Dari Trauma ke ‘Pernikahan Menakutkan’, Ini 5 Faktor Psikologis Mengapa Milenial hingga Gen Z Takut Menikah

Posted on

Penurunan Angka Pernikahan di Indonesia

Tren penurunan angka pernikahan di Indonesia menjadi topik yang menarik perhatian banyak pihak. Istilah “Marriage is Scary” sering muncul dalam media sosial dan menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Fenomena ini tidak hanya sekadar tren, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran nyata terhadap pernikahan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pernikahan di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2014, tercatat sebanyak 2,1 juta pernikahan, namun pada tahun 2024 angka tersebut turun menjadi 1,4 juta pernikahan. Artinya, jumlah pernikahan merosot hingga 600 ribu kasus dalam waktu sepuluh tahun.

Berikut detailnya:

  • 2014 : 2.110.776
  • 2015 : 1.958.394
  • 2016 : 1.837.185
  • 2017 : 1.936.934
  • 2018 : 2.016.171
  • 2019 : 1.968.978
  • 2020 : 1.792.548
  • 2021 : 1.742.049
  • 2022 : 1.705.348
  • 2023 : 1.577.255
  • 2024 : 1.478.302

Psikolog Danti Wulan menyebutkan bahwa fenomena ini bukan hanya isu di media sosial, tetapi didukung oleh data statistik. Menurutnya, penurunan ini menunjukkan pergeseran struktur sosial yang besar. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 71 persen pemuda Indonesia berstatus belum kawin.

Faktor-Faktor yang Mendorong Orang Takut Menikah

Danti menjelaskan bahwa tren ini sering disebut dengan istilah waithood, yaitu menunda masa dewasa atau pernikahan. Di kalangan anak muda, fenomena ini berkaitan erat dengan sentimen “Marriage is Scary”. Berikut beberapa faktor psikologis yang mendorong orang untuk menunda atau tidak menikah:

1. Kecemasan akan Kegagalan

Dengan akses informasi yang mudah, banyak anak muda terpapar konten tentang perselingkuhan, KDRT, atau perceraian di media sosial. Hal ini memicu vicarious trauma, di mana seseorang merasa takut mengalami hal yang sama meski belum merasakannya sendiri. Akibatnya, pernikahan tidak lagi dianggap sebagai “tujuan akhir yang bahagia”, melainkan sebuah “risiko besar”.

2. Fokus pada Self-Actualization

Ada pergeseran psikologis dari collectivism (mengikuti norma masyarakat) ke individualism (kebahagiaan diri sendiri). Anak muda sekarang lebih fokus pada pencapaian pribadi seperti pendidikan dan karir. Kebebasan pribadi seperti solo traveling, hobi, dan eksplorasi diri menjadi prioritas sebelum mengikat diri dalam komitmen pernikahan.

3. Kecemasan Finansial

Biaya hidup yang tinggi dan harga properti menciptakan beban mental. Banyak orang merasa belum siap secara finansial untuk menikah. Pernikahan sering dikaitkan dengan resepsi mewah dan tuntutan ekonomi tinggi, yang bisa menjadi tekanan psikologis berupa rasa rendah diri.

4. Perubahan Standar Pasangan

Generasi sekarang cenderung lebih selektif dalam memilih pasangan. Psikologi modern mendorong orang untuk mencari pasangan yang setara secara intelektual, visi, dan emosional (soulmate). Jika standar ini belum terpenuhi, mereka lebih memilih melajang daripada “salah pilih”.

5. Beban Keluarga (Sandwich Generation)

Banyak anak muda yang sudah terbebani secara psikologis karena harus menopang ekonomi orang tua atau adik-adiknya. Menambah beban pernikahan dianggap akan memperburuk kesehatan mental dan keseimbangan hidup mereka.

Kesimpulan

Menurut Danti, penurunan ini mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia mulai memandang pernikahan sebagai pilihan hidup yang rasional, bukan lagi kewajiban sosial yang harus segera dipenuhi. Fokus kini bergeser dari “kapan nikah” menjadi “seberapa siap secara mental dan finansial”.