Status Awas Cuaca di NTT 20-22 Januari 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status awas terhadap kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada periode 20 hingga 22 Januari 2026. Pada masa tersebut, BMKG memprakirakan adanya hujan sangat lebat hingga ekstrem serta angin kencang yang melanda wilayah NTT.
Sebelumnya, sistem sirkulasi siklonik sebelumnya terpantau berada di selatan Nusa Tenggara Barat dan berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S. Keberadaan sistem ini membentuk serta memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, termasuk Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Meskipun Bibit Siklon Tropis 96S telah melemah dan dinyatakan punah, dinamika atmosfer kembali menunjukkan pembentukan Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor. Sistem baru ini meningkatkan pola konvergensi dan mendukung peningkatan potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Selain pengaruh sistem siklonik tersebut, kondisi atmosfer juga dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia yang membawa suplai massa udara lembap dari Laut Cina Selatan. Massa udara ini bergerak melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa, disertai penguatan angin baratan di sekitar wilayah selatan Indonesia. Aliran massa udara lembap ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah terdampak.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif melintasi NTB, NTT, Laut Flores, Laut Timor, dan Samudera Hindia selatan NTT. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut. Selain itu, gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah.
Kombinasi Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Samudra Hindia sebelah barat Sumatera, pesisir barat Bengkulu hingga pesisir barat Lampung, dan perairan selatan NTB hingga selatan NTT. Hal ini berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.
Siklon Tropis Nokaen yang terdapat di Laut Filipina, utara Maluku Utara diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa dengan arah gerak ke Timur Laut. Pengaruh ini berpengaruh terhadap pembentukan pola angin terutama di wilayah utara Indonesia bagian Timur.
Selain itu, terdapat juga Bibit 97S yang pergerakannya diprakirakan persisten, dengan kecepatan angin maks 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa. Sistem ini mempengaruhi pola angin termasuk daerah konfluensi dan konvergensi, memanjang dari Pulau Timor, Laut Timor, Laut Arafuru, dan sekitar Bibit Siklon Tropis 97S tersebut. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.
Periode 20 – 22 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di beberapa wilayah seperti Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Bengkulu, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
- Awas (Hujan Sangat Lebat – Hujan Ekstrem): Nusa Tenggara Timur
- Angin Kencang: Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Tengah dan Papua Selatan.
Periode 23 – 26 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Selatan, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, dan aktivitas wisata.
Pantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi dari BMKG melalui www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg.


