ACEH TAMIANG, PasarModern.com
– Di sebuah pondok, sejumlah kaum ibu sibuk merapikan buah melon setelah panen. Tangan mereka cekatan memasang label bertuliskan “Melon Mutiara”. Sesekali tawa mereka pecah.
Seakan mereka bukan sedang bekerja, layaknya wisatawan berkunjung. Penuh kegembiraan. Namun tangan mereka tetap cekatan, teliti, dan penuh detail, membersihkan buah melon hingga menempel label merek. Obrolan mereka menggunakan bahasa Melayu, ditimpali bahasa Indonesia. Inilah anggota kelompok tani Melon Mutiara di Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Senin (20/10/2025).
Mereka mengenakan kaus kuning, senada dengan warna buah melon. Anggotanya gabungan generasi milenial dan generasi Z. “Bertani itu seru, lihat ini buah melon, gede-gede. Segede…” kata seorang ibu sambil mengelus buah melon, ditimpali tawa ibu lainnya yang renyah. Dia pun mencengkeram melon di tangannya. Kedua tangan itu tak mampu menggenggam buah melon secara penuh.
Semilir angin mengibas jilbab mereka. Sesekali mereka menyeka keringat yang mulai mengalir di pori-pori kulit. Namun tak terlihat letih di raut wajah. Tidak susah menemukan perkebunan ini. Lokasinya terpaut 12,5 kilometer dari Kota Kuala Simpang, ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang. Jika menggunakan kendaraan roda dua bisa ditempuh sekitar 15 menit berkendara.
Untuk menuju ke sana, bisa menggunakan jalur lintas nasional Sumatera–Banda Aceh. Setiba di persimpangan Musholla Simpang Tiga Seumantoh, lalu berbelok ke kiri sekitar 300 meter. Setelah itu terlihat pertigaan, pilih jalur kiri sekitar 390 meter. Kebun itu berada di sisi kiri jalan. Jika menggunakan bantuan Google Maps, silakan memilih titik tujuan dengan nama “Mr Chaidir Garden”. Lokasi itu juga sering disebut Kompleks Pertamina Tanjong Seumantoh.
Chaidir, Motivator Petani Muda
Di ujung lokasi, di bawah tenda, Chaidir tersenyum bangga menyambut saya. Hari itu dia merasa kebahagiaan tersendiri. Panen melon ke-21 digelar, dihadiri puluhan warga hingga pejabat daerah dan Pertamina EP Rantau, Aceh Tamiang. Matanya berbinar melihat petani muda binaannya berbahagia atas panen melon mutiara. Nama “mutiara” merujuk pada nama dusun itu.
Kakek sepuh itulah yang menggagas kelompok tani tersebut. Sesekali dia membenarkan kacamatanya dengan susah payah. Kondisi kesehatannya menurun akhir-akhir ini, tubuhnya “dibalut” stroke. Namun semangatnya bercerita tentang melon begitu menyala. Meski dengan suara terbata, masih sangat jelas terdengar kata demi kata dari pria berkacamata yang mengenakan kaus hijau sage berpadupadan dengan jeans biru tua.
Dibantu mikrofon, dia menjelaskan pada pengunjung riwayat kebun itu. Matanya nanar menatap hamparan melon di depannya. Di atas lahan 400 meter persegi, sebanyak 1.000 batang melon terhampar luas lengkap dengan kayu penyangga tumbuhan. Di sela-sela penyangga itu tampak buah melon kuning menyempil. Beratnya variatif, mulai 2 hingga 4 kilogram. Dikenal dengan nama golden melon atau melon emas.
Kecintaan Chaidir pada dunia pertanian membuatnya melakukan uji coba menanam melon berkali-kali. Sesekali dia menyapu kacamatanya yang berkabut. “Lima tahun lalu saya sudah mulai menanam melon. Mencoba mengajak anak muda bertani, menghasilkan uang secara mandiri, anak gadis dan pemuda,” kata Chaidir terbata-bata.
Angannya melambung ke peristiwa lima tahun lalu, saat dia mulai menanam tumbuhan dengan nama latin cucumis melo L itu. “Tidak mudah meyakinkan anak muda. Mereka butuh bukti, bukan sebatas teori. Karena itu, saya tunjukkan bahwa melon juga menghasilkan uang,” katanya.
Chaidir pun berkali-kali menanam aneka sayuran dan tumbuhan di kebun itu. Kecintaannya pada tumbuhan tak pernah pudar. Pengetahuan itu pula yang ingin dia bagikan kepada generasi milenial dan generasi Z di desa tersebut. Dia belajar budidaya melon sejak remaja secara otodidak. Targetnya, kampung itu harus disibukkan dengan kegiatan produktif, salah satunya pertanian. Apalagi, konsepnya menggunakan polybag berukuran 40×50 sentimeter.
“Awalnya mereka berpikir tanam melon itu seperti tanam cabai, di hamparan luas dengan bedeng tanah yang disiapkan. Ternyata dalam polybag,” terangnya seraya tertawa. Targetnya tembus pasar swalayan nasional. Sejumlah supermarket atau swalayan mematok kadar rasa manis di angka 12 brix. “Itu yang harus saya kalahkan. Saya uji coba berkali-kali. Setelah diujicoba berkali-kali, kami bisa 14 brix rasa manis melon. Artinya, melampaui batas minimum pasar swalayan 12 brix,” terang Chaidir sambil membetulkan posisi tongkatnya.
Sedangkan rata-rata kadar rasa manis melon petani Indonesia hanya 8 brix. Dia masih ingat bagaimana awal pendirian kelompok tani itu. Dia dan Datok Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Wahyu Risma Novita, serta ketua kelompok tani Benni Fauzi berusaha meyakinkan petani milenial untuk bergabung. Chaidir dan Benni pun menjelaskan keuntungan bertani, langsung ke target pendapatan, bahwa melon bisa menghasilkan pendapatan setara UMR (Upah Minimum Regional).
Saat ini, UMR Kabupaten Aceh Tamiang sebesar Rp 3.717.948, daerah kedua dengan UMR tertinggi di Aceh. UMR tertinggi ditempati Kota Banda Aceh sebesar Rp 3.898.856 per bulan. Dari sinilah anak muda desa itu tertarik. Mereka mulai belajar pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen hingga pascapanen, termasuk membuka pasar ke sejumlah mal di tanah air.
Tahun pertama pembentukan hanya generasi milenial yang bergabung, jumlahnya pun kurang dari 10 orang. Kini ditambah generasi Z hingga anggota kelompok tani menjadi 25 orang. “Mereka butuh bukti nyata, hehehe, ciri generasi Z,” sebut Chaidir tertawa hingga terbatuk-batuk. Kunci merawat melon, kata dia, terletak pada kesabaran. “Pengetahuan, teknik menanam, hingga kesabaran menjadi satu. Sekarang kelompok dikelola Fauzi,” katanya.
Kondisi kesehatan yang menurun membuat Fauzi mengambil alih tugas menjaga kelompok tani. Meski begitu, Chaidir tidak lepas tangan. Dia masih rajin berusaha mengunjungi perkebunan. Melihat dengan kasat mata perkembangan melon dari hari ke hari, mulai daun hingga batang, termasuk memberi cara pemilihan benih hingga pupuk.
Hasil Bagi Rata
Uniknya, seluruh anggota kelompok tani menyepakati aturan. Laba penjualan dipotong biaya operasional dan disisihkan untuk cadangan dana musim tanam berikutnya serta tim pembimbing. Barulah sisanya dibagi rata untuk seluruh anggota. Konsep inilah yang membuat mereka akur dan rajin bertani.
“Harga jual Rp 49.900 per kilogram di mal. Kalau beli di kebun Rp 18.000 per kilogram,” kata Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara, Benni Fauzi. Dia menyebutkan, pihaknya berusaha meningkatkan produksi buah melon, termasuk memperluas lahan. Sejauh ini, buah melon ludes dibeli bahkan langsung dari kebunnya.
“Sudah 21 kali kami panen. Hasilnya memuaskan. Kami berusaha memperluas lahan karena permintaan tinggi sekali,” katanya. Dia pun mengapresiasi bantuan dari Pertamina EP (PEP) Rantau Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan Zona 1, yang ikut ambil bagian dalam pemberdayaan melon mutiara. Dampaknya, waktu panen bisa dipangkas. Sebelumnya, sejak tanam hingga panen butuh waktu 70 hari. Kini, 60 hari sudah panen. Ditambah dengan bibit unggul dan kualitas buah yang semakin baik dari waktu ke waktu.
“Buahnya sudah bagus sekali. Kami berani bersaing dengan petani mana pun untuk kualitas buah melon saat ini,” terang Fauzi bangga. Bantuan Sesuai Kebutuhan PEP Rantau Field tidak datang serta merta. Mereka melakukan assessment lapangan melibatkan tim independen untuk melihat kebutuhan masyarakat sekitar lingkungan, salah satunya kelompok Melon Mutiara. Hasil analisa tim internal dan eksternal menunjukkan potensi kelompok ini berkembang pesat. Pasar terbuka luas dari Aceh Tamiang, Banda Aceh, Medan, Padang, dan Jakarta.
Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyebutkan intervensi PEP disesuaikan dengan kebutuhan petani muda kawasan itu. PEP mendukung konsep smart farming (pertanian cerdas), sehingga diberi bantuan greenhouse dengan teknologi yang bisa dikontrol lewat ponsel, mulai dari penyiraman tanaman dan lain sebagainya.
“Pemberdayaan ekonomi masyarakat sejalan dengan penguatan sektor pangan dan peningkatan kualitas hidup warga,” ujar Ridwan. Target utama kelompok tani itu mandiri secara finansial, sambung Ridwan, sejalan dengan misi perusahaan yaitu kemandirian ekonomi warga secara berkelanjutan. “Dengan teknologi greenhouse diharapkan produktivitas dapat lebih stabil, kualitas panen meningkat, dan produk pertanian menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat Aceh Tamiang,” terangnya. Dia pun sudah memanen sendiri buah melon mutiara. Rasa bangganya pada kelompok tani meningkat.
“Kami apresiasi, kini saatnya anak muda bertani, menghasilkan uang dari jerih payah sendiri. Lengkap dengan teknologi pertaniannya. Ini akan menjadikan desa berdikari,” ujar Ridwan penuh haru. Dampak Industri Hulu Migas Sekretaris Daerah Aceh Tamiang, Syaibun, mengapresiasi langkah PEP Rantau Field. “Ini salah satu multiplayer effect industri hulu migas. Sekarang ini, masyarakat awam cenderung hanya berpikir efek industri hulu migas itu hanya program corporate social responsibility, padahal banyak lainnya,” katanya.
Dia menyebutkan, penerimaan negara bukan pajak, dana bagi hasil migas Aceh, tenaga kerja lokal, dan lain sebagainya adalah dampak dari industri hulu migas. Misalnya, Kabupaten Aceh Tamiang menerima dana bagi hasil migas sebesar Rp 3,5 miliar pada tahun 2024. “Jalan yang dibangun PEP, misalnya, itu membantu arus barang dan orang dengan mudah. Itu kalau dihitung berapa rupiah dampaknya,” sebut Syaibun. Sisi lain, dia mengajak petani desa lainnya meniru Kelompok Tani Melon Mutiara agar bisa menjadi pendapatan tambahan bagi kelompok anak muda. “Pasar masih sangat besar. Silakan ditiru oleh pemuda lainnya agar lebih produktif dan desa semakin berkembang, tentu uang juga bertambah,” tawanya bangga.
Harmonis dengan Lingkungan Ekonom dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Kabupaten Aceh Utara, Halida Bahri, menyebutkan manfaat industri hulu migas belum banyak diketahui publik. Untuk itu, dia menyarankan agar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) bersama pemerintah kabupaten/kota di Aceh menjelaskan kepada publik program pembangunan dari hasil hulu migas. “Sehingga publik merasa dampak nyata bahwa ini loh uang migas yang dibangun, misalnya jalan, jembatan, sekolah, dan lain sebagainya,” terang Halida.
Selama ini, masyarakat cenderung hanya memahami dana Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) berupa program pendampingan masyarakat. “Padahal banyak manfaat industri hulu migas lainnya. Tapi tidak dijelaskan ke publik. Itu tugas pemerintah dan KKKS. Jika ini dilakukan, publik akan merasa dampak nyata dari industri migas,” sebutnya. Sisi lain, dia mengapresiasi sikap PEP Rantau Field Aceh Tamiang yang melakukan pemetaan terhadap kebutuhan masyarakat lingkungan. Sehingga bantuan tidak mubazir dan harmonis dengan masyarakat lingkungan.
“Namun saya menyarankan, yang dimaksud masyarakat lingkungan jangan dimaknai sempit hanya sekitar perusahaan migas, namun dalam satu kabupaten agar lebih adil,” katanya. Dia menyarankan pemerintah daerah mempublikasikan sektor pembangunan yang didanai oleh industri migas agar tidak tumpang tindih dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). “Perlu forum koordinasi antar-KKKS dan pemerintah daerah. Jika perlu melibatkan kampus, sehingga industri ini dirasakan kehadirannya oleh masyarakat,” pungkasnya.
Kini, kelompok tani itu memanen hasilnya. Ini yang disebut usaha tak mengkhianati hasil. Di langit, hujan mulai jatuh satu-satu. Saya pun pamit, untuk suatu hari nanti kembali lagi, melihat desa itu dengan semangat generasi Z menuju kemandirian ekonomi berkelanjutan.
