Budidaya Lobster Laut, Harapan Ekonomi Pesisir Sumbar

Posted on

Perjalanan Afrizal dalam Budidaya Lobster Laut

Di perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, suasana tenang terasa. Air laut yang jernih dan keramba jaring apung (KJA) yang rapi menjadi ciri khas tempat ini. Di salah satu KJA tersebut, seorang pria berkaos biru muda sedang memeriksa jaring-jaringnya. Dia adalah Afrizal, nelayan lokal yang kini dikenal sebagai pelopor budidaya lobster laut di wilayahnya.

Dengan hati-hati, Afrizal menarik jaring ke permukaan. Tampak beberapa ekor lobster laut jenis pasir bergerak lincah dengan warna cangkang kehijauan dan ukuran tubuh yang kokoh. Berat rata-rata mencapai 400 gram per ekor. “Alhamdulillah, pertumbuhannya bagus sekali. Sebentar lagi bisa panen,” ucapnya dengan senyum bangga.

Perjalanan Afrizal dalam budidaya laut dimulai sejak 2014 ketika dia mulai membudidayakan ikan kerapu menggunakan sistem keramba jaring apung. Dia belajar secara otodidak, mengandalkan pengalamannya sebagai nelayan yang sudah puluhan tahun memahami seluk-beluk kehidupan laut. Awalnya, usaha itu dijalankan dengan peralatan sederhana dan modal terbatas. Namun berkat ketekunan dan kemauannya belajar, budidaya ikan kerapu milik Afrizal berkembang pesat. Kini dia memiliki beberapa unit keramba yang diisi ikan kerapu berukuran konsumsi dan siap panen di akhir tahun 2025.

Keberhasilan itu membuat Afrizal semakin percaya diri untuk mencoba sesuatu yang baru. Kesempatan datang pada tahun 2024 ketika Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar memberikan program pelatihan budidaya lobster laut. Afrizal terpilih untuk mengikuti pelatihan di Sibolga, Sumatra Utara, daerah yang dikenal sebagai salah satu kawasan perikanan besar di Indonesia.

Di sana dia belajar banyak hal, mulai dari pemilihan benih, teknik pemberian pakan, sistem sirkulasi air hingga cara menjaga kualitas lingkungan laut agar lobster tumbuh optimal. “Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu, tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.

Awal Harapan Baru

Setelah kembali dari pelatihan, Afrizal langsung menerapkan ilmu yang diperolehnya. Pada Oktober 2024, dia menebar 700 ekor benih lobster laut jenis pasir di keramba miliknya di Sungai Bungin, yang dibantu dan didukung oleh DKP Sumbar. Benih-benih itu dirawat dengan disiplin, diberi pakan berupa potongan kecil kerang dan keong, serta ikan rucah dan rajungan kecil setiap hari. Kebersihan air juga dijaga agar tetap jernih.

Hasilnya tidak mengecewakan. Setelah setahun berjalan, pertumbuhan lobster sangat menggembirakan. Dari ratusan ekor yang ditebar, hampir semuanya bertahan hidup hingga kini. Bobot rata-rata mencapai lebih dari 400 gram per ekor, tanda bahwa lobster siap dipanen pada pertengahan Desember 2025. Tingkat kematiannya bila dihitung dari benih menjadi 400 gram saat ini juga sangat rendah yakni hanya 10% saja. “Kalau panen nanti berhasil, ini jadi tonggak sejarah baru bagi kami di Sungai Bungin,” sebutnya.

Afrizal menjelaskan bahwa jenis lobster pasir yang dibudidayakannya memiliki nilai jual tinggi. Di pasaran, harga lobster jenis ini bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp800.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas. Dengan hasil panen yang stabil, pendapatan dari budidaya lobster bisa jauh melampaui penghasilan dari menangkap ikan biasa.

Dukungan Pemerintah dan Semangat Gotong Royong

Keberhasilan Afrizal tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah. DKP Sumbar secara aktif memberikan bantuan teknis dan pendampingan kepada kelompok nelayan yang tertarik menekuni budidaya lobster laut. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ekonomi pesisir dan mengurangi ketergantungan terhadap tangkapan liar yang semakin menurun akibat perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan.

“Kami ingin nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkap. Budidaya seperti ini lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Reti Wafda.

Melihat hasil positif di lapangan, DKP berencana menambah jumlah benih lobster yang akan disebar di kawasan Sungai Bungin. Mereka juga tengah mendorong terbentuknya kelompok nelayan lainnya agar para nelayan bisa bekerja secara kolektif berbagi pengetahuan, peralatan, dan pemasaran hasil panen.

Afrizal sendiri sangat mendukung langkah itu. Dia menyadari, kesuksesan tidak akan berarti jika hanya dinikmati sendiri. “Saya ingin mengajak lebih banyak nelayan bergabung. Di sini masih ada sekitar 20 hektare hamparan laut yang bisa dikembangkan untuk budidaya lobster. Kalau semua bergerak bersama, Sungai Bungin bisa jadi sentra lobster laut di Sumbar,” tuturnya penuh semangat.

Menuju Desa Mandiri Pesisir

Afrizal memandang budidaya lobster bukan sekadar bisnis, tetapi juga sarana untuk membangun kemandirian masyarakat. Dia percaya, jika nelayan bisa mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan, kesejahteraan bukan lagi impian. “Kalau mau sukses, jangan sendiri-sendiri. Mari sukses bareng-bareng,” ujarnya sambil menatap hamparan laut di hadapannya.

Visi itu sejalan dengan semangat pemerintah daerah yang ingin menjadikan Sungai Bungin sebagai desa mandiri pesisir. Dengan potensi laut yang luas dan dukungan masyarakat yang kuat, daerah ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi biru berbasis masyarakat.

Harapan besar kini menggantung di atas laut biru Pesisir Selatan. Dari keramba sederhana milik Afrizal, semangat perubahan mulai tumbuh. Jika dulu nelayan hanya menunggu hasil tangkapan dari laut, kini mereka bisa menciptakan hasilnya sendiri.

Budidaya lobster laut di Sumbar bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang memberi harapan baru, bahwa laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga sumber kesejahteraan yang bisa dikelola bersama.

KKP Mendukung Penuh Budidaya Lobster dalam Negeri

Dalam situs resmi KKP, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan optimisme terhadap prospek besar perikanan budidaya nasional. “Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari 414 miliar dolar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miliar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” jelasnya.

Program modeling budidaya lobster telah dimulai sejak akhir 2024 dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) mencapai lebih dari 80% sebelum dipindahkan ke keramba jaring apung untuk tahap pembesaran. Hasilnya, kata sebagian besar lobster berhasil tumbuh dengan ukuran konsumsi ideal.

“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.

Menurutnya selain mampu meningkatkan nilai ekonomi, budidaya lobster laut juga mampu menekan angka penyelundupan benur atau benih lobster yang masih sering terjadi.

“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.