Di era digital yang semakin maju, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari berkomunikasi, berbelanja, bekerja, hingga bertransaksi keuangan, hampir semuanya dilakukan secara daring.
Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan berbagai risiko yang kerap luput dari perhatian pengguna, salah satunya adalah kejahatan siber dengan modus phishing.
Ancaman ini terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas digital masyarakat, terutama menjelang momen-momen tertentu seperti akhir tahun dan hari besar keagamaan.
Phishing merupakan salah satu bentuk penipuan digital yang paling sering terjadi. Modusnya sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat merugikan.
Pelaku biasanya mengirimkan tautan atau file berbahaya melalui email, pesan singkat, media sosial, atau aplikasi percakapan, dengan tujuan mencuri data pribadi korban.
Data yang diincar pun bukan data sembarangan, melainkan informasi sensitif seperti kata sandi, nomor rekening, hingga detail kartu kredit yang dapat digunakan untuk menguras saldo atau melakukan transaksi ilegal.
Modus Penipuan yang Kian Beragam dan Sulit Dibedakan
Salah satu alasan mengapa phishing begitu berbahaya adalah kemampuannya untuk menyamar sebagai pesan resmi. Pelaku kerap mengatasnamakan bank, platform e-commerce, atau bahkan instansi pemerintah.
Tautan yang dikirimkan akan mengarahkan korban ke situs palsu yang tampilannya dibuat sangat mirip dengan situs asli.
Tanpa kewaspadaan yang memadai, korban bisa dengan mudah tertipu dan memasukkan data pribadi mereka tanpa menyadari bahwa informasi tersebut langsung jatuh ke tangan pelaku kejahatan siber.
Dalam beberapa tahun terakhir, modus phishing juga semakin beragam dan kontekstual. Pelaku tidak lagi sekadar mengirim pesan acak, melainkan menyesuaikannya dengan momentum tertentu agar terlihat lebih meyakinkan.
Momen akhir tahun, misalnya, sering dimanfaatkan karena aktivitas belanja dan transaksi keuangan masyarakat meningkat signifikan. Situasi ini menciptakan celah besar bagi pelaku untuk melancarkan aksinya.
Imbauan BNI Menjelang Perayaan Natal
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali mengingatkan seluruh nasabahnya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital, termasuk penyebaran ucapan Selamat Natal palsu yang kerap marak menjelang perayaan Natal.
Imbauan ini disampaikan seiring meningkatnya laporan dan temuan kasus kejahatan siber yang memanfaatkan momen hari besar keagamaan sebagai kedok penipuan.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan bahwa pada periode akhir tahun, pelaku kejahatan siber biasanya lebih aktif melancarkan aksinya.
Mereka memanfaatkan suasana perayaan dan meningkatnya interaksi digital masyarakat untuk menyasar korban melalui pesan singkat, media sosial, maupun aplikasi percakapan.
“Menjelang Hari Raya Natal, kami mengingatkan nasabah untuk lebih waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan ucapan Selamat Natal, khususnya yang disertai tautan atau file mencurigakan,” ujar Okki dalam keterangan resminya.
Aplikasi Hadiah Palsu dan Ancaman Malware
Menurut Okki, salah satu modus yang kerap digunakan pelaku adalah pengiriman pesan ucapan Natal yang disertai file atau tautan berupa aplikasi hadiah palsu dengan format APK.
Aplikasi ini seolah-olah menawarkan hadiah menarik, promo khusus, atau ucapan interaktif yang menggoda rasa penasaran korban. Padahal, di balik tampilan tersebut, tersimpan malware yang dapat menyusup ke dalam perangkat pengguna.
Jika nasabah mengunduh dan memasang aplikasi tersebut, malware dapat bekerja secara diam-diam untuk merekam berbagai data penting.
Informasi perbankan, kredensial login, hingga akses ke aplikasi keuangan bisa dicuri tanpa disadari. Dalam kondisi tertentu, pelaku bahkan dapat mengambil alih kendali perangkat dan mengakses rekening korban secara langsung.
“Jika nasabah mengunduh aplikasi tersebut atau mengisi data pribadi di dalamnya, pelaku dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengakses rekening dan mencuri saldo nasabah,” jelas Okki.
Pentingnya Verifikasi dan Disiplin Digital
BNI mengimbau seluruh nasabah agar tidak sembarangan mengklik tautan atau mengunduh file dari sumber yang tidak dikenal.
Setiap pesan yang mengatasnamakan institusi resmi perlu diverifikasi terlebih dahulu melalui saluran komunikasi resmi. Langkah sederhana ini sering kali menjadi pembeda antara transaksi aman dan kerugian finansial yang serius.
Selain itu, nasabah juga diingatkan untuk tidak pernah membagikan data rahasia perbankan kepada siapa pun.
Informasi seperti nomor kartu, CVV atau CVC, PIN, serta One Time Password (OTP) bersifat sangat pribadi dan tidak pernah diminta oleh pihak bank melalui pesan singkat atau tautan.
Membagikan data tersebut, meskipun dengan alasan apa pun, sama saja membuka pintu bagi pelaku kejahatan siber.
Okki juga menekankan pentingnya menjaga keamanan perangkat yang digunakan untuk bertransaksi digital.
Penggunaan antivirus, pembaruan sistem secara berkala, serta kebiasaan mengunduh aplikasi hanya melalui platform resmi menjadi fondasi dasar keamanan digital yang tidak boleh diabaikan.
“Pastikan perangkat dilengkapi antivirus, sistem selalu diperbarui, dan gunakan hanya aplikasi resmi yang diunduh melalui platform terpercaya,” tambahnya.
Literasi Keamanan Digital sebagai Tanggung Jawab Bersama
Di tengah pesatnya transformasi digital, keamanan siber tidak lagi menjadi tanggung jawab institusi semata.
Pengguna juga memegang peran penting dalam menjaga keamanan data dan privasi mereka sendiri.
Rendahnya literasi keamanan digital sering kali menjadi celah utama yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menipu korban.
Kebiasaan mengklik tautan tanpa berpikir panjang, tergiur hadiah instan, atau mengabaikan tanda-tanda mencurigakan merupakan pola yang masih banyak ditemukan di masyarakat.
Padahal, satu klik yang keliru dapat berujung pada pencurian data, kerugian finansial, hingga dampak psikologis yang tidak ringan.
Jangan Asal Klik, Jaga Data dan Privasi
Okki pun mengajak seluruh nasabah untuk tetap cerdas dan waspada dalam bertransaksi digital. Menurutnya, kehati-hatian merupakan kunci utama dalam menjaga keamanan di dunia maya yang semakin kompleks.
“Jangan asal klik. Mari bersama menjaga keamanan data dan transaksi perbankan. Selamat Hari Raya Natal bagi yang merayakan,” tutup Okki.
Dengan meningkatkan kewaspadaan bersama, BNI berharap seluruh nasabah dapat terhindar dari risiko kejahatan siber dan tetap bertransaksi secara aman, nyaman, serta bertanggung jawab di tengah meningkatnya aktivitas digital menjelang akhir tahun.
Mengklik tautan sembarangan bukan lagi sekadar kesalahan kecil, melainkan tindakan berisiko tinggi yang dapat berakibat fatal bagi keamanan data dan privasi.
Di era digital, kehati-hatian bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan membangun kebiasaan digital yang aman dan kritis, masyarakat dapat melindungi diri dari ancaman phishing, malware, dan berbagai bentuk penipuan online.
Ingat, satu langkah waspada hari ini bisa menyelamatkan Anda dari kerugian besar di kemudian hari. Tetap waspada, dan jangan pernah klik link sembarangan.
Referensi:
https://www.bni.co.id/id-id/beranda/kabar-bni/berita/articleid/21456
https://ekonomi.republika.co.id/berita/t7s2hs472/waspadai-ucapan-natal-palsu-bni-imbau-nasabah-tak-sembarangan-klik-tautan
https://csirt.cirebonkota.go.id/posts/jangan-klik-link-sembarangan-lindungi-data-dan-privasi-anda
