi pribadi yang jujur dan tangguh. Ia ingin mereka belajar dari gerobak kue balok ini tentang arti kerja keras, tentang bagaimana mempertahankan martabat di tengah badai ekonomi, dan tentang bagaimana tetap menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama meskipun dalam kekurangan. “Jujur itu modal yang paling besar buat saya. Semoga anak saya akhlaknya bisa lebih baik dari saya,” kata dia pelan.
Jelang fajar mulai memuncak, Nani bersiap merapikan gerobaknya. Wajahnya tampak lelah, namun ada kepuasan yang terpancar dari sana. Hari ini, ia berhasil membawa pulang uang untuk membayar cicilan sekolah anaknya besok pagi. Itu adalah kemenangan kecil, tetapi bagi seorang ibu, itu adalah kemenangan semesta. “Alhamdulillah, dapat lumayan sekarang, semoga nanti malam giliran suami bisa dapet lebih juga,” harapnya.
Ia berjalan mendorong gerobaknya menjauhi keramaian, meninggalkan jejak harum kue balok yang masih tertinggal di udara. Langkah kakinya memang berat, tetapi hatinya seringan kapas karena ia tahu ia telah menunaikan tugasnya sebagai penopang kehidupan dengan sebaik-baiknya. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bertarung di garis depan ekonomi rumah tangga. Nani adalah cermin bagi jutaan orang lain di negeri ini. Mereka yang berada di ruang-ruang sempit, di balik tungku-tungku panas, dan di pinggiran aspal yang keras. Mereka yang tetap bersyukur meski dunia terasa tidak adil dan tetap mencintai kehidupan meskipun hidup seringkali menyakiti mereka. Besok, saat matahari kembali menyapa, harum manis kue balok itu akan kembali hadir di sudut jalan yang sama. Dan perempuan itu, dengan senyum yang sama, akan kembali menyalakan apinya—api kehidupan, api harapan, dan api syukur yang tak akan pernah padam oleh dinginnya kenyataan…


