Kota Solo: Pusat Keroncong yang Berakar pada Budaya Lokal
Solo, kota yang terletak di Jawa Tengah, tidak hanya dikenal karena kekayaan kuliner seperti tengkleng. Kota ini juga memiliki identitas budaya yang kuat, terutama dalam hal musik keroncong. Sejak awal abad ke-20, Solo telah menjadi pusat penting perkembangan musik keroncong yang kini menjadi simbol budaya Indonesia.
Asal Usul Musik Keroncong
Musik keroncong tidak berasal langsung dari Portugis, melainkan dari komunitas bekas-bekas budak keturunan Portugis yang dikenal sebagai Mardjiker. Dari sini, musik keroncong berkembang dan kemudian bertransformasi menjadi kesenian rakyat yang menyerap unsur lokal. Proses Indonesianisasi membuat keroncong beradaptasi dengan nilai dan budaya Nusantara, menjadikannya bagian dari identitas musik Indonesia.
Kota-kota seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Solo menjadi pusat penting perkembangan musik keroncong. Di antara kota-kota tersebut, Solo memiliki peran istimewa dalam menjaga eksistensi keroncong.
Perkembangan Keroncong di Solo
Solo mulai mengenal musik keroncong sekitar tahun 1920-an. Tokoh-tokoh seperti Anton Ferdinand Roland Landouw, yang dikenal sebagai penyanyi keroncong pada masa itu, memperkuat kehadiran musik ini di kota ini. Pada dekade 1940–1950-an, citra Solo sebagai pusat keroncong Indonesia semakin menguat.
Lahirnya lagu legendaris “Bengawan Solo” oleh Gesang Martohartono pada tahun 1940 menjadi titik balik bagi popularitas keroncong. Lagu ini kemudian mendunia dan menjadi simbol musik keroncong Indonesia.
Dinamika Keroncong di Masa Kolonial dan Pendudukan Jepang
Perkembangan keroncong di Solo semakin pesat pada 1930-an hingga 1940-an. Orkes-orkes keroncong seperti OK Marko dan Orkes Keroncong Kembang Kacang muncul dan ikut mewarnai dunia musik Solo. Peran radio pada masa itu sangat besar dalam menyebarluaskan musik keroncong ke masyarakat luas.
Masa pendudukan Jepang membawa dampak besar bagi dunia musik Indonesia. Meskipun banyak bentuk hiburan dilarang, musik keroncong justru mendapat ruang untuk berkembang. Pada masa inilah lahir karya-karya penting seperti “Jembatan Merah” ciptaan Gesang.
Sentuhan Langgam Jawa dalam Keroncong Solo
Kecintaan warga Surakarta terhadap keroncong tidak lepas dari sentuhan langgam Jawa yang kuat. Ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) Kota Surakarta, Wartono, menyebut bahwa keroncong Solo memiliki kedekatan dengan gamelan Jawa. Instrumen seperti cello yang dipukul menyerupai kendang, cak yang mirip siter, serta cuk yang menyerupai bunyi bonang membuat keroncong terasa akrab bagi masyarakat Jawa.
Doktor pengkajian seni ISI Surakarta, Tito Setyo Budi, menyebut Solo sebagai benteng terakhir musik keroncong. Menurutnya, keroncong telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Komunitas yang aktif dan pembinaan generasi muda membuat keroncong terus hidup dan relevan hingga kini.
Empat Musisi Keroncong Terkenal dari Solo
1. Gesang Martohartono
Gesang Martohartono tak bisa dilepaskan dari sejarah musik keroncong Indonesia. Lahir di Solo pada 1 Oktober 1917, Gesang dikenal sebagai maestro keroncong yang karya-karyanya abadi lintas generasi. Ia wafat pada usia 93 tahun, meninggalkan warisan musik yang tak ternilai.
Karier Gesang bermula dari panggung ke panggung sebagai penyanyi keroncong. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit mendorongnya menekuni dunia musik. Dengan belajar secara otodidak, Gesang tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menciptakan lagu. Karya paling monumental Gesang adalah lagu “Bengawan Solo” yang diciptakan pada 1940.
2. Waldjinah
Waldjinah, yang dijuluki sebagai Ratu Keroncong, lahir di Solo pada 7 November 1945. Bakat Waldjinah mulai dikenal luas setelah ia mengikuti berbagai lomba menyanyi keroncong tingkat nasional. Titik balik kariernya terjadi pada 1958 ketika ia menjuarai kontes menyanyi Ratu Kembang Katjang.
Popularitas Waldjinah semakin menguat setelah ia terpilih sebagai juara Bintang Radio Republik Indonesia. Sejumlah lagu ciptaannya hingga kini masih dikenal luas, seperti “Walang Kekek”, “Yen Ing Tawang”, dan “Jangkrik Genggong”.
3. Endah Laras
Endah Laras merupakan sosok seniman multitalenta asal Solo. Ia dikenal sebagai penyanyi keroncong, penari, sekaligus aktris. Pada 2021, Endah dipercaya menjadi maskot Solo International Performing Arts (SIPA), sebuah pengakuan atas kiprahnya di dunia seni pertunjukan.
Selain memiliki suara merdu, Endah Laras juga aktif menciptakan lagu. Beberapa karyanya antara lain “Kangen Kanca” dan “Neng Omah Dewe”. Tak hanya di musik, Endah juga menorehkan prestasi di dunia perfilman dengan membintangi sejumlah film layar lebar.
4. Sruti Respati
Sruti Respati, adik dari Endah Laras, juga menekuni dunia keroncong sejak usia muda. Ia telah lama berkecimpung di berbagai bidang seni, mulai dari presenter televisi daerah, pengisi pertunjukan musik, hingga tampil dalam acara-acara penganugerahan penghargaan.
Selain aktif sebagai penyanyi keroncong, Sruti Respati juga berperan sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Dia turut berkontribusi dalam pembinaan seni dengan menjadi pelatih vokal di studio Erwin Gutawa Orchestra.
