PasarModern.com – Alun-Alun Kota Tasiknalaya merupakan tempat legend dan kini mewujud menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang jarang warga Tasikmalaya mengetahuinya. Padahal, dari lokasinya alun-alun itu berada di Jalan Otto Iskandardinata yang merupakan tempat paling strategis yaitu terletak di pusat Kota Tasikmalaya.
Alun-alun Kota Tasikmalaya ini dikelilingi beberapa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan pedagang yang menjajakan berbagai makanan dijalan yang mengintarinya. Alun-alun Kota Tasikmalaya pun memiliki suasana nyaman untuk nongrong, olahraga, dan berswafoto. Selain itu, pengunjung bisa menikmati sejumlah makanan yang berjejer disepanjang jalan yang mengintari alun-alun.
Patung Ikonik : Mak Eroh dan Abdul Rodjak
Yang kerap terlupakan atau kurang diketahui oleh warga yakni adanya salah satu ikon yang menjadi ciri khas dari alun-alun Kota Tasikmalaya. Adanya Tugu Mak Eroh dan Abdul Rodjak yang telah menjadi salah satu daya tarik para pengungjung.
Keberadaan Tugu Mak Eroh dan Abdul Rodjak ini masih jarang orang mengetahuinya apalagi generasi muda sekarang yang cenderung melupakannya. Sehingga Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya perlu bersama-sama membuat buku kecil mengenai siapa itu Mak Eroh dan Abdul Rodjak serta kiprahnya.
Kedua tokoh yang dijadikan model patung yang berdiri tegak di tengah-tengah Taman Alun-alun Kota Tasikmalaya dan telah jadi ikon Kota Tasikmlaya. Jika buku tentang kedua sosok itu ada, maka sebaiknya buku itu, disimpan atau dibagikan pada orang-orang yang mengunjungi alun-alun. Maksudnya tiada lain agar mereka yang datang ke Alun-alun Kota Tasikmalaya itu jadi tahu sosok kedua orang yang yang berdiri tegak ditengah alun-alun Kota Tasikmalaya itu.
Pada tugu ini terdapat dua sosok pahlawan yang berdiri kokoh memegang Bendera Kalpataru yang bertuliskan “Sukapura Ngagaung” yang dapat di artikan “Sukapura Bergema“. Lalu dibawah pijakan dua tokoh pahlawan itu terdapat tembok besar yang dindingnya dihiasi relief yang menggambarkan dan menceritakan budaya serta kehidupan warga Tasikmalaya.
Ke dua sosok pahlawan yang jadi ikon alun-alun Kota Tasikmalaya adalah Mak Eroh dan Abdul Rodjak. Mereka berdua merupakan tokoh yang berjasa dalam melestarikan lingkungan hidup. Atas jasanya itu Pemerintah Tasikmalaya membuat tugu untuk mengenang jasa mereka. Mak Eroh merupakan salah satu tokoh perempuan asal Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong.
Sosok Mak Eroh adalah perempuan perkasa asal Tasikmlaya yang berhasil membuat saluran irigasi dilereng Gunung Galunggung untuk mengalirkan air ke lahan pesawahannya. Mak Eroh melakukan itu, karena kondisi warga Tasikmalaya kala itu kesulitan mencari sumber air. Sumber mata air kala itu telah tertutup material letusan Gunung Galunggung.
Saluran air yang dibuatnya itu berada ditepi jurang Gunung Galunggung. Ditengah rerimbunan pohon dengan dinding perbukitan yang sangat curam, sehingga tidak jarang orang bisa melaluinya. Mak Eroh berhasil menggali saluran air yang berbelok-belok mengikuti kontur perbukitan sepanjang 5 kilomenter dengan dibekali peralatan seadanya yaitu belincong, linggis dan cangkul.
Dengan bermodalkan kegigihan dan tekad kuat, Mak Eroh terus memacu keingginannya untuk membangun saluran air agar bisa membantu warga di kampungnya. Saat itu, sebagian besar tetangga dan warga tidak percaya akan kemampuan Mak Eroh untuk membangun saluran air itu. Apa lagi, jalur yang dipakainya adalah sebuah dinding gunung yang curam dan keras.
Ketidak-percayaan dan cibiran warga yang datang itu, tidak menyurutkan tekad dan kegigihannya untuk terus mewujudkan cita-citanya itu. Dan atas keberhasilannya membuat saluran air itu, ia lalu dijuluki Perempuan Tangan Besi. Atas jasanya itu pula dirinya diberi penghargaan Kalpataru oleh Presiden Soeharto tahun 1988. Karena Mak Eroh berhasil melestarikan lingkungan hidup dan Mak Eroh pun pernah menerima penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Setelah Mak Eroh berhasil membuat saluran air untuk kebutuhan warga disana, Mak Eroh wafat pada usia 60 tahun atau tepatnya pada tahun 2004.
Selain kisah Mak Eroh yang membangun saluran air, ada cerita unik yang hampir sama yaitu kisah Abdul Rodjak. Abdul Rodjak adalah warga Kampung Pasangrahan, Kelurahan Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya.
Abdul Rodjak merupakan tokoh pahlawan yang hampir sama jasanya dengan Mak Eroh yaitu membuat terowongan pada sebuah bukit untuk mengalirkan air pada sawah warga dengan dana sendiri yang menghabiskan harta warisannya sendiri.
Awalnya Abdul Rodjak merintis membuat saluran irigasi pada tahun 1960 dengan memperkerjakan beberapa warga yang di pekerjaan siang dan malam. Rodjak membuat saluran irigasi ini dengan peralatan seadanya yaitu dengan balincong dan cangkul. Abdul Rodjak membuat saluran irigasi sepanjang 3 km dibawah bukit yang megharuskan membuat terowongan sepanjang 200 meter dengan ketinggian 2 meter dan lebar 1,5 meter.
Membangunan irigasi itu, Abdul Rodjak melakukan dengan memahat tebing untuk mengalirkan air yang bermuara di Sungai Ciharuman sampai ke lahan pesawahan miliknya. Pembangunan irigasi yang hampir sama dengan kisah Mak Eroh yakni adanya cibiran dan cemoohan warga setempat.
Rodjak pun mengalami hal yang sama yakni mendapat cemoohan dari warga sekitarnya, bahkan ada yang menganggapnya orang gila. Namun, adanya cibiran dan cemoohan itu tidak membuat Rodjak surut untuk mewujudkan cita-citanya.
Setelah Abdul Rodjak berhasil membuat saluran irigasi itu, tahun1987 Presiden Soeharto memberikan sebuah penghargaan Kalpataru untuk menghargai atas jasa Rodjak dalam melestarikan lingkungan.
Itulah dibalik kedua sosok warga Tasikmalaya yang berada pada Tugu ikonik di Alun-alun Kota Tasikmalaya. Generasi muda yang kerap bermain, nongkrong atau joging di alun-alun tentu tidak mengetahui tentang siapa dibalik kedua patung itu. Dan patung yang dibuat dengan model kedua tokoh itu adalah sebuah upaya untuk mengenang jasa kedua tokoh itu dan sebagai cermin untuk generasi mendatang. Sehingga generasi muda Tasikmalaya tidak melupakan sejarahnya sendiri. Semoga***


