Cuaca Ekstrem Mengancam: Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan, ASN Siaga, BPBD Pantau 24 Jam

Posted on

Cuaca Ekstrem Mengancam Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada penghujung tahun 2025 memicu kewaspadaan tinggi bagi warga setempat. Empat wilayah kabupaten/kota, termasuk Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, dan Bangka Selatan, telah bersiap siaga menghadapi potensi bencana alam seperti banjir, angin kencang, dan kebakaran hutan.

Di Pangkalpinang, warga sudah mengantisipasi sejak dini menghadapi banjir tahunan yang sering terjadi di masa pergantian tahun. Misalnya, Yanti (52), warga Gg. Merpati, Kelurahan Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari Pangkalpinang, tampak sibuk mengatur tumpukan pakaian yang ia letakkan di atas kasur yang sudah tinggi di dalam rumahnya. Kasur yang seharusnya berada di lantai itu sengaja ia tinggikan, ditopang oleh kursi dan kayu-kayu lain. Inilah bentuk pertahanan yang ia bangun sendiri sejak hampir tiga dekade lalu untuk menyelamatkan barang-barang dari banjir tahunan.

Yanti juga memperlihatkan bagian kamar tidur lain yang memiliki ranjang dibuat jauh lebih tinggi bahkan hampir menyentuh langit-langit. Menurutnya, ranjang tinggi itu sudah lama menjadi benteng terakhir ketika air mulai naik lebih parah dari biasanya. Yanti sudah tinggal di rumah ini sejak 1996, dan sejak itu pula banjir menjadi tamu tahunan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Rumah sederhana itu memang berada di kawasan yang dikenal sebagai titik rawan banjir di Pangkalpinang. “Setiap tahun pasti ada banjir, pasti ada yang parah. Paling tidak setinggi betis orang dewasa,” ujar Yanti saat dijumpai PasarModern.com, Selasa (2/12/2025) sore itu. Saat PasarModern.com mengunjungi rumahnya, hampir seluruh barang berharga sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Kasur-kasur, baju, hingga dokumen penting keluarga sudah ditata rapi di bagian atas.

Sebagian kasur terlihat rusak di bagian bawah bekas sering terendam banjir. “Sudah biasa, jadi harus antisipasi. Kalau hujan deras terus pasang air laut, cepat sekali air masuk ke rumah. Kalau cuma hujan deras saja, paling banjirnya di depan rumah,” tuturnya.

Antisipasi itu bukan tanpa alasan. Yanti masih mengingat banjir besar tahun 2016, peristiwa yang merendam seluruh bagian rumahnya hingga membuatnya kesulitan menyelamatkan barang-barang. Sejak itu, ia dan keluarga sepakat membuat ranjang tinggi sebagai penyelamat. Meski sudah puluhan kali menjadi korban banjir, Yanti tak pernah berniat pindah rumah. “Tanah di Pangkalpinang mahal. Lagian rumah ini dekat pasar, dekat ke mana-mana. Enak tinggal di sini,” katanya sambil tersenyum kecil.

Baginya, banjir bukan alasan untuk meninggalkan tempat yang sudah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. “Kan banjirnya tidak setiap hari. Masih amanlah. Tapi setahun sekali pasti ada yang parah itu, banjir tahunannya,” ungkap Yanti. Menurut Yanti, banjir biasanya muncul pada musim penghujan, seperti Oktober, November, dan Desember. Ia sudah sangat hafal pola alam yang mengelilingi rumahnya. “Kalau sudah masuk hujan akhir tahun, ya kami siap saja. Tinggal naikkan barang-barang ke atas,” ucapnya.

Meski sederhana, rutinitas itu baginya adalah bentuk perjuangan. Dan seperti warga lainnya di kawasan rawan banjir Kelurahan Gedung Nasional, Yanti hanya bisa berharap setiap musim hujan tidak membawa air setinggi tahun-tahun sebelumnya. Namun di balik kepasrahan itu, ada kekuatan yang pelan-pelan tumbuh, keyakinan untuk bertahan.

Di rumah kecil itulah Yanti membesarkan keluarga, menggantungkan hidup dari warung sederhana, dan menjalani hari-harinya dengan tabah meskipun banjir menjadi bagian dari hidup sejak 29 tahun lalu. Meski sudah terbiasa menghadapi banjir, Yanti tidak menutup hati untuk berharap pada perubahan. Ia berharap pemerintah bisa membantu mengurangi risiko banjir di kawasan tempat tinggalnya. “Kalau bisa, tolong dibantu supaya daerah kami ini tidak banjir lagi. Kasihan warga di sini setiap tahun pasti kena. Kalau bisa diperbaiki salurannya, atau dibuatkan penanganan supaya air cepat turun,” pintanya dengan nada lirih.

Erna Cemas Tiap Kali Hujan

Hujan yang turun perlahan di Pangkalpinang mungkin terdengar menenangkan bagi sebagian orang. Tetapi bagi Erna (59), warga Gang Merpati, Kecamatan Rawa Bangun, langit mendung justru menghadirkan kecemasan. Ia hanya perlu melihat genangan tipis di halaman rumah untuk kembali teringat pada masa-masa kelam ketika banjir menerjang. “Jangankan hujan lebat, hujan sedikit saja sudah khawatir. Kalau lihat air mulai menggenang sudah khawatir, karena air itu cepat naiknya kalau banjir,” ujarnya pelan, sembari menatap aliran air kecil dari selokan depan rumahnya, Selasa (2/12/2025).

Penghujung tahun 2025 menjadi masa penuh waspada bagi warga Bangka Belitung. Catatan Pusdalops BPBD provinsi menunjukkan 115 bencana alam terjadi sepanjang 1 Januari hingga 28 November 2025. Banjir, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan terjadi silih berganti, menimbulkan kerugian pada ribuan warga. Sebanyak 1.591 KK atau 4.735 jiwa terdampak, dengan ratusan bangunan rusak ringan, sedang, dan berat. Bangka Tengah menjadi daerah paling banyak dilanda bencana, disusul Bangka Barat dan Bangka. Sementara banjir tercatat sebanyak 22 kejadian, menjadikannya salah satu bencana paling meresahkan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah langganan luapan air, seperti tempat Erna tinggal.

Kenangan tahun 2016 masih membekas kuat. Saat itu air naik begitu cepat hingga hampir menenggelamkan rumahnya. “Dulu 2016 banjir setengah rumah terendam, kulkas, blender semua rusak. Beberapa barang juga harus dijemur, biar kering bisa dipakai lagi karena lumpur juga banyak,” ucapnya sambil menarik napas panjang, seolah masih merasakan lumpur di lantai rumahnya sembilan tahun lalu.

Sejak kejadian itu, Erna belajar hidup dalam kesiapsiagaan. Setiap kali hujan deras turun, ia tak menunggu instruksi. Barang-barang langsung dipindahkan ke tempat tinggi, pakaian dimasukkan dalam dus, dan pintu rumah ditutup rapat agar air tak mudah masuk. “Kami sudah biasa, jadi hujan deras langsung waspada barang-barang diamankan dulu,” kata Erna. Namun kesiapan itu bukan tanpa harapan. Ia ingin masa kecemasan itu segera berakhir. Baginya, ada solusi sederhana yang bisa meringankan beban warga. “Harapannya bandar (selokan) dibuat, agar airnya mengalir jangan tergenang. Kalau tergenang air itu cepat naiknya, bisa banjir apalagi hujan lama,” ucapnya, berharap suara warga bisa sampai ke telinga pemerintah.

BPBD Bangka Barat mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di akhir tahun 2025, khususnya bencana hidrometeorologi menyusul perkiraan cuaca ekstrem. Potensi cuaca ekstrem yang dimaksud meliputi hujan deras, angin kencang, serta perubahan suhu mendadak yang berisiko memicu banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Kepala BPBD Kabupaten Bangka Barat, Safrizal, mengatakan, pihaknya telah meningkatkan pemantauan perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. “Guna meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi ini, warga diminta melakukan mitigasi lingkungan sejak dini. Mulai dari membersihkan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, hingga memantau kondisi pohon di sekitar rumah,” ujar Kepala BPBD Bangka Barat, Safrizal, kepada wartawan, Selasa (2/12/2025).

Dikatakannya BPBD Babar, telah menyiagakan petugas lapangan dan meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan indikasi bencana di wilayah masing-masing. “Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dan peringatan dini cuaca untuk menghindari potensi kerugian,” katanya. Safrizal menegaskan, kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana selama musim hujan. “Dengan mitigasi yang tepat, dampak cuaca ekstrem dapat ditekan,” lanjutnya. Menurutnya, Kabupaten Bangka Barat, disejumlah kecamatan, memiliki potensi banjir, ketika musim hujan. Seperti Kecamatan Mentok, Parittiga, dan Jebus. Untuk mengatasi potensi banjir yang terjadi, BPBD telah menyiapkan semua kebutuhan kebencanaan.