Cerita di balik air keran rusun Pesakih yang bersumber dari Kali Mookervart

Posted on

JAKARTA, PasarModern.com Di tengah keterbatasan sumber air bersih di Jakarta Barat, warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pesakih, Cengkareng, mengandalkan pasokan air yang bersumber dari aliran Kali Mookervart untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Air kali tersebut tidak digunakan secara langsung, melainkan terlebih dahulu diolah melalui teknologi Water Treatment Plant (WTP) sebelum dialirkan ke unit-unit hunian.

Bagi sebagian warga, sumber air dari kali yang dikenal keruh dan berbau itu sempat menimbulkan keraguan.

Namun, pengalaman tinggal bertahun-tahun membuat sebagian penghuni menilai kualitas air yang mereka gunakan justru jauh dari bayangan awal.

Novi (40), penghuni Tower 2 Lantai 14 yang telah menetap selama lima tahun, mengaku puas dengan kualitas fisik air yang mengalir di unitnya.

Meski mengetahui air berasal dari Kali Mookervart, ia menilai hasil pengolahan yang sampai ke keran rumahnya sangat berbeda dari kondisi air di kali.

“Alhamdulillah bagus sih, enggak ada keluhan, bersih airnya. Jernih, jernih,” ujar Novi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (16/12/2025).

Menurut Novi, selama lima tahun menggunakan air tersebut, ia tidak pernah mendapati bau menyengat yang kerap ditemui pada air tanah atau air kali.

“Enggak sih, bau mah enggak, enggak pernah. Aman sih selama ini, bau gitu juga enggak,” ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan Teti (42), warga Rusun Pesakih lainnya. Ia menilai air keran aman digunakan untuk keperluan sanitasi keluarga, termasuk untuk anak-anak.

“Aman, enggak pernah ada keluhan. Saya punya anak kecil berdua, alhamdulillah enggak pernah kenapa-kenapa,” kata Teti.

Teti mengaku baru mengetahui sumber air Rusun Pesakih berasal dari Kali Mookervart setelah lama tinggal di sana.

Saat pertama kali pindah dari kawasan Jelambar, ia sempat terkejut mengingat kondisi kali yang tampak hitam dan berbau.

“Ya awalnya mah enggak tau, kan kalau di depan tuh kali nya serem juga ya. Hitam lah warnanya, bau, segala macam. Tapi abis diolah, sampai sini mah aman sih, jernih gitu,” ucapnya.

Meski kualitas fisik air dinilai baik, kepercayaan warga untuk mengonsumsinya secara langsung masih beragam.

Novi termasuk warga yang cukup yakin menggunakan air keran untuk keperluan dapur, meski tidak diminum langsung.

“Kalau buat minum sih enggak, tapi kalau masak iya. Saya masak nasi, masak apa, semua pakai air dari PAM ini, air keran gitu,” tutur Novi.

Berbeda dengan Novi, Teti memilih lebih berhati-hati. Ia masih menggunakan air galon untuk minum dan memasak, terutama untuk makanan yang airnya terserap seperti nasi.

“Kalau air itu bersih ya bersih. Tapi kalau buat dikonsumsi, minum atau masak, saya belum percaya gitu. Banyak beberapa warga yang belum percaya lah buat langsung dikonsumsi,” ungkap Teti.

Ia hanya menggunakan air keran untuk masakan yang airnya dibuang setelah direbus.

“Jadi kalau saya kalau buat masak mie atau masak air yang airnya nanti dibuang, itu masih bisa saya pakai. Tapi kalau buat masak nasi atau segala macam, kalau saya sih belum berani. Jadi saya masih pakai air galon, kadang pakai air keran itu (untuk cuci),” jelasnya.

Pernah Keruh dan Berbau

Meski saat ini dinilai aman, warga mengingat adanya insiden gangguan kualitas air beberapa tahun lalu.

Teti menuturkan, pada 2023 air yang keluar dari keran rumahnya sempat berubah warna dan berbau menyengat.

“Dulu emang pernah tuh sekali, kayaknya tahun 2023 deh kalau enggak salah. Nah itu tiba-tiba air kotor, air yang keluar dari keran tuh item gitu warnanya, terus bau, bau banget, bau got,” kenang Teti.

Saat itu, warga langsung menyampaikan keluhan kepada pengelola rusun. Pasokan air kemudian dihentikan sementara dan digantikan dengan suplai air tangki.

“Kita warga langsung komplain ke pengelola, langsung di-stop itu airnya terus dibawain air tangki. Tapi itu cuma satu hari lah, seharian. Habis itu besoknya sudah normal lagi,” ucap Teti.

Gangguan tersebut, menurut informasi yang diterima warga, disebabkan oleh kerusakan mesin di tower. Setelah perbaikan dilakukan, suplai air kembali normal hingga kini.

“Tapi setelah itu aman sih, enggak pernah ada lagi. Aman ya sampai sekarang aman aja,” imbuhnya.

Selain insiden tersebut, gangguan kecil terkadang terjadi saat jadwal pengurasan tangki penampungan air.

Eli (47), warga Rusun Pesakih lainnya, menyebut sisa endapan biasanya terbawa aliran air sesaat setelah pengurasan.

“Kecuali kalau habis dikuras. Karena kan kuras tuh wah ada pengurasan, nanti kadang suka ada tuh, rada bau gitu, rada kotor dikit. Nanti ke sananya enggak lagi. Paling juga sekitar 15 menitan lah, dibuang (airnya), langsung jernih lagi,” jelas Eli.

Ia berharap kualitas air bersih di Rusun Pesakih dapat terus terjaga.

“Ya harapannya sih semoga bisa makin bagus ya, makin nyaman kita makainya. Semoga enggak ada mati-matian gitu, biar lancar terus lah,” ucap Eli.

Proses Pengolahan dan Distribusi

Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Pesakih, Muhammad Ali, menjelaskan bahwa pemanfaatan air Kali Mookervart dilakukan untuk menjawab kebutuhan air bersih warga, seiring dengan larangan penggunaan air tanah di Jakarta.

“Mengingat kebutuhan air akan masyarakat, kebutuhan air bersih, Rusun ini mulai menggali potensi-potensi. Dari hasil analisis PAM Jaya, melihat bahwa ada potensi untuk penggunaan air di sekitar rusun, yaitu aie dari Kali Mookervart,” ujar Ali saat diwawancarai PasarModern.com di lokasi, Selasa (16/12/2025).

Ali menegaskan, air yang dialirkan ke unit hunian tidak sepenuhnya berasal dari kali.

Air Kali Mookervart dicampur dengan air hujan yang ditampung di Waduk Mookervart, tepat di depan kawasan rusun.

“Nah, jadi secara teknis, enggak mentah-mentah semuanya itu air dari kali, ya. Karena sebenernya sumbernya itu juga dari waduk, nah air dari kali dan waduk ini nanti jadi satu, lalu baru disaring, diolah, baru didistribusikan,” kata Ali.

Penjelasan teknis juga disampaikan Kepala Satuan Sarana dan Prasarana UPRS Pesakih, Kevin Mario Nando.

Ia memaparkan bahwa proses pengolahan air dilakukan di instalasi milik PAM Jaya yang berada di kawasan waduk.

“Jadi untuk sistem pengolahan dari Waduk Mookervart ini, ada sebagian penampungan air hujan, dan air dari kali. Nah air itu tadi lalu diolah oleh PAM Jaya di instalasi yang lokasinya di waduk itu juga,” jelas Kevin.

Setelah melalui proses penyaringan dan pengolahan, air tersebut didistribusikan ke Ground Water Tank (GWT) sebelum dialirkan ke seluruh unit hunian.

Tak hanya untuk warga rusun, air hasil olahan tersebut juga digunakan oleh Masjid Raya K.H. Hasyim Asy’ari yang berada di sebelah Rusunawa Pesakih.

“Jadi seluruh kawasan rusun ini, memakai air ini, pengolahan dari waduk dan kali. Semua tower, blok, termasuk masjid raya, itu pakai air ini semua,” sambung Kevin.