Perjalanan Cinta di Lapangan Silat
Di tengah suasana sore yang hangat dan tenang, kota Kuningan terasa penuh dengan aroma tanah basah dan sisa panas matahari yang perlahan menghilang. Di halaman sekolah tempat latihan ekstrakurikuler Pencak Silat, Yanuardi berdiri tegak. Ia adalah sosok yang memancarkan ketenangan dan ketegasan.
Yanuardi memiliki paras rupawan yang selalu membuat orang terkesan. Kulitnya putih bersih, kontras dengan rambut hitam yang selalu rapi. Meski tampak dingin dan jarang tersenyum, para muridnya—terutama murid perempuan—tertarik padanya. Ketampanannya adalah anugerah yang ia tidak sadari, karena aura dingin dan sikap fokusnya sering disalahpahami sebagai kesombongan.
Sejak lulus SMA pada tahun 2000, Yanuardi harus meninggalkan mimpi melanjutkan pendidikan tinggi. Ia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Mansur, bekerja sebagai sopir colt bak angkutan, sedangkan ibunya, Anah, menjual masakan sayuran dan ayam goreng. Hidup Yanuardi adalah kehidupan sederhana yang teratur. Pagi hingga siang ia membantu ibunya di dapur, menggoreng kelapa atau menggoreng ayam. Menjelang Magrib, ia akan menjemput ibunya yang berjualan di sekitar desa.
Sore hari adalah waktu untuk latihan silat. Saat ia mengenakan baju kampret silat, Yanuardi menjadi pelatih yang disiplin. Ia mengajarkan jurus, tendangan, tangkisan, dan bantingan kepada murid-muridnya. Diantara puluhan murid, dua nama mulai menarik perhatiannya: Astuti dan Esti.
Astuti adalah gadis dengan tatapan mata yang mendamba, sering mencuri pandang ke arah Yanuardi. Ia biasanya malu jika mereka saling bertemu. Sementara itu, Esti adalah gadis dengan lesung pipi yang membuatnya menarik. Ia selalu tampil polos dan ceria, meskipun hidupnya tidak begitu sejahtera. Meski hanya mengenakan sandal jepit, ia selalu terlihat bersih dan segar.
Awalnya, Yanuardi hanya melihat mereka sebagai murid. Tugasnya adalah melatih mereka, tidak lebih. Namun, kabar tentang hubungan Esti yang putus dengan pacarnya membuatnya merasa khawatir. Ia takut jika Esti akan menghabiskan waktu latihannya untuk pacaran. Pikiran ini mulai mengganggunya.
Kemudian, kabar bahwa Esti kembali sendiri membuat hatinya berkecamuk. Ia merasa ingin menyatakan cintanya, meskipun takut ditolak. Akhirnya, pada sore hari, ia melangkah pasti. Tanpa basa-basi, ia meraih tangan Esti. Mereka berbicara di bawah pohon rindang. Yanuardi mengucapkan “Esti. Abi bogoh ka maneh (Aku cinta kamu)” dalam bahasa Sunda.
Esti tidak langsung menjawab. Ia meminta waktu seminggu untuk memikirkan jawabannya. Selama tujuh hari, Yanuardi merasa seperti berada di neraka. Setelah seminggu, mereka bertemu lagi di depan Pabrik Tahu. Esti akhirnya menjawab, “Abi ge bogoh ka A Yanuardi (Aku juga cinta kamu).”
Itulah awal mula kisah cinta Yanuardi dan Esti. Sebuah kisah yang lahir dari lapangan silat, mengabaikan perbedaan usia dan status pelatih-murid. Mereka akhirnya menikah dan dikaruniai tiga orang anak.


