Matahari siang di Kampung Bolang, Desa Narawita, tidak terasa begitu menyengat saat saya melangkah menyusuri pematang. Di sana, seorang pria paruh baya bernama Uyep sedang sibuk mengolah tanah. Ia tidak sendirian, sang istri setia mendampingi di bawah langit Cicalengka. Tangan mereka yang kasar terlihat lincah mengayunkan cangkul kecil ke permukaan tanah. Mereka sedang menggemburkan lahan agar siap ditaburi benih. Bukan bulir padi yang mereka siapkan hari itu, melainkan benih kangkung darat. Udara sore mulai terasa sejuk menyentuh kulit.
Uyep berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk menyapa saya dengan ramah. Wajahnya menunjukkan garis lelah, namun sorot matanya tetap memancarkan semangat hidup. Ia mulai bercerita tentang pilihan hidupnya sebagai penggarap lahan. Sebuah pengakuan jujur mengalir begitu saja dari mulutnya. “Bukan tak ingin padi, hanya kangkung yang bisa kami tanam,” ucapnya pelan. Kalimat itu terasa sangat dalam jika maknanya ditarik ke dalam realita. Ia mengakui bahwa menanam padi adalah impian setiap petani. Namun, keadaan memaksanya untuk bersikap lebih realistis saat ini.
Realita Lahan Garapan dan Keterbatasan Modal
Tanah yang dikelola Uyep sebenarnya mencakup luas sekitar tiga puluh tumbak. Namun, ia tidak menguasai seluruh lahan itu sendirian untuk ditanami kangkung. Tanah milik orang lain tersebut harus dibagi dengan warga sekitar. Hal ini dilakukan agar semua warga bisa ikut mengais rezeki. Ia hanya mendapatkan jatah menggarap lahan seluas lima tumbak saja. Dari luas tersebut, lahan kemudian dibagi lagi menjadi delapan petak kecil. Pembagian ini bertujuan agar perawatan tanaman bisa dilakukan secara maksimal. Ia harus berbagi dengan warga lain yang memiliki nasib serupa di sana.
Jika ia memaksakan menanam padi di lahan sempit, hasilnya tidak cukup. Keuntungan yang didapat tidak akan sebanding dengan waktu yang telah dihabiskan. Ia telah menghitung segala risiko ekonomi jika tetap menanam padi huma. Biaya produksi untuk padi darat ternyata jauh lebih besar bagi modalnya. Masa tanam hingga panen padi memakan waktu yang cukup lama. Hal ini membuat perputaran uang untuk kebutuhan dapur menjadi sangat terhambat. Ia tidak bisa menunggu terlalu lama untuk mendapatkan uang tunai. Kebutuhan sehari-hari keluarga harus dipenuhi tanpa bisa ditunda lebih lama lagi.
Ia menyadari bahwa biaya perawatan padi jauh di atas kemampuannya. Pupuk dan obat-obatan untuk padi membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sementara itu, ia harus terus menghidupi keluarganya setiap hari tanpa henti. Kondisi keuangan memaksa ia untuk mencari alternatif tanaman yang lebih murah. Selain masalah biaya, faktor pengairan juga menjadi kendala yang besar. Menanam padi membutuhkan ketersediaan air yang stabil sepanjang masa pertumbuhan. Di lahan garapannya, akses air tidak semudah yang dibayangkan oleh orang lain. Ia harus pintar mengelola sumber daya air yang sangat terbatas.
Strategi Ekonomi 25 Hari untuk Dapur
Alasan utama ia memilih kangkung adalah masa panen yang pendek. Hanya butuh waktu dua puluh lima hari untuk bisa dipanen. Waktu sesingkat itu sangat berarti bagi kelangsungan dapur keluarganya. Ia menyebut sistem ini dengan istilah tanaman yang bisa ditunggu dapur. Kepastian panen yang cepat membuat aliran kas keluarga tetap terjaga. Dari setiap petak, ia bisa menghasilkan sekitar tujuh ratus lima puluh ribu. Jika dikalikan delapan petak, jumlahnya cukup untuk menopang hidup. Pendapatan ini jauh lebih pasti dibandingkan dengan hasil panen padi nantinya.
Setiap bulan, ia bisa melihat hasil dari keringat yang dikeluarkannya. Hal ini memberikan motivasi tambahan untuk terus bekerja di ladang. Ia tidak perlu berutang ke sana kemari untuk membeli beras. Hasil penjualan kangkung langsung digunakan untuk membeli kebutuhan pokok harian keluarganya. Ia merasa lebih tenang dengan siklus panen yang relatif sangat cepat. Risiko kegagalan panen kangkung juga jauh lebih kecil dibandingkan padi. Serangan hama pada kangkung lebih mudah diatasi dengan cara yang sederhana. Biaya produksi yang hemat membuat keuntungan bersihnya menjadi lebih terasa maksimal.
Ia tidak perlu menunggu sampai tiga bulan untuk memegang uang. Bagi rakyat kecil seperti dirinya, kecepatan perputaran uang adalah segalanya. Ia memprioritaskan perut keluarga di atas idealisme menanam padi sawah. Kangkung menjadi penyelamat ekonomi yang paling efektif di tengah kesulitan hidup. Pemasaran kangkung darat juga relatif sangat mudah di pasar lokal. Banyak pedagang sayur yang langsung mengambil hasil panen ke ladangnya. Ia tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi tambahan untuk menjual hasil bumi. Hal ini semakin menambah efisiensi dari usaha kecil yang sedang ia jalani.
Harapan di Balik Sederhananya Seikat Kangkung
Ia mengakui bahwa keinginan menanam padi tetap tersimpan di hati. Namun, ia tidak mau memaksakan kehendak yang melampaui kemampuan saat ini. Ia memilih untuk bersyukur dengan apa yang ada di depan mata. Kangkung darat adalah jalan keluar terbaik yang Tuhan berikan padanya. Jika suatu saat ada yang memberi kesempatan lahan sawah, ia siap. Ia memiliki kemampuan untuk mengolah padi jika fasilitasnya memang tersedia. Namun, hingga saat ini kesempatan emas itu belum kunjung datang menghampiri. Ia memilih untuk tetap produktif dengan lahan kering yang tersisa sekarang.
Ia tidak ingin bergantung pada bantuan pemerintah yang tidak pasti. Dengan menanam kangkung, ia merasa menjadi manusia yang benar-benar mandiri. Ia mengatur nasibnya sendiri di atas tanah lima tumbak itu. Keberhasilan setiap panen adalah bukti dari kegigihan serta doa yang tulus. Banyak orang yang memandang sebelah mata pada petani sayur kangkung. Namun bagi ia, kangkung adalah emas hijau yang menghidupi rumah. Ia tidak peduli dengan gengsi atau pendapat miring orang lain. Fokus utamanya hanyalah memastikan istri dan anak-anaknya bisa makan cukup.
Sore itu, ia terus meratakan tanah dengan sisa tenaga. Langit Cicalengka mulai berubah warna menjadi jingga yang sangat indah. Harapan baru tertanam bersama benih-benih kangkung di dalam tanah. Ia percaya bahwa setiap kerja keras pasti akan membuahkan hasil manis. Ia berpesan bahwa kita harus pandai melihat peluang yang ada. Jangan sampai keterbatasan membuat kita berhenti berusaha mencari nafkah halal. Apa pun tanamannya, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti membawa berkah. Itulah prinsip hidup sederhana yang selalu dipegang teguh oleh pria ini.
Kisah Pak Uyep adalah cermin bagi kita semua tentang adaptasi. Ia tidak meratapi nasib karena tidak memiliki sawah padi luas. Ia justru mencari celah agar tetap bisa bertahan di tengah himpitan. Kangkung darat menjadi saksi bisu perjuangan seorang ayah di Desa Narawita. Perjalanan saya di Kampung Bolang berakhir dengan sebuah pelajaran berharga. Saya melihat kekuatan besar di balik sosok petani kecil yang bersahaja. Pak Uyep telah mengajarkan makna sejati dari kerja keras dan rasa syukur. Dunianya mungkin sempit, namun semangatnya sangat luas tak bertepi.


