LINGGA PIKIRAN RAKYAT – Pasar otomotif Eropa kembali memanas setelah BYD mengonfirmasi kehadiran BYD Dolphin G, sebuah hatchback plug-in hybrid (PHEV) yang secara khusus dikembangkan untuk konsumen Benua Biru. Model ini diproyeksikan menjadi pelengkap lini Dolphin yang sebelumnya hanya tersedia dalam versi listrik murni (EV), sekaligus memperkuat posisi BYD di segmen hatchback kompak yang persaingannya sangat ketat.
Peluncuran resmi BYD Dolphin G dijadwalkan berlangsung pada 2026, bertepatan dengan fase penting transformasi elektrifikasi di Eropa. Kehadirannya bukan sekadar menambah varian, tetapi menjadi langkah strategis BYD untuk menantang dominasi pemain mapan seperti Volkswagen Polo, Renault Clio, Opel Corsa, dan Peugeot 208.
Dirancang Khusus untuk Selera Eropa
Berbeda dari pendekatan sebelumnya, BYD Dolphin G tidak sekadar menjadi adaptasi model pasar Tiongkok. Mobil ini dikembangkan dengan mempertimbangkan preferensi konsumen Eropa, mulai dari ukuran, efisiensi, hingga karakter berkendara. Dengan dimensi yang masuk kategori B-segment, Dolphin G diposisikan sebagai hatchback perkotaan yang praktis, lincah, namun tetap efisien.
Sejumlah media otomotif Eropa menyebutkan bahwa Dolphin G akan menjadi pemain utama di kelasnya, bukan sekadar alternatif. Hal ini menunjukkan ambisi BYD untuk benar-benar bersaing head-to-head dengan merek-merek Eropa yang telah puluhan tahun menguasai segmen hatchback kompak.
Strategi PHEV untuk Menembus Regulasi Uni Eropa
Keputusan BYD menghadirkan Dolphin G dalam format plug-in hybrid dinilai sangat strategis. Saat ini, Uni Eropa menerapkan tarif impor tinggi untuk mobil listrik murni buatan Tiongkok, dengan besaran yang bisa mencapai 35 persen. Namun, aturan tersebut tidak berlaku untuk kendaraan hybrid dan PHEV.
Dengan memilih jalur PHEV, BYD dapat menjaga harga tetap kompetitif tanpa terbebani tarif besar. Presiden BYD, Stella Li, bahkan menegaskan bahwa Dolphin G adalah model perdana yang dikembangkan dengan fokus utama pada kebutuhan konsumen Eropa. Artinya, mobil ini bukan solusi sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang BYD.
Spesifikasi Teknis: Adaptasi dari Atto 2 DM-i
Dari sisi teknis, BYD Dolphin G diperkirakan akan mengadopsi teknologi dari BYD Atto 2 DM-i. Sistem ini mengombinasikan mesin bensin 1.5 liter empat silinder dengan motor listrik, serta dua opsi baterai, yakni 7,8 kWh dan 18,3 kWh.
Pada Atto 2 DM-i, sistem ini mampu menghasilkan tenaga listrik hingga 156 kW. Jika diterapkan pada Dolphin G yang memiliki bodi lebih ringkas dan aerodinamis, potensi efisiensi serta jarak tempuh listrik murni diprediksi akan lebih optimal. Ini menjadikan Dolphin G menarik sebagai mobil komuter harian, terutama di kota-kota besar Eropa dengan regulasi emisi ketat.
Harga: Diproyeksikan Kompetitif
Hingga kini, BYD belum mengumumkan harga resmi Dolphin G. Namun, melihat strategi PHEV dan positioning di segmen B-segment, hatchback ini diperkirakan akan dibanderol kompetitif dengan Polo dan Clio, bahkan berpotensi lebih menarik jika insentif elektrifikasi tetap diberlakukan di beberapa negara Eropa.
Produksi lokal juga menjadi kunci. BYD telah menyiapkan pabrik di Hungaria yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026 untuk memproduksi Atto 1 dan Atto 2. Tidak menutup kemungkinan Dolphin G akan menyusul diproduksi secara lokal, sehingga harga bisa ditekan lebih jauh dan distribusi menjadi lebih efisien.
Keunggulan BYD Dolphin G
Keunggulan utama Dolphin G terletak pada kombinasi efisiensi dan fleksibilitas. Sebagai PHEV, mobil ini memungkinkan penggunaan listrik murni untuk perjalanan pendek, namun tetap memiliki mesin bensin untuk perjalanan jauh tanpa khawatir infrastruktur pengisian daya.
Selain itu, strategi menghindari tarif impor EV murni membuat Dolphin G berpeluang menawarkan value for money yang kuat. Reputasi BYD dalam pengembangan baterai dan sistem elektrifikasi juga menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan.
Kekurangan yang Perlu Diperhatikan
Di sisi lain, Dolphin G tetap menghadapi tantangan. Statusnya sebagai pendatang baru di segmen hatchback Eropa membuat BYD harus bekerja ekstra dalam membangun kepercayaan konsumen. Selain itu, kompleksitas sistem PHEV berpotensi membuat biaya perawatan sedikit lebih tinggi dibanding hatchback bensin konvensional.
Fokus pasar yang sangat Eropa juga membuat Dolphin G kemungkinan tidak akan tersedia secara luas di pasar lain, sehingga skala globalnya lebih terbatas dibanding model EV murni BYD.
BYD Dolphin G menjadi bukti bahwa BYD semakin matang dalam membaca pasar global. Dengan strategi PHEV yang cerdas, pengembangan khusus untuk Eropa, serta dukungan produksi lokal, hatchback ini berpotensi menjadi penantang serius Volkswagen Polo dan Renault Clio di era elektrifikasi. Jika harga dan spesifikasi akhirnya sesuai ekspektasi, Dolphin G bisa menjadi salah satu kartu truf BYD di pasar otomotif Eropa.